
Dalam perjalanan menuju ke tempat yang dimaksud oleh Eimi, Nathan tampaknya tidak bisa menutupi rasa bosannya. Hal ini bisa terlihat jelas dari raut wajahnya yang terlihat kecut dan beberapa kali mengeluh.
Eimi yang sedang menyetir tentu saja terganggu, saat mendengar celotehan Nathan yang menurutnya sangat berisik dan juga menyebalkan.
"Bisakah kamu diam, aku akan menurunkan kamu jika tak segera tutup mulutmu itu!" Ucap Eimi dengan kesal sambil mencubit pinggang Nathan.
Mendapat cubitan dari Eimi tentu saja membuat Nathan merasa kesakitan dan membuat nya mengeluarkan erangan. "Awww! Memangnya apa yang salah, aku sudah sangat bosan duduk selama dua jam disini tanpa tujuan yang jelas. Kalau kamu mau menurunkan aku silahkan saja, setelah itu aku akan pergi kembali ke negara ku!"
Rasa kesal Eimi menjadi semakin besar sebab Nathan justru mengancamnya balik, yang jelas hal itu akan membuat semua rencananya untuk menyingkirkan Tanaka akan berantakan.
Eimi langsung saja melirik kearah Nathan dengan tajam dan membuat pria tersebut justru mendekatkan wajahnya sambil tersenyum tipis.
"Baiklah aku akan diam, tapi biarkan untuk merokok bagaimana?" Nathan mencoba membuat penawaran kepada Eimi.
Sebenarnya Nathan bisa saja langsung pergi dan menyelesaikan urusannya di Jepang lalu pulang. Tetapi ia sendiri ingin bermain-main lebih lama lagi disana, karena tertarik dengan balapan yang dimaksud oleh Tanaka.
"Bukankah aku sudah bilang jangan curi udaraku? Apa kamu tahu bau nafas perokok itu sangat bau?" Eimi berdecih kesal dan memalingkan pandangannya dari Nathan.
Tepat saat mobil mereka berhenti di lampu merah, Nathan terlihat masih memperhatikan wajah cantik Eimi dari dekat yang membuat wanita itu menjadi tidak nyaman.
"Nafas perokok tidak terlalu bau, apa kamu mau mencobanya?" Tanya Nathan yang tampaknya memiliki rencana licik di kepalanya saat ini kepada Eimi.
Eimi menggelengkan kepalanya dan tampak fokus melihat kearah lampu merah yang masih menyala, mengabaikan Nathan yang masih saja mantapnya.
Tetapi tiba-tiba Nathan menarik salah satu lengan Eimi dan memegang wajah cantiknya. Tanpa permisi dan persetujuan terlebih dahulu, Nathan langsung melahap bibir ceri milik Eimi.
Mata Eimi langsung membelalak lebar saat ia dicium oleh Nathan, yang mana itu adalah ciuman pertamanya. Eimi seketika membatu tidak bisa menggerakkan badannya dan hanya dapat membiarkan permainan lidah dari Nathan.
__ADS_1
Namun ciuman tersebut tak berselang lama setelah lampu berubah menjadi hijau dan bunyi kelakson kendaraan lain langsung memecahkan suasana hening didalam mobil.
Eimi seketika tersadar dan mendorong Nathan menjauh darinya lalu menyeka mulutnya yang habis dilahap oleh pria buaya tersebut.
"Sialan apa yang kamu lakukan, apa kamu mau mati hah!?" Tanya Eimi yang terlihat gugup dan kembali fokus menyetir mobilnya.
"Apa ada yang salah? Bukannya kamu menikmatinya, lihat wajahmu langsung menjadi merah seperti tomat!" Balas Nathan sambil tertawa.
Dengan kesal Eimi langsung memukul paha Nathan dengan sekuat tenaga berulang kali. Meski kelihatannya kesal, tetapi begitulah wanita suka menutupi perasaan yang sebenarnya ia rasakan.
"Baik-baik aku minta maaf, jangan pukul aku lagi..." Ucap Nathan yang mulai merasa tidak enak, saat melihat Eimi mau menangis.
"Sialan... Sialan.. Sialan... Dasar pria berengsek, aku sudah menyimpan ciuman pertamaku selama sembilan belas tahun untuk suamiku dimasa depan dan kamu seenaknya saja mengambilnya dariku. Dasar tidak tahu malu!" Kata Eimi yang terlihat sedih dan terus memukuli Nathan.
Nathan tampak tidak bisa berkata apa-apa lagi dan membiarkan Eimi memukulinya, karena sadar ini semua adalah salahnya yang seenak jidat mengambil ciuman pertama milik seorang gadis berusia 19 tahun.
Untuk melupakan rasa kesalnya, Eimi lalu menepikan mobilnya dipinggir jalan lalu naik kepangkuan Nathan dan memukuli tubuh pria tersebut dengan kesal sambil menangis.
Terlihat Nathan hanya bisa menutupi wajahnya dari pukulan yang diluncurkan oleh Eimi kepadanya dan tidak mengatakan apapun.
Nathan yang tidak nyaman dengan suasana tersebut lalu memutuskan buka mulut, meski ia tahu kalau hal itu akan membuatnya rugi.
"Oke cukup, aku akan menuruti satu permintaan mu. Jadi berhentilah..." Ucap Nathan yang jelas hal ini sangat beresiko untuknya sendiri.
Mendengar perkataan Nathan barusan, Eimi tersenyum tipis dan berhenti menangis tapi tetap melanjutkan drama yang tengah dibuatnya, meski hal ini tidak direncanakan sebelumnya oleh dirinya sendiri.
"Apa kamu serius?" Tanya Eimi memastikan.
__ADS_1
Nathan menggigit bibir bagian bawahnya dan menghela nafas panjang. "Ya aku serius. Kamu boleh minta apapun dariku, seperti uang, tas, atau semacamnya..."
"Tidak, aku tak memerlukan uang sedikitpun darimu dan aku akan mengatakan permintaan ku lain waktu..." Eimi tersenyum lebar dan kembali duduk di kursi kemudi lalu melanjutkan perjalanan mereka.
Menyadari kalau semua ini adalah akal-akalan dari Eimi, sudut bibir Nathan berkedut dan ia sudah menebak kalau semua ini hanyalah sandiwara gadis tersebut.
"Apa kamu menipuku?" Tanya Nathan.
Eimi menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Tidak juga, aku serius dengan semua perkataanku tadi. Aku hanya menambahkan sedikit bumbu drama saja..."
Nathan berdecih kesal dan tak menyangka akan diperas oleh seorang gadis berusia 19 tahun yang memiliki pemikiran licik hampir sama sepertinya.
Tetapi hal itu sebenarnya tidak membuat Nathan merasa kesal, justru diam-diam ia tersenyum saat melihat Eimi yang sekarang menertawakan nya.
Tanpa Eimi sadari Nathan tampaknya dapat sedikit memahami kalau ia memiliki masalah keluarga, tetapi pria tersebut tidak mau ikut campur lebih jauh lagi.
Beberapa menit kemudian Eimi dan Nathan telah sampai di sebuah tempat yang tampaknya adalah bengkel mobil. Hal itu terlihat dengan banyaknya mobil JDM yang terparkir di area tersebut.
Seorang pria yang melihat kedatangan Eimi lalu menyapanya dan terlihat sangat akrab dengan gadis cantik tersebut seperti seorang saudara.
Disisi lain Nathan justru memilih untuk melihat mobil-mobil JDM yang terparkir, mengabaikan Eimi yang tengah mengobrol dengan temannya.
Kaito pria berusia 28 tahun yang melihat Eimi membawa seorang pria ketempat mereka menjadi penasaran, sebab sekali pun ia tak pernah melihat Eimi membawa seorang pria kesana bersamanya.
"Psstttt... Hei siapa pria tampan itu, apa dia pacar barumu?" Bisik Kaito di telinga Eimi.
Ditanya seperti itu jelas membuat Eimi merasa malu dan raut wajahnya langsung berubah menjadi kesal. "Apa kau sudah gila hah!? Tentu saja bukan, kami saja baru bertemu semalam!" Balas Eimi sambil memukul perut Kaito.
__ADS_1
"Hahaha... Maaf... Tapi kalau memang dia pacar barumu, bagaimana dengan Tanaka?" Tanya Kaito yang tampaknya mengetahui hubungan Eimi dan Tanaka, sebab gadis tersebut beberapa kali cerita tentang Tanaka kepadanya.
"Jangan sebut nama pria sialan itu lagi didepanku, kami tak memiliki hubungan lagi!" Balas Eimi dengan kesal sebelum masuk kedalam bengkel menemui para pekerja disana yang ia sudah anggap sebagai keluarganya sendiri.