
"Heh... Jadi kamu menjalin hubungan dokter Emilia hanya untuk menguasai hartanya saja..." Sindir Kevin yang sangat iri dengan keberuntungan milik Nathan.
"Apa yang kamu bicaran. Tentu saja tidak dan ada apa dengan kalian bertiga. Iri?" Tanya Nathan dengan polos seolah merasa tidak bersalah telah mematahkan hati ketiga temannya.
Harry, Kevin, dan Robby berdecih kesal lalu mengalihkan pandangannya dari Nathan.
"Emilia, aku tidak bisa menerimanya. Bukannya aku sudah bilang kalau hanya ingin membeli alat bor bekas saja?" Ucap Nathan yang jelas menolak tawaran dari Emilia.
"Mana aku tahu, kalau mau protes silahkan saja temui ayahku..." Balas Emilia sembari duduk disamping Nathan yang membuat dada ketiga pria itu terasa sangat sesak.
Nathan menghela nafas dan membaca surat yang menyatakan bahwa Admiral Frank menyerahkan seluruh perusahaan nya kepada pria itu.
Melihat Nathan yang dengan santai membaringkan kepala diatas paha Emilia, mata Harry, Kevin, dan Robby terasa sangat perih kemudian mereka memutuskan untuk keluar karena tidak tahan melihat momen tersebut.
"Apa ayahmu yakin dengan ini semua. Ini sepertinya terlalu berlebihan..." Ucap Nathan saat membaca surat ditangannya.
"Ya, saat aku menceritakan kalau kalian ingin membangun sebuah perusahaan. Ayahku langsung mengeluarkan surat ini dari brangkasnya dan menyuruhku untuk memberikan nya kepadamu..." Balas Emilia sambil memainkan rambut milik Nathan dengan jarinya.
Meski senang karena mendapat batu loncatan dalam bisnis yang akan ia buat, Nathan hanya tidak suka kepada investor yang menanamkan modal di perusahaan milik keluarga Emilia.
Jika terpaksa Nathan ingin mengakusisi semuanya agar dimasa depan tidak ada masalah dengan perusahaan yang akan ia buat.
Tinggal 40% saham perusahaan yang belum menjadi atas namanya dan Nathan berencana membeli sisinya mengingat harga saham perusahaan itu sendiri tidak begitu mahal.
Disaat Nathan sedang memikirkan rencana untuk kedepannya, sebuah perkataan memancing tiba-tiba keluar dari mulut Emilia. "Apa kita tidak akan melanjutkan kegiatan pagi tadi, Nathan?"
Konsentrasi Nathan seketika pecah dan ia terkejut saat melihat mendengar perkataan Emilia barusan. "Unm... Aku tadi pagi hanya bercanda, jangan dianggap serius..."
Emilia menjadi kesal dengan Nathan yang hanya menggodanya saja. Ia menjadi kesal dan langsung menyingkirkan kepala Nathan dari pangkuannya.
"Kamu mau pergi kemana?" Tanya Nathan saat melihat Emilia yang beranjak pergi dengan kesal menuju kearah pintu.
"Aku ingin kembali bekerja!" Balas Emilia dengan ketus.
__ADS_1
"Baiklah..." Ucap Nathan dengan santai dan kembali memejamkan matanya untuk kembali memikirkan rencana yang akan ia buat supaya dimasa depan tidak perlu repot-repot bekerja lagi.
Suara pintu terkunci terdengar dan Nathan kaget saat Emilia berbaring diatasnya sambil memeluk dirinya. Tak hanya sampai disitu saja, Emilia juga langsung mencium Nathan dengan intens.
Dengan kasar Emilia melucuti pakaian Nathan hingga membuat kancing baju pria itu terlepas dan menampakkan tubuh atletis nya.
Ciuman Emili mulai turun dari mulut ke leher dan dada bidang Nathan sebelum berakhir saat ia hendak melucuti celana Nathan.
"Stop, siapa yang mengajarkan mu menjadi nakal dan agresif seperti ini?" Nathan berusaha menghentikan nafsu Emilia yang sudah tak terkendali.
Emilia tersenyum tipis dan mengeluarkan adik kecil milik Nathan dari sarangnya. "Tentu saja kamu!" Ucap Emilia sebelum melahap adik kecil milik Nathan.
Cara Emilia melakukannya kali ini terlihat sudah membaik setelah pengalaman pertamanya dimalam itu. Ia kini dapat menahan dan mengetahui titik sensitif Nathan.
Nathan hanya bisa diam sambil menahan suaranya dengan susah payah ketika tubuhnya dijadikan objek pelampiasan oleh wanita yang sepuluh tahun lebih tua darinya.
Beberapa saat setelah Nathan keluar. Emilia mulai melepas pakaiannya sendiri dan membuat Nathan dapat melihat bagian wanita itu yang sudah sangat basah.
Emilia mendekatkan wajahnya kearah wajah milik Nathan sambil meraba dada bidang pria tersebut. Ia kemudian memasukan adik kecil milik Nathan kedalam dirinya dan merasa puas dapat merasakan hal ini kembali.
Nathan yang awalnya enggan karena mendengar langkah kaki serta percakapan antar Marinir yang lewat didepan pintu kamar pada akhirnya menjadi tidak perduli lagi.
Pria itu berbalik menyerang dan mulai menghabiskan momen panas bersama dengan Emilia sampai puas yang membuat wanita tersebut sendiri harus merasakan nyeri.
*******
Seminggu pun berlalu dan Armada kapal yang dipimpin oleh Admiral Frank sudah bersandar di pelabuhan Pearl Harbor.
Para Marinir mulai turun kedaratan begitupun dengan Nathan dan Emilia yang sudah tidak ragu menunjukkan kedekatan mereka meski dihadapan Admiral Frank.
Dibelakang Nathan terlihat Harry, Kevin, dan Robby yang masih saja menggerutu melihat kedekatan pria itu bersama idola mereka.
Setibanya disana Nathan tidak menuju barack melainkan ia langsung pergi menggunakan Jeep menuju sebuah rumah kayu yang diberikan oleh Admiral Frank untuk dirinya tinggal sementara.
__ADS_1
Begitu sampai di sebuah pondok kayu. Nathan langsung melemparkan barang bawaannya ke sembarang arah dan melompat keatas kasur yang empuk.
Namun kali ini ia tidak sendirian malainkan bersama dengan Emilia. "Jangan langsung tidur begitu saja, mandi dulu!" Ucap Emilia.
Nathan menenggelamkan wajahnya ke bantal dan melambaikan tangan tanpa semangat karena ia sudah merasa nyaman dengan posisinya sekarang.
Melihat kelakuan Nathan, Emilia hanya bisa mengelus dada dan membereskan barang milik pria itu sebelum menuju dapur untuk memasak.
Emilia kini sudah terlihat seperti istri sungguhan. Meski sebenarnya memanglah benar setelah mengisi formulir pernikahan, tetapi mereka belum dianggap sah sebab belum melakukan upacara pernikahan sungguhan.
Ketika Nathan akan tidur pintu rumahnya ada yang mengetuk dan karena Emilia sedang memasak, ia pun terpasang yang membukakakan pintu.
Setelah membuka pintu Nathan dengan ekspresi datarnya mendapati ketiga temannya berkunjung kesana sambil membawa beberapa sepanduk.
"Apa yang kalian lakukan disini, aku baru saja ingin tidur siang..." Ucap Nathan sambil mengucek matanya dan menguap.
"Sialan, mentang-mentang mendapat calon istri cantik kamu jadi bertingkah seperti ini!" Ucap Kevin dengan ketus.
"Sebelum kamu melepas masa lajangmu, kita bisa berpesta terlebih dahulu. Bagaimana?" Ucap Robby.
"Untuk apa, membuang waktu saja..." Balas Nathan.
"Sigh! Apa kamu tidak tertarik, penyanyi itu akan melakukan konser untuk acara penyambutan kita di kamp!" Ucap Harry yang membuat mata Nathan terbuka lebar.
Nathan kemudian bergegas menuju dapur menemui Emilia. "Unm... Aku akan pergi sebentar bersama teman-teman ku untuk mengambil sesuatu di barack..."
"Mengambil apa, aku tahu kamu ingin menyaksikan konser bukan?" Tanya Emilia yang menatap Nathan sambil memegang spatula seolah ia mengancamnya jika hendak tetap pergi.
Emilia kini seperti seorang pawang yang telah menaklukkan seorang buaya liar.
"Aku hanya ingin meminta tanda tangan saja..." Ucap Nathan.
Melihat tatapan memelas Nathan, Emilia menjadi luluh dan mengangguk. "Baiklah, tapi awas saja jika kamu melakukan hal-hal aneh disana!"
__ADS_1
Nathan kemudian mencium pipi Emilia dan pergi bersama ketiga temannya menuju kamp. Tanpa Nathan sadari Emilia yang merupakan pawangnya merasa curiga dan memutuskan untuk membuntutinya.