Echelon System

Echelon System
Sadar


__ADS_3

"Jadi bagaimana jika akulah satu-satunya wanita yang ikut terdampar bersamamu. Apa kamu tetap akan membuat koloni?" Tanya Emilia.


Nathan berpikir sejenak sebelum menggelengkan kepalanya. "Kalau aku melakukannya sama saja dengan bunuh diri. Ayahmu pasti tidak akan membiarkan ku hidup tenang setelahnya..."


"Tidak ada yang salah dengan perkataan mu. Untuk seorang ayah yang mengetahui putrinya ditiduri paksa oleh seorang pria, tentu saja dia akan sangat marah. Apalagi kalau putrinya cantik seperti ku..." Emilia tersenyum tipis.


"Benar, tapi apa aku pernah berpikir kalau kamu cantik? Sepertinya tidak..." Balas Nathan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelah nya.


Untuk pertama kalinya Emilia mendengar seseorang yang tidak memuji kecantikannya dan justru seolah menganggapnya seperti sebuah lelucon saja.


"Jangan berbohong itu terlihat jelas dimatamu..." Ucap Emilia.


"Maaf dokter, sepertinya topik pembicaraan kita telah melenceng. Saya disini hanya untuk melakukan pemeriksaan saja dan bukan membahas tentang kecantikan wanita..." Balas Nathan.


Emilia tersenyum meskipun begitu terlihat bahwa ia sebenarnya merasa kesal dengan perlakuan Nathan kepadanya.


"Baiklah aku akan segera memeriksa mu, tapi sebelum itu lebih baik kamu mandi terlebih dulu. Tubuhmu sangat bau..." Ucap Emilia.


Mendengar perkataan Emilia, Nathan kemudian menciumi bau tubuhnya dan ia sama sekali tidak merasakan hal yang sama dengan wanita itu. Justru aroma tubuhnya masih sama dan tidak mengeluarkan aroma menyengat.


Tetapi karena tidak ingin berlama-lama sebab harus segera menemui Admiral Frank, Nathan kemudian segera meminjam kamar mandi Emilia yang ada dirungan itu.


Setelah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian dengan pakaian baru yang sudah disiapkan oleh Emilia untuknya.


Nathan kemudian diperiksa oleh Emilia dan tidak ada yang salah dengan kondisi tubuh maupun mental pria tersebut.


"Menarik, untuk seseorang yang terdampar disebuah pulau seorang diri. Kamu tidak memiliki masalah kesehatan sama sekali..." Ucap Emilia.


"Tentu saja, aku bukan pria biasa..." Balas Nathan dengan percaya diri.


"Bagaimana dengan adik kecilmu, apa dia baik-baik saja?" Ucap Emilia sambil tersenyum penuh arti.


"Bukannya kamu sudah memeriksa Harry tadi, kenapa masih bertanya kepadaku?" Tanya Nathan yang belum paham dengan maksud Emilia sesungguhnya.

__ADS_1


Emilia berdecih kesal. "Dasar bodoh diberi isyarat tidak mau mengerti. Cepat keluar dari ruangan ku, bukannya atasan mu itu ingin bertemu!?"


Melihat sikap Emilia yang tiba-tiba merasa kesal kepadanya, Nathan hanya bisa terdiam dan pergi meninggalkan wanita yang kesal itu sendirian.


Beberapa saat kemudian Nathan telah sampai diruang kerja Admiral Frank dan langsung dipersilahkan masuk kedalam oleh dua orang penjaga.


Begitu masuk ia melihat sudah ada Admiral Frank yang telah menunggunya didalam. "Duduklah..." Ucap Admiral Frank.


"Coba jelaskan bagaimana kamu bisa sampai terdampar di pulau tak berpenghuni. Bukannya waktu itu kamu sudah ditembak jatuh?" Tanya Admiral Frank.


"Begini, waktu itu saya sebenarnya berhasil membebaskan diri. Pada peperangan tempo hari bukannya ada badai, dari sana saya yang tidak sadarkan diri terbawa arus dan berakhir dengan terdampar disebuah pulau..." Balas Nathan.


Admiral Frank yang mendengar cerita Nathan sedikit kurang mempercayai nya, namun ia terpaksa untuk percaya setelah pria itu mengatakan tentang badai yang terjadi.


"Oh iya, bagaimana dengan pertempuran waktu itu tuan?" Nathan bertanya untuk mengalihkan perhatian Admiral Frank yang sedang memikirkan tentang perkataan kurang logis nya barusan.


"Kita berhasil memukul mundur Armada kapal Jepang, tetapi saat itu ada makhluk misterius yang muncul membantu pihak kita dan aku akan mendistribusikan nya setelah kembali nanti..." Ucap Admiral Frank yang dibalas anggukan oleh Nathan.


Selama satu jam Nathan terpaksa mendengarkan cerita yang dibawakan oleh Admiral Frank tentang pertempuran waktu itu dan hanya bisa tersenyum sambil mengangguk setiap saat.


"Sekarang aku ingin meminta penjelasan dari mu tentang putriku. Apa kamu tau gara-gara kematian palsumu itu, putriku jadi mengabaikan ku selama beberapa hari. Sebagai seorang ayah jelas aku tidak menyukai hal ini. Kamu mengerti maksudku bukan?" Ucap Admiral Frank.


Nathan tersenyum gugup dan instingnya mengatakan ada hal berbahaya yang akan segera datang jika ia mengatakan sesuatu yang salah dihadapan pria paruh baya tersebut.


"Ya, saya mengerti Pak." Balas Nathan.


"Kamu boleh pergi sekarang dan jangan lupa segera selesaikan masalahan ini sebelum matahari terbit besok..." Ucap Admiral Frank.


Nathan hanya bisa mengangguk dan kemudian pergi menuju kamar nya, untuk memikirkan masalah diantara ayah dan anak yang ia sendiri tidak tahu kenapa menjadi disalahkan.


Nathan duduk di pinggiran kasur dan memijat keningnya dengan tingkah laku Emilia. Ia sendiri tidak bisa menyalahkan wanita itu dan paham kenapa dia bisa melakukan hal tersebut.


Hal ini membuat Nathan kembali mengingat Alicia yang memiliki sifat hampir sama dengan Emilia dan yang membedakan hanya sikap sikap mereka saja.

__ADS_1


"Kalau aku tinggal selama dua puluh lima tahun, bagaimana jika aku kembali nanti. Apa ada perbedaan waktu, Echelon?" Tanya Nathan.


"Memang ada perbedaan waktu tuan. Anda akan dianggap hilang selama dua setengah bulan saat kembali nanti..." Balas Echelon.


"Sepertinya aku akan diamuk setelah kembali nanti, tapi biarlah... Oh iya, bagaimana bisa orang-orang dimasa ini bisa mengenalku?" Ucap Nathan.


"Apa anda lupa dengan butterfly efek. Hal ini yang tanpa sengaja membuat Anda seolah memiliki kehidupan dimasa ini tuan..." Balas Echelon.


Nathan mengangguk dan memahami maksud yang diberikan oleh Echelon. Tanpa sengaja Nathan melihat sepucuk pistol dilaci saat sedang mencari gambar yang ia buat beberapa hari lalu.


Nathan mengambil pistol tersebut dan melihat ada selongsong peluru didalamnya. Perkataan Echelon tentang dirinya yang abadi dimasa ini seketika terlintas dibenak Nathan.


"Apa kamu yakin dengan perkataanmu tentang aku yang tidak bisa mati waktu itu, Echelon?" Tanya Nathan.


"Secara teori memang lah benar, tuan..." Ucap Echelon.


Mendengar kata teori Nathan sedikit ragu namun karena penasaran dan percaya dengan Echelon, pria itu kemudian menempelkan ujung pistol dikepalanya.


Disaat Nathan ingin menembak kepalanya sendiri Emilia yang sudah membulatkan tekad untuk menemuinya tak sengaja melihat kejadian itu.


Begitu Nathan menarik pelatuknya Emilia langsung menepis pistol nya dan membuat peluru gagal menembak kepala pria itu.


"Apa yang ingin kamu lakukan dasar bodoh!" Ucap Emilia sambil memegang kerah baju Nathan yang kini pria itu berada di bawahnya.


"Hah, apa yang kamu lakukan disini. Aku cuma mau melakukan uji coba saja..." Ucap Nathan.


Usai mengatakan hal itu Nathan melihat mata Emilia yang memerah dan tampak berkaca-kaca.


"Kalau kamu memiliki masalah jangan hanya dipendam saja. Aku siap mendengar kan ceritamu dan jangan bertindak seperti ini. Aku tidak mau kehilangan mu lagi..." Ucap Emilia.


Nathan terdiam dan tidak menyangka bahwa Emilia benar-benar perduli dan menyukai nya. Waktu itu Nathan berpikir kalau Emilia hanya bercanda dan tidak pernah serius.


Emilia kemudian memeluk Nathan dan membuat pria itu merasa sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan dari siapapun.

__ADS_1


__ADS_2