
Pagi harinya Nathan terbangun dan merasakan kalau kedua lengannya keram. Ketika dilihat Nathan mendapati Eimi dan Kanae yang masih tertidur pulas setelah pergulatan mereka semalam.
Dengan hati-hati Nathan menyingkirkan Eimi dan Kanae dari lengannya agar mereka tidak terbangung. Nathan kemudian segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat dan setelah itu turun ke lantai bawah.
Tak sengaja saat hendak keluar rumah untuk jalan-jalan di area sekitar sana, Nathan berpapasan dengan ayah mertuanya. "Mau pergi kemana kamu pagi-pagi begini, Nathan?"
Nathan tersenyum sambil menggaruk kepala bagian belakang nya yang tidak gatal dan berkata, "Aku mau jalan-jalan sebentar, ayah..."
"Sepertinya kamu masih punya cukup tenaga sampai bisa menempatkan diri jalan-jalan di pagi hari..." Ucap Tojo sambil tersenyum tipis.
Raut wajah Nathan seketika memerah ia kemudian segera pamit dan keluar dari rumah agar tidak di interogasi oleh ayah mertuanya itu.
Begitu keluar dari rumah Nathan langsung disambut oleh Hirota yang tampaknya sudah bersiap untuk menyambut dirinya.
"Apa semalam kamu tidur di dalam mobil, Hirota?" Tanya Nathan yang merasa tidak enak kepada bawahannya tersebut.
"Iya Tuan... Semalam saya tidur di dalam mobil dan itu sudah cukup untuk saya..." Balas Hirota sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
Nathan mengangguk dan kemudian melanjutkan berkeliling dengan menggunakan pakaian pendek sambil diikuti oleh Hirota dari belakang.
Beberapa ibu rumah tangga yang tak sengaja berpapasan dengan Nathan menjadi heran karena belum pernah sebelumnya melihat pemuda tersebut ada di daerah tersebut.
Hal ini membuat Nathan selalu mendapat perhatian dari ibu-ibu di komplek perumahan tersebut dan tak sedikit wanita muda yang juga memperhatikan nya.
Namun tak sedikit dari mereka yang ingin berfoto dengan Nathan dan karena waktunya masih senggang pemuda tersebut meladeni orang-orang yang ingin berfoto dengannya.
Hirota seketika menjadi fotografer dadakan yang dimintai tolong untuk memotret mereka walaupun awalnya ia enggan untuk melakukan nya.
Tetapi karena diminta langsung oleh Nathan, Hirota hanya bisa patuh dan melakukan tugas yang sebenarnya tidak sesuai untuk seorang penjaga dari pasukan Textron.
Setelah berfoto seperti artis dadakan, Nathan dan Hirota melanjutkan perjalanan mereka dengan berkeliling hingga berhenti di Dermaga.
__ADS_1
Pandangan Nathan kemudian tertuju lurus kearah sebuah pulau yang jaraknya tiga kilometer dari tempatnya kini berada. Nathan memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas apa yang ada di pulau buatan tersebut.
Begitu dapat melihat meski tidak terlalu jelas Nathan mendapati kalau pulau buatan tersebut merupakan sebuah markas tentara. Namun bukan tentara negara melainkan tentara swasta.
"Aku baru tau kalau di dekat sini ada fasilitas militer..." Ucap Nathan.
"Apakah Anda ingin ke sana untuk berkunjung, Tuan?" Tanya Hirota yang merasa kalau Nathan belum pernah mengunjungi fasilitas militer tersebut.
Nathan menoleh ke samping dan menatap Hirota dengan aneh. "Kamu sudah gila? Itu bukanlah tempat umum yang bisa dimasuki oleh orang biasa!"
"Memang benar Tuan... Tapi tempat itu merupakan fasilitas milik pasukan Textron ciptaan anda sendiri..." Balas Hirota sambil melihat Nathan dengan heran.
"Hah? Aku tidak ingat pernah membangun fasilitas militer di sana. Apa ini ulah dari anak-anak itu?" Ucap Nathan keheranan.
Mendengar Nathan menyebut para petinggi perusahaan Lexton sebagai anak-anak, Hirota menjadi cukup terkejut tetapi mengingat pesan dari tugas yang diberikan oleh Emilia membuat pria tersebut memahaminya.
"Bisa dibilang begitu Tuan. Tiga puluh tahun yang lalu Para petinggi memutuskan untuk membuat sebuah fasilitas militer di beberapa negara mitra kerja mereka... Apa Tuan ingin berkunjung?" Balas Hirota.
Nathan yang merasa tertarik kemudian mengangguk dan Hirota langsung menelpon petugas difasilitasi militer untuk menjemput mereka.
Ketika sampai Helikopter tersebut mulai terbang rendah dan membukakan pintu belakang. Beberapa prajurit kemudian turun lengkap dengan perlengkapan mereka untuk menjaga keamanan orang yang dianggap tamu besar.
Nathan dan Hirota kemudian dipersilahkan naik kedalam Helikopter sebelum terbang menuju pangkalan militer. Tentu saja kejadian itu disaksikan oleh warga sekitar yang membuat mereka tercengang.
Didalam helikopter tampaknya Nathan tidak terlalu nyaman dengan getaran yang ada. Ia kemudian berdiri dari kursinya dan melompat keluar yang membuat Hirota serta tentara disana menjadi panik bukan main.
Namun kepanikan mereka ternyata sia-sia saja saat melihat Nathan terbang sendiri menggunakan setelan tempurnya. Hal ini tentu membuat Hirota serta tentara lainnya merasa terkejut dan tidak menyangka bisa melihat siapa sebenarnya sosok yang sempat muncul diberita.
Nathan kemudian terbang di samping helikopter yang membuat pilotnya cukup kaget saat melihatnya, namun setelah dijelaskan oleh Hirota kedua pilot helikopter akhirnya baru mengerti.
Tak lama kemudian Nathan akhirnya sampai dan melihat aktivitas para personel yang sudah sangat sibuk di pagi hari.
__ADS_1
Karena datang lebih dulu, Nathan berjalan menggunakan pakaian santai yang membuat beberapa personel merasa heran saat melihatnya karena tidak mengenalkan sosok pemuda itu sendiri.
Seorang polisi militer mengira kalau Nathan adalah salah satu prajurit segera menegurnya untuk kembali ke dalam Barack dan menyuruhnya bersiap.
Nathan yang belum sempat menjelaskan akhirnya masuk ke dalam Barack dan bingung harus melakukan apa karena tidak tau dimana letak pakaian militer di sana.
"Apa kau baik-baik saja, kawan?" Tanya seorang personel yang ada disana saat melihat seorang pemuda tampak sedang kebingungan.
"Ah... Begini, bajuku tak sengaja terkena makanan tadi. Kalau boleh tau dimana aku bisa mengambil baju baru?" Ucap Nathan.
"Sepertinya kepala kamu bermasalah, tentu saja kamu bisa mengambilnya disana..." Balas prajurit tersebut sambil menunjuk kearah sebuah ruangan.
Nathan mengangguk dan masuk kedalam ruangan yang berisi pakaian baru untuk para prajurit. Ia kemudian segera mengambil salah satu pakaian dan memakainya sebelum pergi meninggalkan Barack.
Tetapi baru saja keluar Nathan tiba-tiba seseorang menghampirinya dan menyuruhnya pergi menuju lapangan terbang.
Nathan hanya mengangguk dan kemudian menuju lapangan terbang. Sesampainya di sana ia bertemu dengan empat orang prajurit yang sepertinya merupakan seorang pilot dan ada satu lagi orang yang tampaknya ada seorang instruktur.
"Oh... Kamu anak baru itu? Kemarilah!" Ucap instruktur memanggil Nathan untuk berkumpul dengan mereka semua.
Setelah Nathan berkumpul tanpa peringatan atau perkenalan ia langsung diberi arahan oleh sang instruktur untuk melakukan formasi terbang bersama dengan empat pilot lainnya.
Nathan yang ingin menjelaskan kalau ada kesalah pahaman di sana tidak diberi waktu untuk berbicara dan langsung diperintahkan masuk kedalam pesawat tempur Dassault Rafale.
Masing-masing dari mereka diberi arahan untuk menerbangkan sendiri pesawat tempur tersebut dan segera diperintahkan untuk bersiap.
Nathan yang sudah terkunci di dalam pesawat tampak kebingungan dengan banyaknya tombol dihadapannya. Ia jelas tidak tau cara mengoperasikan pesawat tempur dengan beberapa senjata bertenaga nuklir tersebut.
"Mampus aku... Sekarang bagaimana caranya aku menggunakan pesawat ini?" Gumam Nathan dengan raut wajah kebingungan.
"Kenapa sebelumnya anda tidak menjelaskan kepada mereka semua, Tuan?" Tanya Echelon.
__ADS_1
"Bukannya aku tak ingin menjelaskan, tapi orang-orang itu selalu memotong setiap perkataan yang baru saja akan aku ucapkan!" Balas Nathan dengan kesal.
"Sepertinya setelah bergulat semalam dengan dua wanita sekaligus Anda jadi sedikit aneh..." Sindir Echelon.