
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Nathan yang bingung saat melihat kedatangan istrinya tersebut kedalam pertemuan tertutup itu.
Emilia meletakkan tasnya dana duduk disamping Nathan. "Memangnya tidak boleh, aku sengaja mengikuti mu tadi. Siapa tahu saja kamu keluar untuk menemui wanita lain..." Ucap Emilia sambil memantik korek untuk menyalakan rokoknya.
Melihat Emilia yang mau merokok Nathan langsung mengambil rokok tersebut dan meremasnya hingga rusak. "Mana mungkin aku melakukannya dan sejak kapan kamu merokok. Mulai sekarang berhentilah merokok, atau aku akan benar-benar mencari wanita lain..."
Mendengar ancaman Nathan terpaksa Emilia mengangguk patuh dan memberikan rokok premium miliknya kepada ketiga pria lain disana.
Harry, Kevin, dan Robby tentu saja senang mendapatkan rokok premium secara gratis lalu membaginya bertiga.
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan disini sampai memesan sebuah ruangan khusus. Apa kalian berencana menyewa wanita penghibur?" Tanya Emilia dengan nada menyelidik sambil memicingkan matanya.
Nathan langsung menyentil dahi Emilia hingga merah dan membuat istrinya tersebut merintih kesakitan. "Jangan bicara ngawur, kita berempat hanya ingin membahas bisnis..."
Emilia memegang dahinya yang terasa sakit sambil menatap Nathan dengan tatapan sembab. "Iya aku mengerti, tapi tidak perlu sampai menyentil dahiku. Ini sakit, apa kamu tidak kasihan dengan istrimu sendiri?"
Melihat Emilia yang bersikap manja seperti anak kecil dan tidak seperti biasanya yang terlihat angkuh serta elegan, membuat Harry, Kevin, dan Robby terkejut.
Ketiga pria itu seketika terpesona namun tidak dapat berbuat apa-apa karena kini dokter cantik tersebut adalah istri teman mereka sendiri.
Melihat Emilia yang merajuk tanpa pikir panjang Nathan langsung mengelus kepala istrinya dan kejadian itu disaksikan oleh tiga pria lajang di hadapan mereka.
Emilia seketika tidak jadi merajuk dan bertingkah seperti anak kucing sementara ketiga pria lajang itu hanya bisa terpaku.
"Jadi bisnis apa yang akan kalian buat?" Tanya Emilia dengan ekspresi dingin dan datar kepada tiga teman Nathan.
Perubahan ekspresi yang drastis Emilia membuat Harry, Kevin, dan Robby berkeringat bahkan sampai dibuat gugup saat melihat kejadian tersebut.
"Unm... Kamu bisa melihatnya sendiri, dokter..." Ucap Harry dengan ragu-ragu sambil memberikan dokumen diatas meja kepada Emilia.
Emilia kemudian membaca isi berkas tersebut dan merasa sangat tertarik, karena keempat pria itu berencana untuk membuat beberapa perusahan dalam bidang yang berbeda-beda.
Bidang yang dimaksud antara lain, kendaraan, pertambangan, elektronik, konstruksi, dan bank. Meski terdengar mustahil karena keterbatasan dana, dengan adanya Nathan sepertinya hal itu akan terasa mudah.
__ADS_1
"Aku ikut, dan bagi saham menjadi lima. Masing-masing dua puluh persen, bagaimana?" Ucap Emilia dengan ekspresi tenang, meski sebenarnya sangat antusias.
Harry, Kevin, dan Robby saling menatap satu sama lain sebelum berakhir melihat kearah Nathan dengan ekspresi bingung.
Mengerti dengan apa yang tengah dipikirkan ketiga pria itu, Nathan kemudian mengambil berkas yang sedang berada ditangan Emilia.
"Tidak boleh, ini urusan para lelaki..." Ucap Nathan dengan santai sambil menata berkas-berkas ditangannya.
Emilia terlihat kesal dan berdecih. "Disini orang yang paling tua adalah aku, seharusnya kalian para junior mendengarkanku. Dan jangan bandingkan antara pria dengan wanita, apa kalian lupa dengan kesetaraan gender?"
Harry, Kevin, dan Robby tidak bisa menyangkal perkataan Emilia. Ketiganya hanya bisa mengangguk seperti anak kucing yang terintimidasi.
Namun tidak dengan Nathan yang terlihat biasa-biasa saja saat melihat ekspresi Emilia yang seolah menjadi bos mereka disana.
"Ya terserah kamu orang tua dan aku tidak perduli dengan kesetaraan gender mu itu..." Balas Nathan yang tidak takut menghadapi debat bersama istrinya sendiri.
Merasa Nathan mengejeknya jelas membuat Emilia merasa kesal dan ingin melakukan sesuatu kepada pria itu. Namun nyalinya seketika menciut saat melihat senyuman jahat yang dibuat oleh Nathan.
Seakan tahu akibatnya jika melawan Nathan, Emilia memilih diam. Ia berdecih kesal dan menyilangkan kedua tangan sambil mengalihkan pandangannya.
"Lalu bagaimana denganmu dan mereka?" Tanya Emilia tanpa melihat kearah Nathan dan bersikeras dengan egonya.
"Aku akan pergi ke Berlin menemui seseorang untuk membuat kesepakatan bisnis... Harry akan ke Qatar, Kevin akan ke Kanada, dan Robby ke Indonesia. Sedangkan kamu bisa tetap disini untuk mengawasi..." Ucap Nathan yang diangguki oleh Harry, Kevin, dan Robby.
Mendengar pernyataan tersebut seketika itu juga Emilia terkejut. "Apa kalian berempat sudah gila, tempat-tempat itu sangat berbahaya!"
"Aku kan sudah bilang kalau ini pekerjaan para pria, bahaya ataupun tidak itu urusan belakangan. Lagipula rencananya tidak bisa diubah lagi..." Ucap Nathan.
"Tidak, aku tidak setuju. Kamu sudah berjanji untuk tidak meninggalkan ku apapun yang terjadi. Kalau kamu masih tetap bersikeras pergi ke Berlin, bawa aku juga!" Balas Emilia yang membuat Nathan hanya bisa menghela nafas dan mengangguk.
Meski sangat beresiko untuk membawa Emilia ke Berlin yang mana tempat itu sangat berbahaya bagi keduanya, Nathan yakin semua akan baik-baik saja.
Sedangkan Harry, Kevin, dan Robby juga pasti akan menghadapi kesulitan yang sama. Tetapi tidak ada pilihan lain kecuali tetap mencobanya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan dana nya? Uang yang dibutuhkan tidaklah sedikit!" Emilia kembali bertanya.
"Tenang saja, semuanya sudah diatur. Hanya perlu bersilat lidah saja cukup..." Balas Nathan dengan santai.
"Sekarang apa yang ingin kalian lakukan?" Tanya Emilia.
"Unm... Sebelum pergi kami akan kembali ke kampung untuk pulang dan kamu tahu ada hal yang ingin kami lakukan disana dokter..." Ucap Kevin sambil terkekeh.
Emilia menyipitkan matanya dan merasa bingung. "Memangnya apa yang ingin kalian lakukan?"
"Ketiga pria lajang itu ingin bertemu dengan kekasih mereka masing-masing disana dan menikah..." Nathan menyela pembicaraan.
"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Emilia.
"Tentu saja aku akan ikut, kamu juga..." Balas Nathan yang langsung diangguki oleh Emilia.
Setelah merasa urusan disana sudah beres, mereka kemudian pergi untuk bersiap-siap menuju kampung halaman ketiga pria itu yang ada di San Francisco.
Nathan sendiri cukup penasaran sebab ketiga pria itu mengatakan ia memiliki orang tua disana padahal jelas dia sebenarnya bukan berasal dari waktu saat ini.
Namun seketika Nathan ingat dengan butterfly efek yang pernah Echelon katakan kepadanya beberapa waktu lalu.
Sore harinya setelah mengemasi barang-barang, mereka langsung berangkat menuju San Francisco dengan menggunakan pesawat.
Nathan sendiri sudah membuat identitas palsu dengan bantuan orang dalam pastinya dan hal ini jelas sangat memudahkannya.
"Echelon apa kamu bisa mendengarkan ku, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu..." Tanya Nathan denga suara lirih agar tidak terdengar oleh Emilia yang kini sedang tidur disampingnya dalam penerbangan.
"Anda masih mengingat saya tuan?" Sindir Echelon yang selama ini telah diabaikan oleh Nathan.
"Apa-apaan dengan nada bicara mu itu. Sudahlah, aku mau kamu memberiku solusi bagaimana cara untuk membawa Emilia bersamaku..." Tanya Nathan.
"Sangat mustahil tuan, tubuhnya tidak akan kuat saat melakukan Loop..." Balas Echelon.
__ADS_1
"Apa tidak ada cara lain?" Tanya Nathan. Ia terlihat khawatir jika nantinya Emilia akan meninggal setelah kepergian nya karena faktor usia.
"Tidak ada tuan. Tetapi ada solusi agar wanita itu bisa terlihat bugar dan awet muda meski kelak akan bertemu dengan anda puluhan tahun kedepan...." Ucap Echelon.