Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
91. Terkejut.


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu yang lama. Mungkin sekita dua puluh lima menit, mobil putih Agler sudah berhenti tepat di depan gerbang coklat kediaman keluarga Bagaskara.


Agler bergerak menekan klakson mobilnya secara berulang. Itu dia lakukan, untuk membuka gerbang cokelat yang saat ini terlihat masih tertutup rapat.


"Entah kenapa aku merasa gugup malam ini, Lio," adu Zaly yang sedari tadi tidak pernah berhenti, untuk mengeluarkan raut cemasnya.


Agler yang melihat itu, bergerak menggenggam tangan Zaly yang ada di dashboard, "Tenangkan dirimu, dan percayalah kalau semua pasti akan berjalan lancar."


"Terima kasih," jawab Zaly dengan semakin melebarkan senyum.


Setelah mengatakan itu, Agler bergerak melepas genggaman tangannya di jemari Zaly. Pria dua puluh tujuh tahun itu, kembali melajukan mobil putihnya untuk masuk ke dalam halaman rumah keluarga Bagaskara.


Agler memarkirkan mobilnya tepat di belakang sebuah mobil berwarna hitam. Dia bergerak mematikan mesin mobilnya, dan langsung menolehkan kepala ke arah Zaly yang juga saat ini sedang menyungging senyum lebar.


Seketika Agler terdiam. Pria dua puluh tujuh tahun itu, malah terpesona dengan sosok wanita cantik yang saat ini tengah melihat ke arah luar. Tepatnya, ke sebuah halaman luas yang dulu tempat mereka bertiga bermain-main waktu kecil dulu.


"Kau ingat. Dulu kita sering berlari di halaman itu?" cicit Zaly sembari menolehkan kepala ke arah Agler.


Agler tidak menjawab. Malahan, dia semakin melebarkan senyumnya kala ia sekarang melihat kecantikan Zaly yang begitu nyata di malam hari ini.


Tetapi, Agler sadar kalau Zaly melakukan itu bukan untuknya. Melainkan, wanita itu berdandan sangat cantik hanya untuk Kavin seorang.

__ADS_1


"Agler, kau kenapa melihatku seperti itu?" Seketika kesadaran Agler kembali tersedot ke dalam raganya, dan itu berhasil membuat dia menyungging senyum kikuk.


"I—iyq, aku ingat semuanya. Malahan aku masih mengigat saat kau merengek meminta Kavin untuk menggendongmu, tapi-"


"Kau lah yang melakukannya, karena Kavin malah memilih mengurus miguel." Zaly dan Agler langsung tertawa, kala mereka mulai bernostalgia mengingat semua kenang-kenangan lalu.


"Ayok— jangan biarkan mereka semua menunggu lama di dalam," ajak Agler, dan Zaly menganggukkan kepala.


Wanita itu mulai bergerak untuk membuka pintu, tapi saat tangan lentiknya sudah menggenggam ganggang pintu mobil. Gerakan Zaly terhenti, dan itu juga berhasil membuat Agler yang tadinya sudah memijakkan satu kakinya di jalan paving blok, berhenti, "Ada apa?" Agler bertanya dalam.posis kepala sampai dada sudah berada di luar, tapi punggung dan juga pantatnya masih berada di dalam mobil.


"Tidak— ayok," jawab Zaly pada akhirnya, dan wanita itu juga langsung keluar dari dalam mobil.


***


Kedua pasangan itu, nampak akrab dengan Rama, Adena, dan juga Bagas. Sedari tadi mereka berbincang-bincang diselingi tawa renyah yang keluar dari dalam mulut mereka.


Berbeda dengan ekspresi Agam, yang saat ini terlihat sangat jengah. Bergama tidak jengah? Sedari tadi para bapak-bapak dan ibu-ibu itu membicarakan segala aktivitas yang harus dia lakukan di usia tua.


Tentu saja, Agam yang masih berusia dua puluh dua tahun itu. Memilih sibuk dengan ponsel yang sekarang dia gunakan untuk melihat status wa yang dibuat oleh teman-temannya.


Agam menaikan satu alis matanya, saat dia membaca nama kontak "Abang Kavin" terdapat di urutan pertama di pembaruan status terkini.

__ADS_1


Seketika Agam membulatkan mata terkejut, dan dia juga tersedak dengan ludahnya sendiri saat dia melihat status Abangnya yang begitu tidak bisa di percaya. Bahkan sekarang Agam sampai-sampai menggelengkan kepalanya.


"Ada apa nak?" tanya Adena yang tadi tak sengaja melihat putra kesayangannya bersikap aneh.


"Ti—tidak kenapa-kenapa Ma. Agam tadi hanya kaget lihat sw temen Agam," alibi Agam dengan membawa-bawa kata-kata temen, 'apa yang gue lihat tadi, pasti enggak bener,' imbuh Agam dalam hati, dan dia kembali melihat sw sang Abang dengan seksama.


"Dasar bocah," sindir Rama, membuat Agam menaikan pandangannya melihat sang Papa yang sedang menatap dirinya dengan tatapan mengejek.


"Dasar orang tua," cicit Agam, dan Adena dan keempat orang lainnya langsung terkekeh.


"Di mana calon prianya?" tanya Dia— Brian Davin Adelio, Papa dari Agler Adelio.


Brian Davin Adelio, iyalah seorang pria paruh baya yang usianya baru menginjak kepala lima. Biar begitu. Brian yang aslinya keturunan barat, masih terlihat maskulin walau pun banyak uban yang sudah tumbuh di rambut, dan juga berewok tipisnya. Tinggi, dan bentuk badannya yang tegap juga membuat pria paruh baya itu, tidak nampak tua seperti usia aslinya.


"Iya, kemana atuh calon pengantinnya," celetuk Dia— Alisah Adelio, istri sekaligus ibu kandung Agler.


Alisah Adelio, seorang wanita paruh baya yang usianya juga hampir masuk kepala lima. Dia yang kerap dipanggil teteh Alis itu, iyalah seorang wanita keturunan betawi asli. Tetapi, anehnya Agler malah tidak ada miripnya dengan sang ibu. Malahan garis wajah pemuda itu, sangat-sangat mirip dengan milik sang ayah.


"Beberapa jam yang lalu. Kavin menelepon, kalau dia sudah berangkat," jawab Rama sekenanya, karena memang beberapa jam yang lalu Kavin menelepon kalau dia akan segera pulang.


"Jadi, Kavin masih belum sampai ke sini, Paman?" celetuk Zaly yang baru saja memasuki ruang tamu keluarga Bagaskara.

__ADS_1


"Tidak— aku sudah sampai kok," jawab seorang pria dari arah belakang yang sontak membuat semua orang menolehkan kepala, dan raut terkejut langsung tercetak jelas di wajah mereka masing-masing.


__ADS_2