
Mobil yang dikendarai oleh Nathan dan Alia kini berhenti setelah rambu-rambu lalu lintas berubah menjadi warna merah.
Dalam perjalanan mereka Alia adalah orang yang menyetir sementara Nathan tidak mau mengingat mobil tersebut milik wanita cantik itu dan tidak ingin merusaknya.
Nathan menatap Alia yang tengah berada di sampingnya dengan tatapan heran, mengingat mobil yang dikendarai oleh mereka bukan mobil biasa pada umumnya.
Mobil tersebut adalah Maserati Quattroporte meski penampilan luarnya biasa saja harga mobil itu sendiri mencapai 5 Miliar rupiah lebih.
Hal ini yang membuat Nathan merasa heran bagaimana bisa pemilik sebuah tempat makan kecil bisa memiliki mobil semahal itu.
Alia yang menyadari tatapan dari Nathan segera mengok kearah pria tersebut dengan ekspresi gugup karena malu.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu lagi?" Tanya Alia yang tidak berani menatap mata Nathan sebab merasa sangat malu saat ini.
"Tidak ada lupakan saja..." Nathan tersenyum gugup dan langsung mengalihkan pandangannya dari Alia.
Alia mengangguk dan perjalan keduanya kembali berlangsung setelah lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
Selama perjalanan Nathan terus memikirkan siapa sebenarnya identitas asli Alia, sementara Alia terus berpikir tentang rencana untuk menghabiskan waktu bersama Nathan hari ini.
*******
Beberapa menit kemudian Nathan dan Alia terlihat sudah berada di dalam Mall. Keduanya terlihat berjalan menuju ke supermarket yang ada di Mall tersebut.
Setibanya di supermarket mereka segara mencari beberapa bahan untuk masakan di Restauran. Alia terlihat sebagai orang yang mencari sementara Nathan mendorong troli.
Nathan sendiri sebenarnya sudah sering menemani Alia belanja, namun hari ini sangat berbeda biasanya mereka akan menggunakan mobil biasa bukan mobil sport seperti tadi.
Ketika sudah selesai berbelanja dan Alia sedang melakukan pembayaran, raut wajah Nathan tampak kusut setelah mengetahui mereka hanya membeli dua botol kecap dan saus saja.
Tetapi bukan hanya itu saja kejutannya, Nathan melihat bahwa di dompet Alia terdapat banyak kartu rekening dan sebuah Black Card.
'Sebenarnya sekaya apa wanita ini, semuanya sangat membingungkan...' Batin Nathan.
__ADS_1
Setelah membayar barang belanjaan mereka, Alia dan Nathan berjalan beriringan kesuatu tempat sesuai keinginan wanita tersebut.
Dijalan Nathan tak sengaja melihat bahwa Alia sedari tadi melirik kearah tangannya dan terlihat ragu-ragu untuk menggenggamnya.
Nathan tersenyum melihat tingkah Alia yang malu-malu hanya untuk bergandengan tangan padahal mereka sudah melakukan hubungan yang lebih jauh sebelumnya.
Ia kemudian berinisiatif untuk menggandeng Alia dan terlihat bahwa wanita tersebut terkejut sekaligus senang dengan tindakan Nathan.
"Jangan malu-malu, kalau mau lakukan saja..." Ucap Nathan.
Alia yang mendengarnya merasa malu dan langsung merangkuk lengan Nathan lalu mencubit perut pria tersebut. Ia kemudian menarik Nathan menuju arena bermain.
Nathan yang ditarik oleh Alia hanya bisa mengikutinya tanpa dapat menolak dan keduanya kemudian menghabiskan waktu bersama di arena bermain.
Selera permainan Alia benar-benar berbeda dengan wanita biasa pada umumnya. Ia justru tertarik dengan permainan ekstrim.
Sebagai contohnya kini Alia mengajak Nathan untuk main lempar kapak. Permainan tersebut mengharuskan mereka untuk menancapkan kapak dilingkaran papan kayu yang sudah disediakan.
Yang membuat permainan ini cukup berbahaya yaitu kapak yang digunakan benar-benar asli, dan memiliki bebean yang cukup berat.
Terlihat bahwa ekspresi Alia kini begitu sangat percaya diri seolah permaian lempar kapak adalah hal yang gampang baginya.
Nathan mengangguk setuju dengan penawaran dari Alia meski tak yakin bahwa wanita tersebut dapat bermain, namun yang pasti Nathan tidak ingin mengalah begitu saja.
Paham yang di anut oleh Nathan ketika bermain sebuah permainan adalah kesetaraan gender dimana tidak ada perbedaan antara wanita dan pria.
Entah itu pria tau wanita Nathan akan menganggap lawannya sama dan dalam kamusnya ia tidak ingin mengalah begitu saja.
Bahkan dalam permainan moba yang ia mainkan Nathan tidak sering mengatai pemain lain entah itu pria atau wanita.
Dengan penuh rasa percaya diri Nathan memberi kesempatan kepada Alia untuk melakukan lemparan terlebih dahulu.
Alia tersenyum tipis dan langsung melemparkan kapak di tanganya yang secara tepat mengenai titik tengah pada papan bundar.
__ADS_1
Tidak ingin kalah dengan Alia, Nathan kemudian melemparkan kapak di tangannya, tetapi sayang bahwa kapak miliknya tidak menancap pada target dan jatuh kebawah.
"Sepertinya aku yang menang, kamu harus bersiap-siap dengan permintaanku, sayang..." Ucap Alia sambil tersenyum kearah Nathan.
Nathan yang dikalahkan oleh Alia merasa tidak terima dan jelas ia hanya menerima kemenangan bukan kekalahan seperti ini.
"Tidak ini belum berakhir, setidaknya ada tiga kapak yang menancap!" Nathan menolak untuk mengakui kekalahannya.
Alia tersenyum dan mengiyakan permintaan dari Nathan. Bukan karena kasihan melainkan Alia ingin melihat raut wajah penuh keputusasaan Nathan yang menurutnya sangat lucu.
Nathan dan Alia kemudian melakukan dua lemparan lagi untuk menentukan siapa diantara mereka yang berhak meminta sesuatu.
Dengan telak Nathan dikalahkan oleh Alia ketika semua kapak yang ia lempar tidak menancap dan jatuh ke bawah.
"Baiklah aku mengaku kalah, sekarang apa yang kamu inginkan dariku. Ingat jangan hal itu!" Ucap Nathan dengan kesal sambil mengalihkan pandangan dari Alia
Mendengar perkataan dari Nathan, Alia hanya tersenyum tipis dan berkata, "Aku akan memintanya nanti, sekarang lebih baik kita makan dulu aku sudah lapar..."
Nathan mengangguk setuju dan keduanya kemudian mengakhiri waktu bermain mereka lalu menuju restauran yang ada didalam Mall.
Setibanya disalah satu restauran Alia memesankan makanan untuk mereka berdua, tak berselang lama makanan sudah siap dan dihidangkan dimeja mereka.
Ketika tengah makan Alia beberapa kali memanjakan Nathan dengan cara menyuapi nya dan hal itu jelas membuat pria tersebut merasa malu.
Namun Nathan tidak bisa menolak saat melihat mata memelas seperti anak kucing yang ditunjukan oleh Alia.
Setelah acara makan selesai keduanya segera bergegas untuk kembali karena tidak menyangka bahwa mereka menghabiskan waktu hingga jam lima sore.
Didalam mobil Nathan menyilangkan kedua tangannya sambil melihat kearah luar jendela yang sedang hujan.
Alia yang melihatnya merasa Nathan masih merasa kesal, dan tidak terima dengan kekalahan yang dideritanya saat taruhan.
"Kenapa kamu murung seperti itu, apa kamu masih kesal dengan kekalahanmu?" Tanya Alia yang menekankan kalimat terakhirnya.
__ADS_1
Sontak Nathan yang mendengarnya hanya mendengus dan tidak menggubris ucapan Alia, bahkan untuk melihat wajah wanita cantik tersebut ia tidak ingin melakukannya.
Alia seketika tertawa sambil mengemudikan mobilnya, dan membuat telinga Nathan memerah akibat merasa sangat malu setelah dikalahkan oleh seorang wanita yang merupakan kekasihnya sendiri.