
Seketika kedua mata Pria itu membulat terkejut. Kavin yang masih mengenal betul ciri-ciri orang yang menabraknya tadi pagi langsung mengetatkan rahang. Berbeda dengan Agler yang sedang tersenyum saat melihat seorang gadis, sedang menawarkan dagangannya. Dia masih ingat jelas wajah gadis yang sekarang menyungging senyum itu.
***
"Gadis aneh?"
"Gadis pelit bicara."
Kavin dan Agler berbicara secara bersamaan, dan membuat kedua pria itu saling tatap satu sama lain, "Lo kenal tuh cewek?" tanya mereka berdua secara bersamaan sambil telunjuk tangan kanan saling diarahkan ke cewek yang mereka maksud.
"Ehh kalian berdua kenapa sih?" celetuk Zaly yang melihat kelakukan dua sahabatnya itu, dan tangan mungilnya masih setia melingkar di lengan kiri Kavin.
Kavin yang mendengar itu, tak mau membalas perkataan Zaly. Pria itu malah memilih untuk melepas tangan Zely yang melingkar, dan melangkah mendekati wanita yang masih menjajarkan dagangannya pada seorang turis. Dengan raut geram, dan tangan terkepal, Kavin berjalan angkuh mendekati wanita yang masih berhutang permintaan maaf itu.
Sementara di sisi Mika. Sekarang gadis itu sedang menawarkan sebuah kalung berliontin cangkang siput berwarna putih bersih.
__ADS_1
"Berapa harganya?" tanya bule berjenis kelamin wanita yang terlihat paruh baya itu dengan bahasa inggris, dan membuat Mika menggangkat dua alisnya tidak mengerti.
"Berapa harganya," tegur seoeang bapak yang menjadi pramuwisata dari sepasang turis itu saat menyadari kebingungan Mika.
Mendengar itu Mika langsung tersenyum dengan memanggilkan kepala. Gadis ayu itu langsung bergerak dengan cepat mengambil buku, dan pulpen. Sekedar informasi, walaupun Mika tidak sekolah, dia sudah terlatih untuk menulis angka-angka.
Saat sudah selesai menulis, Mika hendak menunjukkan nominal harga kalung itu, tapi sebuah tangan besar menggenggam pergelangan tangannya dengan kasar, dan langsung memutar tubuhnya hingga kotak plastik yang berisikan dagangannya itu terjatuh.
"Walaupun saya tidak melihat wajah anda, saya masih mengenal jelas ciri-ciri anda Nona." Mika membulatkan mata terkejut, wanita itu langsung terdiam mematung.
Sementara turis yang tadi hendak membeli kalung itu, juga ikut terkejut, dan langsung menatap tajam Kavin yang dengan kasarnya memutar tubuh Mika, "Apa anda melupakan saya nona? Atau anda pura-pura tidak mengingat saya?" Mika masih diam dalam keterkejutannya, dan gadis itu langsung tersadar saat Kavin menguatkan genggaman tangannya.
Alhasil Mika hanya bisa memejamkan mata untuk menyalurkan rasa sakit yang menimpa pergelangan tangannya. Hanya itu yang bisa dia lakukan, karena percuma dia akan membuka mulut, kalau hanya keheningan yang akan terdengar.
"Hai Nona tanpa sopan santun. Cepat—aku menunggu kata maaf darimu," tuntut Kavin dengan mata masih menatap marah kepada gadis di depannya itu.
__ADS_1
"Tuan tolong lepaskan dia, gad-"
"Diam! Anda tidak tahu betapa tidak ada sopan santunnya wanita ini," ucap Kavin memotong perkataan pramuwisata itu, "Hai kau—kenapa masih diam saja! Kau itu tidak bisu! Cepat—katakan maaf," tuntut Kavin semakin menguatkan genggaman tangannya, dan membuat Mika perlahan mengeluarkan air matanya.
"Vin hentikan—apa kau tidak lihat kalau nona itu kesakitan?" Tiba-tiba Agler datang dari arah belakang, dan langsung menarik kasar tangan Kavin hingga terlepas dari lengan Mika yang sudah memerah.
"Kau tidak tahu apa-apa Lio. Pagi tadi gadis ini sangat tid-"
"Kavin sudah, lihat lengan gadis itu membengkak," potong Zaly dan membuat Kavin untuk melihat ke arah pergelangan tangan gadis itu.
Mika hanya bisa menunduk dengan rasa sakit di lengannya. Wanita itu ingin sekali mengucapkan kata "aduh" tapi tidak bisa. Kata-kata itu seolah tak mau keluar dari mulutnya menjadi sebuah suara. Alhasil gadis itu hanya menangis tanpa suara.
"Mika! Bukankah aku sudah pernah bilang untuk jangan berjualan di sini? Dasar gadis bisu! Tidak tahu diri!"
T.B.C
__ADS_1
Langsung aja like, vote, gift, komen, dan ini yang paling penting! BANTU SHARE!
Bay! Ingat yah!