
"Untuk apa aku harus melakukan pemeriksaan lagi, bukannya sudah jelas bahwa aku tidak sakit sama sekali! Saya permisi..." Ucap Nathan dingin dan beranjak menuju pintu keluar.
Sesaat Nathan hendak ingin keluar dari ruangan, Dokter Emilia mengucapkan perkataan yang membuat nya berhenti seketika.
"Tentu silahkan saja, tapi aku pastikan besok pagi kamu tidak akan di ijinkan untuk ikut berperang. Esok temanmu itu mungkin akan menjadi navigator pilot lain dan bisa saja tewas..." Ucap Dokter Emilia.
Merasa bahwa wanita tersebut akan menghalanginya untuk ikut berperang besok pagi dengan alasan kesehatan, sebenarnya Nathan tidak terlalu peduli.
Namun ia jelas tidak bisa meninggalkan pria yang sudah dianggapnya sebagai sahabat bahkan adiknya tersebut setelah pertempuran hari ini.
Sangat jarang bagi Nathan untuk mendapatkan teman yang baik dan satu frekuensi dengannya. Yang membuatnya terpaksa kembali duduk di hadapan Dokter Emilia.
"Kalau begitu cepat lakukan apa yang kamu mau, aku tidak punya waktu lagi ditempat ini!" Ucap Nathan sambil menatap Dokter Emilia dengan dingin.
Melihat Nathan yang terlihat sudah mulai setuju untuk diperiksa membuat Dokter Emilia tersenyum tipis dan memikirkan sesuatu dikepala nya.
"Tolong lepaskan bajumu..." Pinta Dokter Emilia yang membuat pria dihadapannya memicingkan mata kearahnya.
"Apa hal ini memang diperlukan, bukannya yang bermasalah hanya ingatanku dan bukan tubuhku?" Tanya Nathan yang merasa janggal dengan niat baik wanita cantik dihadapannya.
"Jangan banyak bertanya atau kamu akan tahu akibatnya..." Balas Dokter Emilia dimana ia terliat menantikan sesuatu dari Nathan.
Nathan yang didesak oleh Dokter Emilia terpaksa menurut dan melepaskan bajunya hingga membuat wanita cantik tersebut dapat melihat badan atletis miliknya.
Dihadapkan dengan bentuk badan seorang pria yang kekar ditambah tampan, Dokter Emilia tanpa sadar menelan salivanya sendiri dan menyentuh dada milik Nathan.
Saat menyentuh dada milik Nathan yang kencang hal ini membuat pikiran Dokter Emilia menjadi mabuk ditambah aroma vanilla dari tubuh pria tersebut.
__ADS_1
Merasa khawatir dengan situasi ini Nathan langsung menepis tangan Dokter Emilia dari tubuhnya dan mengenakan kembali bajunya.
"Seharusnya kamu tidak melakukannya sampai sejauh ini bukan, apalagi kita tidak mengenal satu sama lain lebih dekat lagi..." Ucap Nathan.
Bukan karena tidak suka dengan cara pemeriksaan yang dilakukan oleh Dokter Emilia, namun sejak awal Nathan hanya ingin mengendalikan dirinya agar tidak menaruh cakarnya ditubuh wanita cantik tersebut.
Disisi lain Dokter Emilia yang mendapat perlakuan seperti itu oleh seorang pria tampak senang. Hal disebabkan karena selama ini ia selalu saja mendapat tatapan aneh dari para pria, dan baru kali ada seorang pria yang justru tidak tertarik dengan tubuh bak bintang film biru miliknya.
"Tidak mengenal satu sama lain katamu. Apa kamu lupa siapa yang membuatmu dapat masuk Marinir. Saat melakukan pendaftaran kamu memiliki kondisi tubuh yang sangat lemah dan akulah dokter yang memeriksa mu waktu itu.
Karena kasihan dan melihat tekadmu saat itu aku tidak ada pilihan lain kecuali meluluskan mu dalam tes kesehatan.
Saat berhasil bergabung dengan Marinir kamu setiap minggu selalu saja mengirim kan surat cinta kepadaku. Lucu bukan?" Balas Dokter Emilia yang membuat Nathan merasa bingung.
Melihat Nathan yang tampak kebingungan, Dokter Emilia kemudian mengambil beberapa surat cinta yang selalu dikirim oleh Nathan lalu diletakan diatas meja.
Seketika Nathan menjadi terkejut dan merasa mual saat membaca isi surat tersebut. 'Ini sangat memalukan, sejak kapan aku menjadi orang puitis seperti ini. Tapi tulisan ini sama persis dengan tulisan tanganku!' Batin Nathan yang tidak percaya dengan semua bukti ini.
Dokter Emilia tersenyum tipis saat melihat Nathan yang kini tampak gugup dan ekspresi dingin nya luntur begitu saja seolah ditelan bumi.
"Sekarang apa yang ingin kamu katakan lagi atau jangan-jangan kamu menantikan jawaban dariku?" Ucap Dokter Emilia dengan maksud memancing Nathan agar mengakuinya.
Nathan menggelengkan kepalanya dan meletakkan kembali surat tersebut diatas meja. "Ini tidak mungkin, pasti ada yang salah dengan semuanya!"
"Hahaha... Apa kamu sengaja bertingkah dingin kepadaku agar membuatku terkesan? Pria yang lucu..." Ucap Dokter Emilia.
"Tidak, kita berdua tidak pernah bertemu sebelumnya!" Bantah Nathan yang benar-benar malu dengan sikap pria pubertas ini.
__ADS_1
Sekarang Nathan tidak dapat mengelak bahwa pernah bertemu dengan Dokter Emilia dan diam-diam menyukai dokter cantik tersebut.
Ketika melihat kedepan Nathan mendapati bahwa Dokter Emilia kini tengah duduk diatas meja sambil menyilangkan kedua kakinya yang dibalut oleh stocking hitam.
Ekspresi wanita cantik tersebut kini seolah mengejek Nathan ditambah senyuman percaya diri saat berhasil membuat Nathan tidak bisa menghindar lagi darinya.
Nathan seketika merasa kesal karena disudutkan oleh seorang wanita cantik yang tidak ia kenal, dan langsung berdiri sambil menunjukan bahwa dirinya tidak mudah untuk diintimidasi apalagi oleh seorang wanita.
"Apa yang kamu inginkan dariku. Kamu tidak melihat hanya ada kita berdua disini dan tak seorang pun yang akan tahu jika aku melakukan sesuatu kepadamu. Jadi jangan bertingkah seolah kamu orang yang paling berkuasa ditempat ini..." Ucap Nathan yang balik mengintimidasi Dokter Emilia.
Bukannya takut Dokter Emilia justru merasakan perasaan aneh saat ada orang yang pertama kali berkata kasar kepadanya. Bahkan orang tuanya saja tidak pernah melakukan hal ini kepada dirinya.
"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan kepadaku. Lakukan saja kalau berani!" Dokter Emilia menantang Nathan untuk membuktikan keberanian pria tersebut.
Saling tatap menatap terjadi di antara Nathan dan Dokter Emilia yang menimbulkan gesekan ketegangan. Ditantang oleh Dokter Emilia membuat Nathan yang sedari awal mencoba menahan diri, kini ia tidak lagi dapat membendung keinginannya untuk meletakkan cakar ditubuh indah milik wanita cantik tersebut.
Baru saja Nathan ingin melahap bibir seksi milik Dokter Emilia seorang perawat tiba-tiba membuka pintu dan membuat rencananya gagal.
Dokter Emilia sendiri yang sudah menantikan momen ini menjadi kesal dengan kedatangan seorang perawat, yang tiba-tiba membuka pintu tanpa permisi.
Perawat yang melihat kedekatan kepala Dokter di kapal induk tersebut dengan seorang prajurit menjadi gugup, dan merasa bahwa dia masuk diwaktu yang tidak tepat.
"Maaf, silahkan dilanjutkan..." Ucap perawat tersebut sambil hendak menutup pintu namun segera dihentikan oleh Nathan.
"Tidak, kamu bisa berbicara dengannya. Aku akan pergi dari sini. Permisi..." Ucap Nathan yang sebelum pergi ia melirik sesaat kearah Dokter Emilia.
Melihat pria yang ia suka pergi membuat Dokter Emilia cukup sedih apalagi saat mereka hampir saja melakukan hubungan lebih dalam lagi.
__ADS_1
Dokter Emilia kemudian membetulkan pakaian dan mengikat kembali rambutnya lalu menatap perawat yang berdiri didepan pintu dengan kesal.