Echelon System

Echelon System
Menghancurkan pesawat tempur


__ADS_3

Merasa tidak tau bagaimana mengoperasikan pesawat tempur tersebut, Nathan hanya bisa duduk manis karena merasa ragu jika menekan tombol didepannya yang malah akan nantinya bisa melepaskan misil.


Apa yang dilakukan oleh Nathan jelas membuat sang instruktur menjadi kesal karena merasa pemuda tersebut membuang-buang waktu.


"Hei! Apa yang kau tunggu, cepat segera terbang!" Ucap instruktur dengan raut wajah yang kesal.


Nathan berusaha memberi tau lagi kepada instruktur tersebut dengan cara menggelengkan kepala. Tetapi sang instruktur justru tidak mau tau dan tetap menyuruhnya untuk terbang.


"Sebenarnya yang memiliki fasilitas ini siapa, kenapa dia menyuruh-nyuruhku..." Gumam Nathan. "Hah... Sudahlah, coba saja dulu..."


Seketika itu juga Nathan mempelajari tombol-tombol yang ada di dalam pesawat tempur tersebut secara otodidak dan kepepet. Nathan kemudian menyalakan mesin pesawat dan memeriksa terlebih dahulu sayap-sayapnya, untuk mengetahui apa semua berfungsi dengan baik atau tidak.


Begitu merasa semuanya telah aman, Nathan kemudian menggerakkan pesawat nya ke landasan pacu sebelum melakukan penerbangan.


Hirota yang melihat Nathan ingin lepas landas berusaha menghentikannya karena di sisi lain ia tau kalau pemuda tersebut tidak bisa menerbangkan pesawat, Hirota juga merasa apa yang dilakukan oleh Nathan sangat berbahaya.


Tetapi usaha Hirota untuk menghentikan Nathan terlambat. Pemuda itu yang tidak melihat peringatan dari Hirota, langsung tancap gas.


Instruktur yang melihat Hirota tadi mengejar salah satu pesawat, ia lalu menghampiri nya. "Maaf Pak, kenapa Anda mengejar pesawat tadi?"


Dengan raut wajah kesal Hirota berbalik dan langsung memberi pukulan mentah kepada instruktur tersebut. "Kenapa kamu menyuruhnya untuk menerbangkan pesawat tempur? Apa kamu tidak tau siapa dia?!"


"Maaf Pak saya tidak tau, saya kira dia adalah personel yang baru bergabung..." Balas instruktur tersebut dengan perasaan tidak enak sebab mendapat pukulan dari atasannya.


Hirota sendiri bisa dibilang sebagai salah satu Jenderal yang ditugaskan untuk memimpin pangkalan militer milik pasukan Textron di Jepang, namun kini ia sedang menjalankan misi untuk mendampingi Nathan.


"Bukannya aku sudah mengabari kalian untuk menyambut kedatangan salah satu petinggi? Dialah petinggi itu dan asal kamu tau, dia adalah suami dari Nyonya Emilia. Sekarang aku tidak mau tau, lakukan apa saja untuk membuatnya kembali dengan selamat atau kamu tau sendiri akibatnya!" Ucap Hirota sambil mencengkram pakaian instruktur tersebut.


Mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh Hirota, sang instruktur dengan panik segera menengok kearah pesawat milik Nathan yang sudah terbang menjauh.

__ADS_1


Instruktur tersebut kemudian segera menghubungi salah satu pilot dan meminta mereka semua untuk segera kembali ke Pangkalan.


Awalnya para pilot merasa bingung kenapa mereka diperintahkan untuk kembali lagi, namun setelah diberi penjelasan akhirnya mereka mengerti dan tanpa sepengetahuan Nathan menuntunnya untuk kembali.


Melihat pesawat lain mulai merapatkan barisan kearahnya Nathan menjadi heran, apalagi saat ia mendapat kode dari salah satu pilot untuk mengikuti mereka.


Akhirnya Nathan dan empat pilot lainnya kembali menuju pangkalan. Saat mendaratkan pesawat nya Nathan tampak sedikit ragu dan alhasil saat roda menyentuh permukaan landasan hal burukpun terjadi.


Hantaman yang cukup keras membuat roda pesawat Nathan mengalami kerusakan dan membuat pesawatnya tergelincir hingga menimbulkan percikan api.


Perlahan percikan api mulai menjalar ke seluruh badan pesawat yang membuat Nathan langsung melontarkan diri keluar sesaat sebelum pesawat nya meledak.


Kejadian itu seketika membuat semua orang yang melihatnya cukup tercengang, pasalnya pesawat yang dalam kondisi sangat baik dan memiliki harga 115 juta USD terbakar hingga meledak.


Beberapa petugas seketika datang dan berusaha memadamkan api yang melahap pesawat jet tempur tersebut, sementara beberapa orang lagi menghampiri Nathan yang selamat setelah melakukan penyelamatan darurat.


"Apa Anda baik-baik saja Tuan? Apa ada bagian tubuh Anda yang merasa sakit?" Tanya Hirota sambil membantu melepaskan sabuk pengaman Nathan yang masih terpasang di kursi.


"Ya aku baik-baik saja..." Balas Nathan sambil tertawa seolah tidak merasa bersalah karena telah membakar sebuah pesawat tempur.


Setelah terlepas dari kursi pilot, Nathan kemudian melepaskan helm yang ia pakai. Nathan tiba-tiba merasa terkejut saat melihat instruktur yang tadi menyuruhnya menerbangkan pesawat memohon maaf kepadanya.


Nathan jelas tidak mempermasalahkan hal tersebut, namun berbeda dengan Hirota yang tampaknya memiliki raut wajah kesal kepada bawahan nya itu.


Tetapi dengan cepat Nathan meminta agar Hirota tidak memperpanjang masalah kecil seperti ini dan memintanya untuk mengajaknya berkeliling.


Akhirnya Nathan bersama Hirota berkeliling di pangkalan milik militer Textron dengan menaiki mobil dan tampaknya banyak orang yang tidak mengenalinya.


Setelah puas berkeliling dan melihat-lihat kondisi yang ada di sana, Nathan dan Hirota lalu memutuskan untuk kembali menuju dermaga menggunakan speedboat sebelum berjalan kaki lagi ke rumah milik keluarga Yamamoto.

__ADS_1


"Ara~ Dari mana saja kamu pagi-pagi begini?" Tanya Kanae yang tak sengaja berpapasan dengan Nathan saat tengah menyapu halaman.


Nathan mencium pipi Kanae dan berkata, "Hanya jalan-jalan disekitar sini untuk mencari udara segar... Kelihatan nya kamu baik-baik saja setelah kejadian semalam?"


Wajah Kanae seketika menjadi merah dan ia langsung mengingat kejadian dimalam hari dimana ia serta Eimi diserang secara brutal oleh Nathan hingga tidak bisa menggerakan kaki mereka.


"Jangan membahas hal seperti itu pagi-pagi..." Ucap Kanae dengan malu. Yang membuat Nathan tertawa lirih dan mengacak-acak rambut milik Kanae.


"Dimana Eimi, apa dia masih tidur?" Tanya Nathan yang tidak melihat Eimi bersama dengan Kanae dan mengira kalau gadis itu masih tidur.


"Ah... Eimi sedang mengemasi pakaian, bukannya kamu bilang sendiri semalam akan mengajak kami pindah?" Balas Kanae.


Nathan mengamgguk mengerti dan masuk ke dalam rumah setelah diajak oleh Kanae untuk sarapan. Melihat cara berjalan Kanae yang kaku, Nathan tentu saja mengerti dan menggendong Kanae.


Sementara Hirota tampaknya memilih menunggu di dalam mobil dan beralasan kalau ia sudah makan saat matahari belum terbit sebelumnya.


Ketika sampai diruang makan Nathan sudah melihat orang tua dan nenek Kanae telah berada disana begitu pun dengan Eimi yang sudah menyiapkan makanan.


"Bermesraan di pagi hari, apa semalam belum cukup?" Singgung Nyonya Sumiko yang saat melihat Nathan menggendong cucunya.


Nathan hanya bisa tertawa canggung saat disindir oleh Nyonya Sumiko. Ia bahkan mendapat tatapan tajam dari Eimi yang merasa iri dengan Kanae karena diperilakukan seperti itu.


Mereka semua kemudian sarapan pagi bersama sebelum akhirnya berpisah karena Nathan, Eimi, dan Kanae harus pergi menuju Tokyo.


Setelah berpamitan, Nathan, Eimi, dan Kanae kemudian pergi meninggalkan kediaman keluarga Yamamoto dengan diantara oleh Hirota.


"Setelah ini kamu ingin kemana lagi?" Tanya Eimi yang duduk disamping Nathan dan bersandar di pundaknya.


"China..." Balas Nathan.

__ADS_1


__ADS_2