
Malam harinya mayat para korban yang dapat diangkat berhasil dibawa keatas kapal. Jenazah para korban kemudian dibariskan untuk dihitung.
Harry, Kevin, dan Robby kini berada tepat disamping mayat teman mereka. Ketiganya melihat Nathan kini terbujur kaku dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut ketiganya. Ini merupakan sebuah pukulan telak bagi ketiganya dan mereka sendiri tidak menyangka jika Nathan akan tewas dalam posisi menjadi seorang tawanan perang.
Disisi lain Admiral Frank tampak bimbang sambil memandangi telpon diatas mejanya. Ia merasa bingung harus menjelaska semua kepada putrinya tersebut.
Sambil menghela nafas Admiral Frank lalu memberanikan diri untuk menelpon Emilia. Tak lama kemudian suara seorang wanita terdengar dari balik telepon.
"Halo, siapa ini?" Tanya Emilia dari balik telepon.
"Ini ayah. Bagaimana kondisimu sekarang?" Ucap Admiral Frank dengan nada gusar.
"Unm... Aku baik-baik saja dan sekarang masih harus mengisi berkas-berkas dirumah sakit. Ini lama-lama bisa membuatku gila. Bagaimana dengan ayah dan Nathan?" Tanya Emilia sambil membaca berkas diruangan nya.
Admiral Frank mengetuk-ngetuk jari telunjuknya diatas meja dan bingung harus menjelaskannya dari mana. "Ya, semuanya berjalan lancar dan sukses. Sekarang kami sedang berlayar kembali ke Pearl Harbor..."
"Baguslah, aku harus menutup telepon ku ayah karena masih banyak kerjaan. Sampaikan kepada Nathan kalau aku sudah menunggunya..." Ucap Emilia sebelum menutup telepon nya.
Setelah telepon ditutup, Admiral Frank hanya bisa menghela nafas dan ia kemudian menyadarkan tubuhnya dikursi. Ia masih tidak menyangka menantu sekaligus pilot andalan di Yorktown akan gugur dalam pertempuran terakhir di Midway.
*******
Keesokan harinya upacara penghormatan terakhir kepada para korban dilaksanakan di masing-masing kapal. Peti jenazah kemudian dirilis kelaut, tetapi tidak dengan peti jenazah Nathan yang disimpan kedalam pendingin sesuai permintaan Admiral Frank.
Setibanya di Midway peti jenazah Nathan kemudian segera diterbangkan menggunakan pesawat komersial dengan didampingi oleh ketiga temannya dan juga Admiral Frank sendiri.
Penerbangan tersebut berjalan lancar dan tiba dipangkalan militer yang berada di California. Ketiga sampai terlihat Emilia yang sudah menunggu dengan ekspresi bahagia dan belum tahu kebenarannya.
Saat Admiral Frank turun ia disambut oleh beberapa petinggi militer sebelum akhirnya bertemu dengan putrinya yang sudah menunggu.
__ADS_1
Emilia kemudian memeluk Admiral Frank selama beberapa saat. "Syukurlah, ayah kembali dengan selamat. Dimana Nathan, aku tidak melihatnya..."
Admiral Frank melepas pelukan Emilia dan tersenyum gusar kearahnya. "Sebelumnya ayah minta maaf..."
"Kenapa ayah meminta maaf, dia pulang bersama ayah bukan?" Emilia tampak bingung dengan Admiral Frank yang tanpa sebab meminta maaf kepadanya.
Disaat itulah Harry, Kevin, dan Robby dengan dibantu tiga tentara lainnya keluar membawa sebuah peti yang dibalut dengan menggunakan bendera Amerika.
Saat melihat peti tersebut Emilia belum curiga sama sekali, namun setelah hanya melihat ketiga teman suaminya ia mulai merasa ada yang tidak enak.
"Maaf, dia gugur dalam tugasnya yang terakhir. Sekali lagi ayah minta maaf..." Ucap Admiral Frank yang seketika membuat tubuh Emilia lemas.
Tatapan Emilia yang awalnya cerah berubah menjadi kosong seoalah ia sudah kehilangan jiwanya. Emilia yang tidak kuat menerima kenyataan lalu pingsan dipelukan ayahnya.
*******
Malam harinya Emilia terbangun di kamarnya. Ia merasakan kepalanya sedikit pusing dan mengira semua apa yang dialaminya hanyalah mimpi.
Namun tiba-tiba Admiral Frank masuk kedalam kamarnya dengan memakai setelan jas hitam seolah sedang berkabung dengan kematian seseorang.
Kondisi jenazah Nathan masih sangat segar seperti baru saja meninggal dan terjaga. Emilia kemudian menyentuh pipi Nathan yang terasa dingin sambil menahan diri.
"Bangunlah... Jangan hanya diam saja seperti ini..." Ucap Emilia dengan mata yang sembab.
Admiral Frank yang melihatnya lalu menepuk-nepuk pundak Emilia untuk menenangkan wanita itu meski hal tersebut akan percuma saja.
*******
Malam itu Emilia memutuskan untuk tetap disamping peti jenazah Nathan sambil terus menatap wajah pria yang berhasil menaklukan wanita seperti dirinya.
Disaat semua orang sudah pergi dan hanya minyisakan Emilia saja diruangan itu. Nathan yang dikira telah tewas perlahan membuka matanya dan melihat Emilia tengah memejamkan mata sambil memegang tangannya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Nathan yang baru saja bangun dari hibernasi setelah kejadian dimana ia ditembak mati oleh tentara Jepang.
Mendengar suara yang tidak asing, Emilia kemudian membuja matanya dan melihat Nathan yang tengah memandangingany dengan heran.
"Sepertinya aku sudah mulai tidak waras sampai berhalusinasi begini..." Emilia terkekeh dan membuat Nathan yang melihatnya sedikit merinding.
Nathan langsung menyentil dahi Emilia untuk menyadarkan wanita itu. Alhasil Emilia merintih kesakitan dan memegangi dahinya yang disentil oleh Nathan.
"Sadarlah, dimana aku sekarang?" Nathan bangkit dari peti matinya dan melihat bahwa ia kini sedang berada di sebuah ruangan yang seperti digunakan untuk berkabung.
Pria itu cukup terkejut saat mendapati bahwa ia tengah memakai setelah jas yang biasa digunakan untuk orang mati.
Nathan kemudian melepaskan sarung tangan putih ditangannya dan melonggarkan sedikit kerah bajunya yang terasa sesak sebelum berjongkok dihadapan Emilia.
"Kenapa melamun, apa ada hal yang aneh?" Nathan menjentikan jarinya dihadapan Emilia yang tengah terpaku menatapnya.
Emilia seketika sadar dan meraba wajah Nathan. "Apa ini sungguhan. Kamu seharusnya sudah mati bukan?"
"Apa yang kau maksud. Jelas-jelas aku masih hidup dan sedang berbicara denganmu. Apa karena sudah tidak bertemu seminggu lebih kamu melupakan suamimu sendiri sampai mengiranya sudah mati?" Ucap Nathan.
Menyadari apa yang dilihatnya ini kenyataan, Emilia langsung memeluk erat Nathan hingga membuat keduanya terbaring ke lantai.
"Hei-hei... Kenapa kamu tiba-tiba menyarangku. Jangan disini..." Ucap Nathan sambil menepuk-nepuk punggung Emilia karena merasa sesak.
Emilia tidak memperdulikan perkataan Nathan dan memeluk pria itu dengan erat. Entah ini ilusi atau hanya sebatas khayalan, Emilia tidak ingin melewatkan moment ini.
Dengan sedikit usaha Nathan bangkit sambil terus dipeluk oleh Emilia yang seperti koala. Ia lalu menyusuri ruangan sambil membawa Emilia sebelum akhirnya sampai dikamar wanita tersebut.
"Lepaskan, apa kamu ingin membunuhku huh?" Tanya Nathan sambil mencoba melepaskan koala betina dari tubuhnya.
Emilia dengan kuat tetap memeluk Nathan dan membuat pria itu yang merasa lelah, terpaksa tidur dikasur sambil terus dipeluk oleh Emilia.
__ADS_1
Sebelum benar-benar tidur, Nathan kembali mengingat kejadian sebelumnya saat ia ditembak mati. Saat itu pandangannya tiba-tiba menjadi gelap dan setelah bangun langsung berpindah tempat.
'Sepertinya yang dikatakan Echelon memang benar. Yah, meski sangat beresiko tetapi percobaan ini cukup berhasil...' Batin Nathan puas.