Echelon System

Echelon System
Canggung


__ADS_3

"Jadi, siapa kenalan yang kamu maksud untuk membeli alat bornya. Nathan?" Tanya Harry yang ingin memastikan apa kenalan Nathan dapat dipercaya atau tidak.


Nathan berdehem dan raut wajahnya menjadi gugup saat ditanyai kenalannya oleh Harry untuk membeli bor minyak.


Mendengar kata bor seketika Emilia menjadi terbawa kedalam arah pembicaraan para pria sebab ia sudah tidak asing lagi dengan alat yang sedang dibahas.


"Kalau boleh tahu bor seperti apa yang kamu maksud tuan Harry, dan akan digunakan untuk apa?" Emilia menyela pembicaraan.


"Ah itu... Nathan sebelumnya mengajak kami untuk membuat bisnis pertambangan minyak setelah perang berakhir, dan kebetulan sedang mencari alat bornya..." Balas Kevin yang menyerobot.


Seketika Emilia mengetahui apa yang dibahas oleh empat pria itu dan ia langsung melirik kearah Nathan. Senyuman tipis terukir diwajah cantik Emilia dan ia tahu siapa kenalan yang dimaksud Nathan.


Melihat Emilia tersenyum sinis kearahnya dengan percaya diri. Nathan tertawa canggung, "Ekhem! Begini dokter... B-Bukannya keluarga anda memiliki bisnis pertambangan minyak. Jadi begini, kami berempat ingin membeli satu alat bornya dan kalau bisa dikasih harga teman..."


Harry, Kevin, dan Robby yang baru ingat kalau keluarga Emilia memiliki pertambangan minyak seketika tertawa gugup seperti Nathan dan merasa malu dengan temannya itu. Bagaimana tidak malu, Nathan ingin membeli alat bor dari Emilia dengan harga teman yang dimana wanita itu sendiri tidak mengenal mereka begitu dekat.


"Harga teman ya... Sayang sekali tuan Nathan, kita bukan teman dan kalau membeli alat bor harus menemui keluargaku terlebih dahulu yang pasti harganya tetap seperti biasa..." Ucap Emilia yang ingin membalas perbuatan Nathan.


Menyadari niat Emilia yang ingin membuatnya mengemis, raut wajah Nathan seketika berubah menjadi datar dan ia jelas sangat tidak menyukai hal tersebut.


"Baik lupakan saja aku akan membeli ditempat lain. Ah iya Harry, tugas untuk mengintai aku akan melakukanya sendiri dan fokus saja untuk memulihkan lukamu..." Ucap Nathan yang kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka.


Melihat Nathan yang pergi begitu saja, Emilia berdecih kesal dan berniat untuk pergi karena alasan dia bergabung hanya ingin lebih dekat dengan Nathan dengan caranya sendiri yang tidak ingin menunjukkan nya dihadapan umum.


"Anda mau pergi kemana dokter? Sarapan anda belum habis!" Tanya Kevin.


"Sigh! Selera makanku sudah hilang dan kalian oleh memakannya. Aku ingin kembali keruangan ku..." Balas Emilia acuh tak acuh kepada tiga pria tersebut.


Harry, Kevin, dan Robby yang melihat perubahan ekspresi dari Emilia setelah kepergian Nathan hanya bisa terdiam sambil menerka-nerka kejadian tersebut.

__ADS_1


Didalam kamar Nathan kini tengah bersiap untuk melakukan tugas mengawasi area disekitar Armada kapal setelah mendapat giliran.


Saat Nathan sedang ganti baju, Emilia tanpa permisi langsung masuk kedalam dan dapat melihat badan sixpack milik Nathan yang sebelumnya tidak ia lihat karena faktor penerangan.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini, dokter?" Nathan terlihat keheranan saat melihat kehadiran Emilia dikamarnya.


"Siapa yang kamu panggil dokter. Kenapa kamu memanggil calon istri mu sendiri dokter, huh!?" Tanya Emilia dengan raut wajah cemberut seperti anak kecil.


"Huh? Bukannya kamu sendiri yang memintaku untuk tetap bersikap formal seperti biasanya?" Nathan jelas merasa bingung menghadapi sikap Emilia.


"Isshh! Aku bilang hanya saat didepan umum saja. Jika tidak melakukannya aku takut kamu akan terkena imbas dari Marinir yang lain. Lupakan itu, apa maksud dari kamu ingin berkencang dengan wanita lain saat kembali nanti. Jawab!" Ucap Emilia.


Nathan menelan salivanya dan tertawa melihat raut wajah Emilia yang terlihat menyelidikinya. "Memangnya ada yang salah jika aku berkencang dengan wanita lain?"


"Tentu saja dasar bodoh. Aku calon istri mu!" Balas Emilia sambil menggembungkan pipinya.


"Saat kamu mengatakan aku tidak memiliki hak untuk melarangmu bersama dengan pria lain, aku tidak masalah. Lantas kenapa sekarang kamu yang melakukan hal sebaliknya?" Ucap Nathan.


"Ah... Aku mengerti... Apa kamu suka saat orang pria lain menatapku?" Ucap Emilia.


"Ya aku tidak suka, apa ada yang salah?" Ucap Nathan dengan kesal sambil mengikat tali sepatunya.


Emilia menutup mulutnya sambil tertawa dan merasa ekspresi kesal yang dipasang oleh Nathan menurutnya sangat lucu. Ia kemudian mendorong tubuh Nathan keatas kasur dan duduk diatasnya.


"Lihat siapa pria kecil yang saat ini sedang cemburu..." Ucap Emilia yang ingin menggoda Nathan karena merasa cemburu terhadap nya.


"Kenapa kamu memanggilku pria kecil. Apa kamu lupa siapa yang membuatmu pingsan dan tidak bisa berdiri selama beberapa jam?" Balas Nathan yang membuat ingatan tentang kejadian semalam terlintas kembali dipikirkan Emilia.


Emilia memukul dada Nathan dan memasang wajah cemberut. "Itu karena kamu terlalu kasar disaat pertama kali aku melakukannya!"

__ADS_1


"Heh... Tapi aku tidak menyangka kalau wanita seperti mu masih belum melakukannya..." Sindir Nathan.


"Memangnya aku wanita seperti apa huh? Pria yang aku temui selalu aneh dan ayahku juga terus membatasi pergerakan ku. Sampai aku bertemu denganmu, itu semua sudah tidak dapat ditahan. Lagipula kamu sudah berjanji untuk mengikatku setelah kembali nanti, jadi tidak masalah..." Ucap Emilia.


"Baik-baik aku mengerti. Sekarang bisakah kamu menyingkir. Aku harus segera berangkat..." Balas Nathan sambil berusaha bangkit dibawah tekanan Emilia.


"Tidak boleh, bagaimana jika kamu bertemu musuh dan tertangkap. Yang ada nant pernikahan kita batal dan aku tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Suruh orang lain saja!" Ucap Emilia dengan ketus sambil memeluk Nathan dengan erat seperti perangko.


"Hei, kita sudah membahas ini semalam. Setelah satu kali lagi pertempuran berakhir aku akan berhenti..." Balas Nathan sambil mencoba melepaskan diri.


"Tapi tetap saja aku khawatir. Kamu harusnya memahaminya!" Ucap Emilia.


Meski sudah berusaha untuk melepaskan diri, nyatanya Nathan tidak berhasil dan terpaksa melakukan cara lain agar diberi ijin oleh calon istri nya tersebut.


"Katakan apa yang kamu inginkan sekarang... Apa yang semalam belum cukup?" Tanya Nathan.


Raut wajah Emilia seketika menjadi memerah dan ia segera melepaskan pelukan nya. "A-Apa yang kamu katakan, itu tidak benar!" Emilia berusaha menyangkalnya.


Tangan Nathan dengan lihai masuk kesela-sela pakaian yang dikenakan oleh Emilia dan berujung di tempat lembab serta basah milik wanita tersebut.


"Lalu kenapa sekarang kamu sudah basah. Kita bahkan belum melakukan pemanasan..." Goda Nathan sambil menggesekan jarinya di area paling sensitif milik Emilia.


"Nnghh~ Baik aku mengaku, aku sudah tidak tahan saat melihatmu dikantin dan membuat tentang kejadian semalam memenuhi pikiranku!" Ucap Emilia sambil menahan suaranya.


"Dasar wanita nakal. Apa kamu mau dihukum?" Ucap Nathan.


Emilia tidak menjawab dan hanya fokus untuk menahan suaranya yang keluar sebab ulah jari milik Nathan di area miliknya.


Tiba-tiba Nathan menghentikan aksi nya dan menarik kembali tangannya. "Untuk hukumannya, kamu harus menunggu sampai aku kembali..."

__ADS_1


Emilia mengangguk dan meski ingin melanjutkan kegiatan bersama Nathan, tetapi ia juga tidak bisa egois dan membiarkan Nathan untuk melakukan tugasnya.


"Baiklah, aku akan menantikannya saat kembali nanti." Ucap Emilia sebelum memberikan ciuman dibibir Nathan.


__ADS_2