Echelon System

Echelon System
Kesal


__ADS_3

"Apa kamu yakin dengan wanita itu, bagaimana dengan dokter cantik yang berduaan dikamar bersamamu sebelumnya?" Tanya Robby.


"Mhm... Aku tidak yakin, tapi sebenarnya aku sudah memiliki calon istri dan seorang kekasih..." Balas Nathan.


Otak Kevin dan Robby seketika ngelag mendengarkan perkataan Nathan barusan. Pria itu mengatakan sudah memiliki calon istri dan seorang kekasih.


"Tunggu... Calon istri dan seorang kekasih? Apa kamu memiliki hubungan dengan dua wanita sekaligus? Bagaimana bisa?" Tanya Kevin yang masih terkejut.


"Ya begitu... Calon istri ku tak mempermasalahkan jika aku memiliki seorang kekasih. Mungkin ini sudah takdir seorang pria tampan seperti ku..." Balas Nathan sambil terkekeh.


"Huh? Jadi berapa banyak wanita yang ingin kamu dapatkan, sialan!" Tanya Robby yang merasa iri dengan temannya.


"Mhm... Sebenarnya aku belum membicarakan hal ini dengan calon istri ku dan juga kekasih ku, tetapi mungkin tiga puluh wanita." Balas Nathan sambil tersenyum membayangkan kehidupan dikelilingi banyak wanita.


Melihat senyuman aneh dari Nathan membuat kedua temannya tersebut menjadi terdiam sambil mengamatinya dengan tatapan bodoh.


"Jadi siapa calon istri mu itu sampai mempertahankan untuk memiliki seorang kekasih?" Tanya Robby.


"Kalian sudah sering bertemu dengannya dan dia sepenuhnya tidak suka menunjukkan hubungan kami didepan umum..." Balas Nathan.


"Benar juga... Bagaimana dengan kalian?" Tanya Nathan.


"Setelah kembali nanti mungkin aku juga akan menikah begitupula dengan Robby dan Harry..." Jawab Kevin.


Nathan mengangguk. "Baguslah, tapi kalau kalian nanti kesulitan memiliki anak boleh menghubungiku. Aku akan membantu dengan istri kalian..."


Secara spontan Kevin dan Robby menodongkan pisau makan mereka kearah Nathan sambil menatap pria tersebut dengan tajam.


"Sialan, apa kamu berniat untuk bermain dengan istri temanmu sendiri huh!?" Tanya Kevin yang urat didahinya terlihat dengan jelas karena merasa kesal.


"Siapa yang ingin bermain, aku hanya menawarkan jasa saja..." Balas Nathan sambil terkekeh. "Aku hanya bercanda saja, kalian jangan terlalu serius seperti itu."


Kevin dan Robby akhirnya menurunkan pisu mereka sambil merasa waspada jika kelak istri mereka akan diambil paksa oleh Nathan. Hal itu bisa saja terjadi, yang membuat Kevin dan Robby berpikir untuk tidak mempertemukan istri mereka masing-masing dengan Nathan.


Tak berselang lama Emilia yang sudah terbakar api cemburu langsung menghampiri Nathan dan bertingkah dingin seoalh seperti guru yang ingin menghukum muridanya.

__ADS_1


"Tuan Nathan, bisakah kamu datang keruangan ku. Ada yang ingin aku bicarakan, aku tunggu disana..." Ucap Emilia sebelum pergi.


Kevin dan Robby yang melihat kejadian itu hanya bisa heran begitupun dengan Nathan karena tidak mengerti tentang sikap Emilia barusan.


Nathan yang penasaran pun kemudian pergi menyusul Emilia sekaligus ingin membicarakan masalah antara putri dan ayah tersebut.


Setibanya diruangan kerja Emilia, Nathan melihat wanita itu sudah menunggunya didalam sambil duduk disofa. Ia kemudian berjalan mendekat dan berdiri dihadapn wanita itu.


Klakkk


Suara pintu terkenci terdengar dan membuat Nathan merasa bingung. "Seseorang sepertinya telah mengunci pintu dari luar, aku akan mengeceknya..."


"Tidak perlu, duduklah..." Emilia menghentikan niat Nathan yang ingin mengecek orang yang mengunci mereka dari luar.


Meski merasa bingung akhirnya Nathan duduk berhadapan dengan Emilia dan seketika keheningan terjadi diruangan tersebut.


"Apa seleramu adalah wanita yang berdada datar seperti koki dikantin itu?" Tanya Emilia dengan dingin dan menekan setiap perkataannya.


Kening Nathan mengerut dan merasa curiga dengan Emilia. "Apa kamu memata-mataiku. Kamu terlihat seperti seorang wanita yang sedang cemburu, dokter..." Nathan tersenyum tipis.


Emilia menggebrak meja di hadapan nya dan mencodongkan tubuhnya kearah Nathan. "Ya, aku memang memang diam-diam memata-matamimu dan cemburu, jangan memanggilku dokter lagi kita sudah berjanji untuk menikah setelah kembali bukan!"


"Dan apa maksudnya kamu ingin memiliki tiga puluh wanita hah!?" Emilia tampak kesal dengan sikap Nathan.


"Bukannya kamu sendiri yang mengijinkan ku untuk memiliki seorang kekasih?" Tanya Nathan dengan polos.


"Ya, sebagai calon istrimu aku memang mengijinkannya. Tapi tidak dengan tiga puluh wanita juga!" Ucap Emilia.


"Mhm... Dua lima bagaimana? Kamu tidak akan kesulitan untuk mengurus anak..." Nathan berusaha membuat penawaran.


Emilia menggembungkan pipinya dan langsung menggelengkan kepalanya. Ia jelas sangat menolak jika Nathan memiliki wanita sebanyak itu.


"Jadi maumu apa, dua lima tidak boleh. Lagian apa-apaan dengan sikap mu yang acuh saat kita berada di kantin..." Ucap Nathan.


"Oh... Jadi kamu tidak menyukai nya" Tanya Emilia yang tidak dijawab oleh Nathan.

__ADS_1


Melihat Nathan yang diam-diam marah karena sifat acuhnya ketika ditempat umum, Emilia terkekeh dan merasa senang saat melihatnya.


Sebelumnya mereka berdua telah membuat janji saat berada dikamar Nathan untuk memiliki hubungan serius agar membuktikan kepada satu sama lain jika tidak main-main.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepadamu. Ini tentang hubungan mu dengan ayahmu..." Ucap Nathan.


"Aku mengerti dengan apa yang kamu maksud. Tapi tetap saja aku masih kesal dengan nya." Emilia menyilangkan kedua tangannya dan terlihat cemberut.


"Kamu harus menghilangkan egomu atau aku akan memberi sedikit pelajaran kepadamu..." Ucap Nathan.


Emilia yang mendengarnya lalu tersenyum menantang Nathan. "Pelajaran apa yang kamu maksud, apa kamu akan melanjutkan kagiatan kita yang tertunda?"


Setelah mengucapkan hal itu Emilia kemudian duduk dipangkuan Nathan dan menatap wajah pria yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.


"Lakukan sesukamu kalau berani... " Emilia berbisik menantang tepat disebelah telinga milik Nathan dengan nada menggoda.


Menghadapi seorang dokter cantik yang memakai stocking hitam membuat tembok besar didalam tubuh Nathan terguncang dan sudah tidak kuat lagi menahan tekanan.


Dada melon dan paha besar sudah cukup untuk membuat seorang Nathan takluk. Tetapi karena egonya yang tinggi Nathan tetap bertahan meski imannya hanya setipis tisu.


Melihat raut wajah tanpa ekspresi yang ditunjukkan oleh Nathan, Emilia menjadi sedikit kecewa namun saat merasakan detak jantung pria itu ia paham bahwa Nathan sedang menahan diri.


"Apa kamu belum pernah tidur dengan seorang wanita sebelum nya?" Tanya Emilia.


"Tentu saja aku pernah. Aku sudah tidur dengan dua wanita dan mengambil momen pertama kali mereka..." Balas Nathan.


"Siapa saja?" Emilia berusaha tersenyum meski hatinya sangat terguncang dan cemburu.


"Yang pertama mantan kekasih ku, walaupun pada akhirnya putus karena dia selingkuh. Dan kedua kekasihku yang sekarang sulit ditemui..." Ucap Nathan.


"Kenapa kamu tampak biasa-biasa saja saat membicarakan mantanmu yang berselingkuh?" Tanya Emilia yang heran dengan sikap Nathan.


"Memangnya aku harus melakukan apa lagi, dia menyukai orang lain meski standar nya dibawah ku. Tetapi sebenarnya aku menjadi kekasihnya karena kasihan saja..." Balas Nathan.


"Kasihan? Lalu bagaimana dengan kekasihmu sekarang dan bagaimana denganku?" Tanya Emilia.

__ADS_1


"Aku menyukai kalian, itu saja. Ada hal lain yang tidak bisa aku katakan karena akan terdengar menggelikan..." Balas Nathan.


__ADS_2