
Suasana tempat balap liar yang awalnya menyenangkan seketika berubah menjadi tegang setelah kedatangan para anggota kepolisian. Semua orang segera bergegas kabur,namun beberapa dari mereka harus sial setelah berhasil tertangkap.
Eimi dan Nathan sendiri tak luput pengejaran, tetapi berbeda dengan yang lainnya mereka justru dikejar lebih dari satu mobil polisi.
Total ada sepuluh mobil polisi dan satu buah helikopter yang mengejar mereka berdua. Hal ini karena merekalah incaran utama pihak kepolisian, setelah melihat perbuatan Nathan saat balapan tadi yang membuat kekacauan bahkan menimbulkan korban jiwa.
Beberapa polisi yang sudah menunggu di titik tertentu langsung memasang jebakan saat melihat mobil Eimi untuk memecahkan ban mobil nya.
Namun dengan sedikit usaha Eimi berhasil menghindari jebakan tersebut, tetapi tidak dengan mobil polisi dibelakangnya yang harus mengalami kecelakan akibat terkena jebakan tersebut.
Tetapi semua itu belum selesai dan Eimi masih dikejar oleh helikopter serta beberapa mobil polisi yang berhasil menghindari jebakan sebelumnya.
"Hei! Apa kamu masih memiliki alat tadi, kenapa tidak menggunakannya?" Tanya Eimi dengan raut wajah kesal sebab merasa mereka tak akan selamat.
"Aku masih memiliki satu, tapi akan sangat berbahaya untuk menggunakannya sekarang dan akan membuat kekcauan besar nantinya..." Balas Nathan.
"Cih! Lalu sekarang bagaimana, kita tak bisa terus seperti ini!" Kata Eimi yang sudah hampir putus asa saat beberapa mobil polisi berhasil mendekat.
Nathan hanya membalas perkataan Eimi dengan senyuman dan melepas sabuk pengamanan nya. "Setelah ini pulang lah ke rumah atau orang tuamu akan semakin marah kepadamu!"
"Apa maksud mu?" Tanya Eimi kebingungan.
"Terimakasih karen sudah menghibur ku gadis kecil, sampai jumpa lagi!" Ucap Nathan sebelum melompat keluar, meski kini mobil berada di kecepatan tinggi.
Setelah melompat keluar dari mobil Eimi, Nathan langsung melindungi tubuh nya yang terpelanting di jalan sebelum berhasil berhenti dengan selamat.
"Sial, itu tadi lumayan sakit!" Umpat Nathan sambil membersihkan jaketnya yang sedikit kotor dan sobek.
Tetapi saat Nathan berdiri dan melihat ke depan, sudah ada banyak polisi yang menodongnya menggunakan senjata api. Nathan hanya bisa tertawa lalu berlutut dan mengangkat kedua tangannya.
Kepala polisi langsung menyuruh anak buahnya untuk menahan Nathan dan membiarkan pengemudi mobil yang menjadi incarannya malam ini kabur.
"Apa yang dilakukan pria itu!" Kata Eimi saat melihat Nathan mengorbankan dirinya sendiri agar ia tak tertangkap.
Eimi meremas stir kemudi nya, sebenarnya ia ingin putar balik dan menyusul Nathan tetapi setelah mengingat perkataan dari pria itu membuat nya terpaksa untuk tidak menolongnya.
*******
Di kantor polisi Nathan kini terlihat santai duduk di kursi yang berada di ruangan interogasi dengan santai sambil menunggu anggota polisi yang akan mengajukan pertanyaan kepadanya.
Seorang polisi wanita lalu masuk kedalam dengan membawakan makan dan meletakkannya di hadapan Nathan. Polisi tersebut kemudian melepaskan borgol di tangan Nathan karena diperintahkan oleh atasannya.
Setelah melepaskan borgol di tangan Nathan, polisi tersebut hendak pergi meninggalkan ruangan tersebut. Namun sebelum keluar Nathan tiba-tiba mengedipkan matanya dengan genit yang membuat polisi wanita tersebut tersipu dan cepat-cepat pergi keluar.
__ADS_1
Nathan hanya bisa tertawa dan memakan Sushi yang diberikan oleh polisi tadi dengan lahap sambil menunggu petugas.
Tak berselang lama seorang pria berusia 40 tahun masuk ke dalam ruangan interogasi yang tidak lain adalah kepala Polisi di kantor itu sendiri.
Dengan angkuh kepala polisi tersebut meletakkan berkas di tangan keatas meja dan duduk sambil memperhatikan Nathan yang tengah makan dengan tajam.
"Bisakah kita mulai sekarang anak muda?" Tanya Kepala Polisi.
"Maaf, tapi biarkan aku menghabiskan makanan ku dulu..." Balas Nathan tanpa memandang kearah polisi dihadapannya.
Merasa kesal dengan sikap anak muda dihadapan nya, Kepala Polisi itu langsung menyingkirkan makanan yang ada diatas meja menggunakan tongkat ditangannya hingga berserakan di lantai.
"Sepertinya kamu sudah selesai makan, kita mulai saja..." Ucap Kepala Polisi sambil tersenyum tipis dan meletakkan kedua kakinya di atas meja.
Untuk sejenak Nathan tertawa lirih sebelum memperhatikan pria dihadapannya sambil tersenyum tipis. "Baiklah, tapi bolehkah aku menghubungi kenalan ku terlebih dahulu?"
"Apa kamu mau menghubungi rekan Yakuza mu? Silahkan saja... Asal kamu tau aku tak takut dengan geng mu itu..." Balas Kepala Polisi sambil tersenyum tipis.
Mendapat ijin dari pria dihadapannya, Nathan kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Hirota. "Kamu sudah tau aku dimana bukan? Cepat kesini..." Ucap Nathan sebelum mematikan panggilannya.
Kepala polisi yang memperhatikan saat pemuda dihadapannya menghubungi seseorang seolah adalah bos dari orang yang ditelfon, menjadi tertarik kepadanya.
"Heh... Apa kamu ketua Yakuza dikawasan sini?" Tanya Kepala polisi.
Sebelum Kepala Polisi hendak bertanya kembali, tiba-tiba ruangan tersebut bergetar dan membuat lampu menjadi berkedip-kedip.
Namun kejadian aneh tersebut tidak berlangsung lama dan seorang petugas polisi dengan wajah pucat serta berkeringat dingin masuk kedalam ruangan tersebut.
"P-Pak ada seseorang yang ingin bertemu dengan pemuda itu!" Ucap petugas polisi tersebut dengan tubuh gemetaran.
"Huh? Siapa? Suruh masuk saja kesini!" Balas Kepala polisi dengan raut wajah kebingungan ketika melihat ekspresi anak buahnya tersebut.
Tak lama seorang pria maskulin berusia 42 tahun yang menggunakan setelan jas khas seorang pelayan masuk kedalam dan tidak lain adalah Hirota.
Kepala Polisi yang mengenali Hirota langsung berdiri dan menghadap kepadanya. "Kakak, kenapa kamu datang kesini?"
Hirota sejenak mengabaikan Kepala Polisi yang merupakan adik kelasnya dulu semasa berada di bangku SMP. Dia adalah Daichi pria yang dulu selalu menjadi bahan bully. Hirota sendiri dulu sangat ditakuti oleh seluruh kalangan pelajar di Tokyo karena merupakan bagian dari Yakuza.
Sewaktu SMP kebetulan saja Hirota yang sedang bosan melihat Daichi sedang dipukuli oleh preman sekolah dan ialah orang yang membantunya. Sejak saat itu Daichi selalu membuntuti Hirota dan menghormatinya.
Tetapi setelah lulus SMA Daichi tidak pernah melihat lagi keberadaan Hirota dan sejak saat itulah ia memutuskan menjadi polisi untuk mencari keberadaan pria tersebut.
Hirota mengalihkan pandangan ke arah Nathan dan melihat tuannya yang terlihat tengah merokok dengan santai. Tetapi saat melihat ada makanan yang jatuh di lantai, langsung membuat Hirota mengerti apa yang sebelumnya terjadi diruangan tersebut.
__ADS_1
"Daichi, kenapa kamu menangkapnya?" Tanya Hirota dingin sambil melirik kearah Daichi dengan tajam.
Daichi seketika menjadi gugup saat melihat tatapan mata Hirota kepadanya dan sebuah firasat buruk seketika langsung ia rasakan.
"Kak... Pemuda itu salah satu pembalap liar dan membuat kekacauan di kota, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Aku memiliki bukti rekamannya!" Balas Daichi.
"Lalu?" Tanya Hirota yang terlihat tidak perduli dengan perkataan dari Daichi barusan.
Hirota kemudian berjalan mendekati Daichi dan mencengkram bahu pria tersebut sambil menatapnya tajam. "Apa kamu tahu siapa orang yang kamu tangkap?"
"T-Tidak, memangnya dia siapa?" Jawab Daichi sambil berusaha untuk tetap tenang meski tengah berada dibawah tekanan yang diberikan oleh Hirota.
"Dia adalah orang yang sekarang harus aku layani meski nyawaku adalah taruhannya!" Ucap Hirota.
Mendengar ucapan Hirota membuat Daichi seakan tidak percaya bahwa pria seperti Hirota mau menjadi pelayan seorang pemuda yang terlihat biasa-biasa saja.
"Kenapa kamu mau melayani pemuda seperti-" Sebelum Daichi menyelesaikan perkataan nya, Hirota langsung memberinya pukulan keras di pipinya. Hingga membuat Daichi tersungkur di lantai.
"Setelah dua puluh tahun lebih tidak bertemu sepertinya kamu sudah kehilangan tata krama mu, Daichi..." Ucap Hirota sambil melihat kearah Daichi yang tersungkur di lantai.
Merasa geram dengan adik kelasnya dulu Hirota hendak memberinya pelajaran namun langsung dihentikan oleh Nathan.
"Sudahlah jangan buang-buang waktu. Antar aku ke Prefektur Koichi sekarang..." Nathan menepuk bahu Hirota dan meninggalkan ruangan interogasi tersebut.
"Baik tuan..." Balas Hirota sambil membungkuk.
"Aku beri kamu peringatan untuk pertama sekaligus terakhir Daichi, jangan ganggu pemuda itu lagi kalau kamu tidak mau kehilangan keluargamu..." Ucap Hirota sebelum pergi meninggalkan Daichi.
Disisi lain Nathan yang sudah keluar dari ruangan interogasi melihat kondisi kantor polisi tersebut sudah benar-benar kacau dan banyak anggota polisi yang terkapar.
"Apa kamu membunuh mereka semua?" Tanya Nathan.
"Tidak tuan, aku hanya melumpuhkan mereka saja karena menembaki ku sebelum nya..." Balas Hirota.
Nathan mengangguk dan secara kebetulan melihat petugas polisi wanita yang membawakan nya makanan terlihat ketakutan sedang meringkuk dibawah meja.
Merasa kasihan Nathan lalu menghampiri petugas polisi tersebut. "Maafkan pelayan ku karena membuat mu takut. Ini kartu namaku, kamu bisa menghubungi ku kalau pria itu membuatmu takut lagi..." Ucap Nathan sambil tersenyum.
Petugas wanita tersebut menerima kartu nama milik Nathan dengan wajah tersipu malu dan mengabaikan kekacauan yang tengah terjadi di sana.
Melihat petugas tersebut yang sudah tidak takut lagi Nathan kemudian mengusap kepalanya sebelum pergi meninggalkan kantor tersebut.
Tetapi raut wajah sumringah petugas polisi tersebut seketika hilang saat melihat tatapan Hirota kepadanya dan ia hanya bisa terdiam sambil memegang kartu nama yang diberikan oleh Nathan.
__ADS_1