
...Padahal nih bab sudah siap dipublish kemarin, but target tidak tercapai. Jadilah, aku update sekarang😙😙😙....
...Selamat membaca yah para sahabat paris, dan semoga selalu suka😙😙😙😙...
...14700 Hadiah, untuk double update. Jadi, yok push hadiahnya, dan jangan kasih kendor 😙...
...****************...
"Apa ini gurauan, Kavin?" tanya Rama dengan mengeluarkan raut tidak percaya. Sementara yang lainnya, hanya melongo seolah mereka masih belum bisa mencerna maksud dari semua ini.
"Tidak— Lio. D—dia bukannya gadis waktu itu kan? Iya kan? Lio, ini tidak mungkin kan? Pasti ini mampikan, Lio?" Beribu pertanyaan langsung keluar dari mulut Zaly yang saat ini sudah berdiri menghadap ke arah Kavin.
"Ini pasti mimpi."
plak!
"Bangun! aku harus bangun!"
plak!
Zaly meracau, dan wanita itu juga mulai bertingkah aneh dengan menampar wajahnya sendiri, "Bangun-"
"Zaly, hentikan. Kau jangan seperti ini." Agler langsung bergerak cepat mencekal pergelangan tangan Zaly yang hendak melayangkan tamparan di wajah putihnya.
Namun, sekarang wajah putih itu sedikit dihiasi oleh warna merah bercorak tangan, "Dia— dia bercanda kan, Lio? Kalau ini bukan mimpi, pasti sekarang Kavin sedang bergurau kan? Iya kan, Lio?" tanya Zaly sembari menggenggam kerah jas Agler sangat erat, seolah dia memaksa Agler untuk menjawab iya.
Namun, Agler hanya bungkam. malahan pria itu sekarang sedan memeluk Zaly agar dia tidak hilang kendali, "Lio, kau jangan diam saja. jawab pertanyaanku. Pasti sekarang Kavin sedang mempermainkan kita kan? Bilang iya, sekarang!" paksa Zaly, tapi tidak. Agler tidak tahu harus jawab apa.
__ADS_1
Karena dilihat dari pakaian kedua orang yang ada di depannya itu, mereka seperti sudah melakukan pernikahan. Bahkan sekarang Kavin sedang menggenggam erat tangan seorang wanita, yang tidak pernah dia lakukan ke wanita manapun.
Begitu juga dengan Zaly. Bahkan Kavin tidak pernah sesekali menggenggam tangan wanita yang ada di pelukan Lio saat ini. mereka akan melakukan kontak fisik, jika Zaly yang pertama kali melakukan itu. Seperti bergelantung di lengan Kavin, walau pria itu selalu menampilkan ekspresi risih.
Rama yang masih melihat seluruh keluarga bungkam, mulai bergerak mengayunkan langkah mendekati anak sulungnya. Dengan tatapan tajam, pria paruh baya itu mengayunkan langkah angkuh.
Keheningan semakin menyelimuti ruang tamu, tepat saat langkah Rama terhenti di depan Kavin. Tidak ada kata-kata yang Rama ucapkan, karena sekarang pria paruh baya itu tengah melihat ke arah gadis yang saat ini sedang menundukkan kepala, dan semakin mempererat genggaman tangannya di jemari Kavin.
"Jangan memandang istriku seperti itu, Papa. Kau akan membuatnya takut." Pada akhirnya Kavin lah yang terlebih dulu memecahkan keheningan saat dia merasakan, tangan Mika— gadis yang dia panggil istri itu basah.
"Kavin, Berhenti bercanda karena ini tidak lucu, NAK." Rama berucap dengan nada tenang, tapi dia menekan kata-kata akhirnya.
"Dan kau...." Rama memperhatikan penampilan Mika yang sudah menegakkan kepalanya, karena tadi dia mendengar kalau dirinya dipanggil, "Kau pasti pelayan, atau semacamnya bukan? Berapa yang anakku bayarkan padamu, hingga kau berpura-pura seperti ini?"
Mika yang mendengar kata bayar, langsung berpikir kalau pria paruh baya di hadapannya ini mengira dirinya adalah wanita bayaran.
"Papa-"
"Diam! Hai kau....." Rama mulai membentak, dan pandangan pria paruh baya itu sudah beralih ke arah amak Kasim yang berdiri di belakang, "bawa anak ini pul-"
"Tidak! dia tidak akan pulang, karena gadis yang papa nilai penampilan dan rupanya jelek ini adalah istriku. Aku datang ke mari hanya untuk meminta restu dari Papa."
Seketika ucapan Kavin, membuat semua orang terkejut. Begitu juga dengan Zaly yang sedari tadi menahan takut, "Tidak! Ini Tidak mungkin!" jerit Zaly, dan wanita itu langsung jatuh pingsan karena saking sohknya dia mendengar hal itu.
Jeritan Zaly sontak membuat semua orang tersadar. Begitu juga dengan Bagas yang langsung tunggang-langgang berlari mendekati anaknya.
"Lio, bawa Zaly ke kamar!" perintah Rama, dan pria itu langsung membopong tubuh tak sadarkan diri Zaly diikuti oleh Bagas yang mengeluarkan raut penuh kepanikan.
__ADS_1
"Kapan kalian menikah?" tanya Rama dengan suara yang mulai terdengar tenang.
Kavin yang mendengar nada bicara sang Papa, langsung mengerutkan keningnya, "Beberapa jam yang lalu, sebelum kam- awwww, by sakit." Penjelasan Kavin terhenti saat Mika menghadiahkan satu cubitan di perut Kavin.
"Kenapa suka sekali kamu cubit perutku hem?" tanya Kavin dengan tatapan mata menatap teduh ke arah Mika.
Sementara Mika. Padahal gadis itu hampir saja menangis, tapi saat dia merasakan genggaman tangan Kavin. keinginannya untuk mengeluarkan air hangat itu, menguap.
Mika sekarang sedang menatap tajam ke arah Kavin, dan itu seolah memperlihatkan kalau. Mika ingin Kavin mengatakan yang sejujurnya.
"Sebenarnya kami belum menikah." Rama yang mendengar penuturan anaknya, langsung menarik kedua sudut bibirnya. Tetapi, itu hanya sepersekian detik, dan setelahnya senyum itu luntur saat Kavin kembali berucap.
"Belum bukan berarti tidak, Papa." Perkataan itu, sontak membuat Rama menaikkan satu alisnya.
Kavin yang melihat itu langsung menguatkan genggaman tangannya di jemari Mika— calon istrinya, "Kavin datang ke sini, bukan untuk ikut berkumpul, dan membahas hal bodoh bersama kalian semua. Tetapi, Kavin datang ke sini hanya untuk meminta izin ke Papa, untuk menikahi gadis ini." Kavin menjeda ucapannya hanya untuk melihat ekspresi ayahnya.
"Awalnya— Kavin akan langsung menikahi dia di NTB, tapi calon istri Kavin menolak, dan meminta Kavin untuk menemui Papa. Itu saja sih, dan sekarang Kavin meminta persetujuan dari Papa. Tetapi, jika Papa tidak setuju, Kavin akan tetap menikah dengan Mika, karena Kavin mencintainya." Terang Kavin panjang lebar, dan Rama masih tetap diam dengan wajah tenang.
"Papa tidak perlu khawatir, karena Kavin tidak akan meminta biaya pernikahan sepeserpun dari Papa. Kavin punya tabungan, dan jumlahnya Kavin rasa cukup untuk menyewa gedung, dan semacamnya," terang Kavin kembali, saat dia mengira Papanya bungkam karena mempermasalahkan biaya.
Kavin lagi-lagi dibuat bingung, karena Papanya masih saja tidak mengeluarkan sepatah kata pun, "Kenapa Papa diam? Jika Papa diam, karena mengira Kavin akan tinggal di sini setelah menikah, jawabannya tidak akan. Kavin punya apartemen yang mampu menampung Kavin dan istri Kavin. jadi, Papa jawab saja. mengizinkan Kavin menikah, atau Tidak."
"Apa Kau sudah berhenti mengoceh?" tanya Rama, dan itu berhasil membuat Kavin menaikkan satu alis matanya, "Kenapa setelah pulang berlibur, kau berubah menjadi orang yang banyak bicara, nak?" imbuhnya, dan Rama bicara dengan terus menyungging senyum.
"Kapan kalian akan menikah?"
...T.B.C...
__ADS_1
...Capai target hadiah 14700 dulu, kalau mau tahu kelanjutannya😙😙😙...