Echelon System

Echelon System
Mencari Kayu


__ADS_3

Malam harinya Nathan terlihat tengah sibuk membuat kertas biru yang berisi rancangan kapal dengan teliti dan memperhatikan segala aspek didalamnya.


Emilia yang tengah tiduran dikasur merasa penasaran saat melihat Nathan tengah sibuk menggambar sesuatu di sampingnya.


"Apa yang sedang kamu buat malam-malam begini?" Tanya Emilia sambil mencium pipi Nathan dan melirik lembaran-lembaran kertas diatas meja.


"Desain kapal yang mau kami buat mulai besok..." Balas Nathan tanpa melirik sedikitpun kearah Emilia karena tengah sibuk dengan kertas birunya.


"Ya, aku sempat mendengar tadi sore kalau kalian akan membuat kapal. Sebenarnya aku tidak keberatan kalau kamu meminta dana, lagipua perusahaan itu sekarang milikmu..." Ucap Emilia sambil memilihat raut wajah Nathan yang sedang serius.


Nathan menghela nafasnya dan melirik kearah Emilia. "Tidak, meskipun sekarang surat kepemilikan atas namaku tapi perusahaan itu tetaplah milikmu. Aku tidak mau menyentuhnya sedikitpun karena perusahaan memang warisan keluargamu..."


"Baiklah aku mengerti, kalau begitu ada yang bisa aku bantu sekarang? Ah benar juga, apa kami bisa ikut dengan kalian juga mencari harta karun. Sepertinya itu terdengar menyenangkan!" Ucap Emilia dengan tatapan berbintang-bintang.


"Tidak, kalian tidak boleh ikut. Ini akan sangat berbahaya dan kalau nantinya kalian tertangkap oleh orang-orang Jepang itu bagaiman?" Balas Nathan yang enggan memberi ijin kepada Emilia.


Emilia menggembungkan pipinya dan memukul paha Nathan. "Kamu sudah janji untuk membawaku kemanapun sebelum nantinya pergi, dan kalau aku ditangkap oleh orang-orang Jepang itu mudah saja!" Ucap Emilia sambil menunjukkan kuku-kuku tajamnya yang memanjang kepada Nathan.


Melihat kalau Emilia sudah bersikeras dan akan mencabik-cabik tubuhnya jika tetap tidak memberi ijin, akhirnya Nathan mengangguk.


"Baiklah, tapi urus temanmu sendiri nantinya..." Ucap Nathan sambil lanjut mengerjakan desain kapalnya.


Emilia tersenyum dan memeluk Nathan. "Terimakasih..." Ucap Emilia sambil mencium pipi Nathan sebelum kembali berbaring diatas kasur.


Nathan yang melihat Emilia sedang senyum-senyum sendiri sambil membayangkan sesuatu merasa sedikit lega karena wanita itu akhirnya bisa sedikit mencair kepada orang lain dan tidak dingin lagi.


Beberapa jam kemudian Nathan akhirnya selesai dengan desain kapalnya dan menguap karena ngantuk harus bergadang sampai jam 3 pagi.


Ia kemudian berbaring diatas kasur dan ketika hendak tidur langsung diganggu oleh Emilia yang terbangun lalu langsung memeluknya dari belakang.


Nathan menghela nafas dan berbalik menghadap Emilia yang menatap dengan tatapan memohon berbinar seperti anak kucing.

__ADS_1


"Tidak, kita sudah melakukannya tadi pantai bukan? Aku ingin tidur sekarang..." Ucap Nathan sambil membawa Emilia kedalam pelukannya.


Emilia mengangguk pelan didalam pelukan Nathan dan mencari posisi nyaman untuk kembali tidur.


*******


Pagi harinya setelah sarapan Nathan keluar rumahnya dan mendapati kalau Harry, Kevin, serta Robby sudah datang dengan membawa sebuah truk yang digunakan untuk mencari kayu.


Tak hanya ketiga pria itu saja yang datang melainkan juga ada Julia, Amanda, dan Gisela yang ingin ikut membantu mereka.


"Bagus kalian datang tepat waktu tapi kenapa harus mengajak mereka?" Tanya Nathan sambil melirik kearah Julia Amanda, dan Gisela.


"Bukan kami yang mengajak, tetapi mereka memaksa untuk ikut..." Balas Harry dengan tatapan mata ketakutan saat melihat istri nya Julia.


Nathan yang melihat tingkah laku ketiga pria itu seperti ketakutan langsung paham dan terkekeh. "Baiklah aku mengerti, kalau gitu kita mulai saja..."


Mereka semua kemudian berkumpul untuk melihat cetak biru yang sudah Nathan buat sekaligus dijelaskan oleh pria itu agar mereka menjadi paham.


"Pohon apa yang ingin kita gunakan, apakah pinus?" Tanya Kevin sambil melihat cetak biru yang kini ia bawa ditangannya.


"Um... Kalau pohon Oak bagaimana? Ayahnya Gisela memilikinya. Tapi kita harus menebangnya dulu. Benarkan Gisela?" Tanya Robby kepada istrinya Gisela.


Gisela mengangguk. "Ya, memang ayahku memiliki tanah yang cukup luas dan ada banyak sekali pohon Oak puluhan bahkan ratusan tahun. Tapi aku ragu dia mengijinkan kita untuk menebangnya..."


"Tenang saja, aku bisa mengatasi nya. Kalau begitu kita langsung saja kesana!" Ucap Nathan dengan percaya diri, namun tidak dengan Robby yang tahu sikap keras mertuanya.


Meski awalnya ragu Robby akhirnya memutuskan untuk diam agar Nathan tidak takut kalau mengetahui sikap ayah mertuanya itu.


Dengan mengendarai truk dan mobil delapan orang itu kemudian pergi menuju kerumah Gisela untuk mendapatkan bahan baku yaitu kayu dari pohon Oak.


Butuh waktu satu jam untuk mereka sampai kerumah Gisela dan saat tiba disana mereka melihat sebuah rumah yang cukup besar.

__ADS_1


Gisela dengan ditemani Robby kemudian turun dan menghampiri rumah itu untuk mencari orang tua dari wanita tersebut.


Setelah mencari didalam rumah mereka tidak menemukan keberadaan orang tua Gisela dan ini membuat kedua orang itu sedikit pusing.


Tetapi disisi lain Nathan yang tengah berkeliling melihat banyaknya pohon Oak betukuran besar tak sengaja bertemu dengan seorang pria kekar tengah memotong kayu bakar menggunakan kapak.


Menyadari kehadiran seseorang didekatnya pria itu kemudian langsung berbalik dan melihat seorang pemuda tengah berdiri dibelakangnya.


"Apa yang kamu lakukan disini anak muda, ini bukan tempat umum!" Ucap pria kekar itu sambil menatap Nathan dengan raut wajah sangarnya.


Nathan menjadi gugup saat ditanya oleh pria itu, tetapi tiba-tiba sebuah sepatu boots melayang dan mengenai kepala botak pria kekar tersebut.


"Ada apa dengan sikap mu itu Anggelo! Apa kamu tidak bisa bersikap lebih sopan kepada teman putrimu sendiri!?" Ucap Madeline ibu dari Gisela yang terlihat kesal dengan sikap suaminya tersebut.


"Aku tidak menakutinya sama sekali dan hanya bertanya saja, Madeline..." Balas Anggelo dengan raut wajah ketakutan.


Madeline mengambil sepatu boots nya yang tadi ia lempar dan mengacungkan nya kearah wajah Anggelo. "Kamu sudah berani menjawabku? Aku akan sumpalkan sepatuku ini kemulutmu itu!" Ancam Madeline.


Anggelo yang tidak berani menghadapi Madeline akhirnya mengalah dan meminta maaf kepada Nathan, dimana hal itu jelas membuat Nathan kebingungan sekaligus lega.


Dari kejauhan Gisela, Robby, Harry, Kevin, Julia, Amanda, dan Emilia datang menghampiri mereka sambil menahan tawa.


Madeline kemudian menjelaskan kepada suaminya Anggelo tentang kedatangan orang-orang itu setelah ia diberi tahu oleh Gisela dan Robby sebelumnya.


Mendengar kalau beberapa pohonnya ingin ditebang Anggelo jelas ingin menolaknya, tetapi saat melihat tatapan istrinya yang menyeramkan akhirnya ia terpaksa memberi ijin.


Setelah mendapat ijin mulai hari itu Nathan dan yang lainnya memulai pengumpulan kayu untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan kapal.


Ketika beberapa pohon mulai ditebang Anggelo terlihat menggigit jarinya karena masih tidak rela kalau harus memberikan beberapa pohon nya secara percuma meski untuk putrinya sendiri.


Nathan yang melihat Anggelo lalu menghampiri nya dan memberikan sebotol anggur yang ia temukan sebelumnya diruang bawah tanah rumahnya.

__ADS_1


Saat itu Nathan tak sengaja menemukan ruang bawah tanah dirumahnya berisi fermentasi anggur dan ia menebak kalau orang tuanya merupakan petani anggur.


Nathan sengaja membawa satu botol anggur dari sana sebelumnya untuk dijadikan alat untuk menyuap ayahnya Gisela agar diberi ijin menebang beberapa pohon Oak.


__ADS_2