
Begitu Nathan berhasil membuat lubang ditembok, ia cukup terkejut saat menemukan sebuah ruangan yang sangat luas dan jauh diluar pikiran nya.
Senyuman lebar tersirat diwajah Nathan saat menemukan ribuan tumpukan batangan emas, berlian, dan berbagai macam harta yang sangat berharga disana.
Untuk membuktikan semua harta tersebut sungguhan, Nathan mengambil sebatang emas seberat 1000 gram dan ketika dilihat ternyata emas itu asli yang membuatnya cukup senang, sebab harta yang selama ini semua orang cari ternyata terkubur didalam bunker tersebut.
Dengan senyuman tipis diwajahnya, Nathan mulai menyusuri tumpukan dan gunungan harta jarahan tersebut sampai langkahnya terhenti saat melihat sebuah kapal selam.
Nathan kemudian masuk kedalam kapal selam sepanjang 70 meter tersebut dan menemukan banyak emas serta harta berharga lainnya ada didalam sana.
Setelah puas melihat isi yang ada didalam kapal selam Nathan lalu keluar dan memandangi semua harta berharga, yang dimasa depan tak pernah dijamah sekalipun oleh seseorang karena hanya dianggap sebagai dongeng belaka.
Nathan lalu duduk ditumpukan koin emas dan permata sambil meminum Rum tahun 1892 yang ada didalam peti penyimpanan di dekatnya.
"Enam ribu ton sepertinya hanya omong kosong belaka, ini semua jauh lebih banyak dari apa yang pernah mereka ceritakan di media..." Gumam Nathan sambil menenggak Rum ditangan nya.
Tumpukan dan gunungan harta yang Nathan lihat membuatnya kini berpikir kembali dengan rencana yang ia buat sebelumnya. "Apa aku harus membuat bank. Dengan semua harta ini sepertinya bisa saja aku membuatnya..."
Nathan tertawa dan menggelengkan kepalanya sebab berpikir kalau ambisinya terlalu besar untuk orang sepertinya. "Apa yang sedang kamu pikirkan, Nathan Xander..." Gumam Nathan sambil menertawakan dirinya sendiri.
Yang tidak Nathan ketahui dari pemikiran gilanya itu, kelak akan ada sebuah organisasi keuangan terbesar di dunia dengan anggota lebih dari 147 negara.
Sebuah alat berbentuk kubus lalu Nathan keluarkan dari balik pakaian dan langsung memancarkan sinar terang yang memenuhi ruangan besar tersebut.
Beberapa saat kemudian tempat itu seketika kosong begitu saja dan hanya meninggalkan sebuah patung emas berbentuk Buddha berukuran 5cm, yang lalu Nathan ambil dan simpan didalam sakunya bersama kubus miliknya sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut.
Saat keluar Nathan langsung mengembalikan tembok yang telah ia hancurkan seperti semula. Namun saat hendak pergi suara Yamashita yang baru saja sadar langsung membuatnya berhenti.
"Kenapa kamu tidak membunuhku? Aku tidak perlu belas kasihan darimu!" Ucap Yamashita dengan suara serak sambil memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
__ADS_1
Nathan tersenyum tipis dan membalas Yamashita tanpa menoleh kebelakang. "Aku tidak mengasihanimu dan juga istrimu. Alasan aku tidak membunuhmu karena tak lama lagi kalian berdua juga akan mati..."
Usai mengatakan hal tersebut Nathan kemudian melenggang pergi meninggalkan Yamashita yang kembali tak sadarkan diri disana bersama dengan istrinya.
*******
Diluar bunker, Harry, Kevin, Robby, dan beberapa tahanan yang sebelumnya ditawan kini tengah berjaga sambil memegang senapan jika saja sesuatu yang buruk terjadi didalam.
"Apa pria dengan kostum itu temanmu, nak?" Tanya seorang prajurit yang tampaknya memiliki pangkat militer cukup tinggi jika dilihat dari auranya.
Harry hanya mengangguk pelan sementara Kevin dan Robby tidak bergeming sedikitpun karena sangat waspada jika saja seseorang selain Nathan yang keluar dari bunker.
Tak lama kemudian terlihat wujud seorang pria keluar dari dalam bunker yang membuat semua orang segera bersiap menarik pelatuk senapan mereka jika sosok itu adalah musuh.
Namun setelah sosok tersebut keluar, hanya ada seorang pemuda yang dengan santai berjalan keluar sambil memegang botol Rum ditangannya.
"Apa kamu baik-baik saja Nathan?" Tanya Harry saat melihat pakaian Nathan yang dipenuhi noda darah.
"Tentu saja aku baik-baik saja seperti yang kalian lihat..." Balas Nathan dengan heran sambil meminum Rum ditangannya.
Seorang tentara yang sempat berbincang dengan Harry kemudian berjalan menghampiri mereka bersama beberapa tentara lain yang sepertinya adalah anak buahnya.
"Apakah ini teman yang kamu maksud itu, tuan Harry?" Tanya tentara tersebut sambil memasang senyuman ramahnya.
"Benar Letnan Arthur, dia adalah Nathan..." Ucap Harry yang membuat Arthur dan Nathan berjabat tangan saling memperkenalkan diri.
Saat melihat wajah Nathan, pria berusia 54 tahun itu tampaknya merasa tidak asing hingga akhirnya dia mengingat sosok prajurit yang pernah ada di Headline koran.
"Bukannya kamu Nathan, pilot yang beritanya masuk dalam koran itu. Kalau tidak salah bukannya kamu sudah tewas?" Tanya Letnan Arthur yang membuat Nathan sedikit terkejut.
__ADS_1
"Apakah saya setenar itu. Ya sebenarnya saya hanya memalsukan kematian saja karena suatu alasan..." Balas Nathan sambil tertawa.
"Memalukan kematian untuk alsan bahwa kamu adalah sosok misterius yang membantu diperang Koral waktu itu bukan?" Sahut Letnan Arthur menyelidik.
Nathan meminum Rum miliknya dan mengangguk membenarkan perkataan dari Letnan Arthur yang membuat semua tahanan dari kalangan tentara dibuat terkejut.
"Aku minta kerja sama kalian semua untuk tidak menyebarkan hal ini. Kalian mengerti yang aku maksud bukan?" Ucap Nathan sambil memasang raut wajah dingin sebelum tersenyum kembali.
Letnan Arthur yang melihat ekspresi dingin Nathan sebelumnya dibuat gugup dan mengerti apa yang dimaksud oleh pemuda itu, begitu pula dengan tentara yang lain.
"Tentu saja tuan Nathan, kami tidak akan menyebarkan informasi ini. Tapi kenapa anda tidak kembali ke medan perang, dengan teknologi itu bukannya anda akan lebih mudah untuk membantu negara?" Ucap Letnan Arthur yang kini nada bicaranya berubah menjadi sopan.
Nathan mengerutkan alisnya dan menatap kearah Letnan Arthur. "Jangan bersikap formal kepadaku tuan Arthur, dan untuk pertanyaan darimu aku hanya tidak ingin terlibat lagi dengan perang ini..."
"Tetapi, bagaimana dengan nasib negaramu jika kamu tidak ikut dalam perang ini? Apa kamu masih ingin tetap diam saja melihat banyak dari orang kita yang terbunuh di medan perang?" Tanya Letnan Arthur membuka perdebatan dengan Nathan.
"Tanpaku sekalipun negara pasti bisa bertahan. Asal anda tahu saja kelak dimasa depan negara itu tidak memiliki keadilan lagi..." Ucap Nathan sebelum berjalan pergi.
Harry yang melihat Nathan ingin pergi kemudian menghentikannya. "Kamu mau kemana, bagaimana dengan mereka?" Tanya Harry.
"Pria itu merupakan seorang pemimpin dan seharusnya dapat memikirkan nasibnya serta pasukannya sendiri. Lagipula urusan kita disini sudah selesai... Oh iya... Sebaiknya anda dan anak buah anda pergi sebelum tentara Jepang datang satu jam lagi, tuan Arthur..." Ucap Nathan lalu melemparkan patung emas Buddha berukuran 5cm kepada Harry.
Harry yang melihat patung kecil terbuat dari emas seketika sadar jika Nathan sudah mendapatkan harta tersebut, tetapi ia merasa bingung sebab Nathan tampak tidak membawa apa-apa selain sebotol Rum dan patung emas tersebut.
Karena sudah tahu jika misi mereka telah selesai Harry kemudian mengajak Kevin dan Robby segera meninggalkan semua orang disana.
Letnan Arthur yang melihat kelompok Nathan pergi hanya bisa menghela nafas dan tidak dapat menahan mereka karena sadar bahwa empat pria itu sudah membantunya.
Letnan Arthur kemudian segera memberi perintah kepada seluruh tahanan militer dan membuat rencana agar bisa mendapat bantuan dari pasukan lain.
__ADS_1