
Di suatu ruangan terlihat petinggi Armada laut Kekaisaran Jepang tengah berdiskusi untuk membahas pertempuran yang terjadi di laut Koral tempo hari.
Isoroku Yamamoto yang mendengar kekalahan dari salah satu perwiranya yaitu Shigeyoshi Inoue harus dibuat pusing sebab tak sedikit korban berjatuhan serta senjata yang lenyap.
"Bagaimana, apa kamu sudah menemukan kapal-kapal pihak Amerika diport Moresby. Inoue?" Tanya Admiral Isoroku Yamamoto.
Bagaimana Isoroku Yamamoto tidak pusing saat ini, invasi yang sudah direncanakan untuk menduduki seluruh wilayah Asia Pasifik harus tertunda akibat kejutan dari pihak Sekutu.
Sebenarnya ia sudah memberi tahu kepada petinggi militer yang lain untuk tidak menyerang Amerika, namun karena terus didesak oleh Angkatan Darat terpaksa ia menyerang Pearl Harbor saat itu.
Meski sudah mengetahui kekuatan dan teknologi Kekaisaran Jepang yang tak sebanding dengan pihak Amerika, tetapi karena sudah terlanjur ia hanya bisa maju atau mati.
Shigeyoshi Inoue yang beberapa hari lalu sudah mengirim sejumlah kapal penjelajah dan kapal selam atas perintah Isoroku Yamamoto, tampak menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak Pak, kita sudah terlambat dan mereka telah pergi dari sana..." Jawab Shigeyoshi Inoue yang tampak putus asa dan siap menerima hukuman.
Isoroku Yamamoto jelas merasa kesal dan berniat untuk merencanakan penyerangan kembali yang kelak akan dikenal sebagai pertempuran Midway.
"Tolong ceritakan kepadaku, bagaimana bisa Armada yang kamu pimpin bisa kalah sebelumnya. Bukankah jumlah kita lebih banyak?" Isoroku Yamamoto terlihat penasaran.
Shigeyoshi Inoue kemudian meminta bawahannya untuk memanggil kameran yang merekam kejadian tempo hari lalu. Setelah kameramen datang, rekaman video kejadian paska perang koral diperlihatkan kepada Isoroku Yamamoto.
Isoroku Yamamoto dan para perwira yang lain jelas merasa terkejut dengan penampakan benda mirip manusia. Bukan terkejut dari bentuk makhluk tersebut, mereka terkejut dengan serangan yang dilakukan olehnya dimana hanya dalam sekali serang banyak kapal-kapal Jepang yang langsung hancur dengan mudah.
"Saya berpikir pihak Amerika menyembunyikan senjata pemusnahan seperti ini dan jika kita tidak menemukannya pasti akan menyulitkan saat pertempuran berikutnya..." Ucap Shigeyoshi Inoue.
Isoroku Yamamoto mengangguk dan terus mengulangi rekaman benda aneh yang mereka yakini sebagai senjata rahasia milik pihak Amerika Serikat.
*******
Disisi lain empat orang pria tengah sarapan bersama dalam satu meja. Mereka tidak lain adalah Harry, Kevin, Robby, dan juga Nathan yang tengah merayakan kesembuhan Harry.
__ADS_1
"Apa yang akan kalian lakukan setelah perang nanti?" Nathan bertanya ditengah jalannya sarapan pagi mereka berempat.
"Membuat bar mungkin, aku sudah merencanakannya sejak lama..." Balas Kevin.
"Aku akan meneruskan peternakan orang tuaku..." Ucap Harry.
"Kalau aku akan membuat restoran saja. Bagaimana denganmu Nathan?" Tanya Robby.
"Membangun pertambangan minyak. Bagaimana jika kalian ikut bekerja denganku saja. Bisnis ini akan sangat menguntungkan dimasa depan!" Nathan memberi penawaran kepada tiga pria tersebut.
Harry, Kevin, dan Robby saling menatap. Jelas mereka merasa pesimis dengan tawaran yang dibuat oleh Nathan. Ketiganya tahu jika bisnis minyak akan membutuhkan dana yang sangat sedikit dan hasilnya juga tidak begitu pasti.
Alat mahal ditambah lokasi yang sulit, membuat mereka harus memikirkan kembali tawaran dari Nathan. Uang jelas menjadi patokan dalam kesepakatan ini dan mereka tentu akan kesulitan untuk mendapatkan dana.
"Kamu tahu bukan kalau kita ini hanya seorang petani. Meski sudah menjual tanah dan mengambil tabungan sekali pun pasti tidak akan cukup untuk membeli alat bor..." Ucap Harry yang diangguki oleh Kevin dan Robby.
"Jangan lupakan tentang lokasi nya yang sangat sulit dan dimana kita akan menjual minyak itu nantinya..." Kevin menimpali.
Meski tidak terlalu yakin dengan perkataan Nathan, namun sebagai sahabat dari lahir Harry, Kevin, dan Robby pada akhirnya setuju untuk bergabung.
Saat ketiga pria itu akan bertanya kepada Nathan tentang kenalan yang dimaksud, Emilia tiba-tiba datang sambil membawa nampan berisi makanan.
"Bolehkah aku bergabung dengan kalian?" Tanya Emilia.
Harry, Kevin, dan Robby sontak saja terkejut melihat kedatangan Emilia yang tiba-tiba ingin bergabung untuk sarapan bersama mereka. Namun tidak dengan Nathan yang terlihat biasa saja.
"Maaf dokter, tapi meja sudah penuh dan sebaiknya anda mencari tempat yang lain saja." Ucap Nathan tanpa melirik Emilia dan fokus dengan makanannya.
Melihat sikap Nathan yang acuh kepadanya jelas membuat sudut bibir Emilia berkedut. "Apa kamu sudah mulai rabun tuan Nathan. Meja ini jelas panjang dan masih banyak ruang untuk ku..."
Menyaksikan teman mereka yang tidak mengijinkan idola para Marinir untuk bergabung, membuat ketiga pria itu meresa kesal dan langsung mempersilahkan Emilia untuk bergabung.
__ADS_1
"Eh, jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh perjaka ini. Silahkan duduk ditempat yang Anda suka, dokter..." Harry terlihat tersenyum ramah dan dari tatapan matanya sudah terlihat jelas motifnya.
Tak hanya Harry, Kevin dan Robby juga memiliki tatapan mencurigakan saat melihat keindahan tepat berada di dekat mereka bahkan sangat jelas lekukan serta tonjolan tubuhnya yang menggoda.
Emilia mengangguk dan kemudian duduk disebelah Nathan yang membuat ketiga pria tersebut merasa cemburu serta diasingkan.
"Kenapa kamu duduk disebelah ku, bebas bukan berarti kamu boleh didekat ku. Dokter..." Nathan menekankan kalimat terakhirnya seolah ia tidak menyukai kehadiran Emilia.
"Memangnya ini kapal mu, tidak bukan? Lagian mau aku duduk dimana saja dan dengan pria mana itu juga bukan masalahmu..." Balas Emilia.
"Baik terserah dengan mu saja, lagipula aku tidak memiliki hak untuk melarangmu..." Ucap Nathan yang seketika membuat Emilia tersenyum tipis.
"Oh ya Kevin, wanita mana yang ingin kamu kenalkan denganku kemarin. Aku ingin mengajaknya berkencan..." Tanya Nathan yang sontak memancing emosi Emilia.
Kevin yang teringat dengan janjinya waktu itu kepada Nathan kemudian mengeluarkan foto seorang wanita dan menunjukkan nya kepada pria tersebut. "Ini, aku sudah menemukan yang sesuai dengan seleramu!"
Nathan mengangguk dan mengelus dagunya saat melihat foto wanita tersebut. "Heh... Tidak salah aku meminta bantuan mu, wanita ini benar-benar cantik..."
Mendengar pujian yang diberikan oleh Nathan, Kevin dan Robby merasa lega karena dengan ini masalah diantara mereka kemarin bisa selesai.
"Memangnya apa yang akan kamu lakukan dengan wanita itu nanti setelah bertemu?" Harry tampak penasaran saat melihat Nathan tersenyum memandangi foto itu.
"Tentu saja dinner dan kalau cocok aku akan menikahinya..." Balas Nathan dengan santai.
Emilia yang mendengar perkataan Nathan langsung cemburu dan merasa sangat kesal. Ia kemudian menginjak kaki milik pria tersebut sambil menekannya.
'Dasar, apa yang kamu katakan hah!? Cantik? Dinner? Menikah? Kamu bahkan tidak pernah mengatakan kalau aku cantik atau mengajakku untuk makan malam romantis berdua. Sekarang kamu juga akan menikahinya? Dasar lelaki sialan!' Emilia menggurutu di dalam hatinya.
Nathan tersenyum tipis dan seolah merasa puas melihat reaksi yang diberikan oleh Emilia. Ia sengaja melakukannya karena tidak suka saat melihat lekuk tubuh wanitanya dilirik oleh pria lain dan berniat membuat Emilia kesal hingga pergi dari sana.
Harry, Kevin, dan Robby mengangguk lalu memberi tips kepada Nathan jika bertemu dengan wanita tersebut sebab paham jika pria itu belum pernah berkencan sebelum nya.
__ADS_1