
...Ada waktu gays, aku update yah....
...17000 Hadiah aku update lagi, dan jika belum sampai Terget 17000, maka tunggu hingga tercapai baru aku update lagi....
...Cepat capai target, maka cerita ini bakalan cepat update....
...Dan sebaliknya. Kalau lama, yah tunggu aja hingga target tercapaiš¤š¤...
...****************...
Jam terus saja berjalan sesuai putarannya, hingga tak terasa hari yang tadinya siang, sekarang sudah berubah menjadi gelap. Begitu juga dengan matahari yang mulanya ada di sana, sudah berganti menjadi bulan sabit, dengan jutaan bintang sebagai penghias.
"Macet lagiā macet lagi." Kavin yang duduk di balik kemudi menggerutu, membuat Mika yang sedari tadi melihatnya terkekeh dengan mata terpejam, dan pundak yang bergerak-gerak.
Merasa ada yang sedang memperhatikannya, Kavin menoleh dan kedua matanya langsung terkunci melihat paras ayu Mika yang dihiasi senyum.
"Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja
Terus mengingatmu
Semua tentang dirimu.
Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja
Tak Seperti kamu
Yang mampu tanpaku
Bagaima~na."
Bertepatan dengan pandangan matanya yang terkunci. Lantunan lagu milik Judika, menggema memenuhi area mobil, membuat Kavin hanyut, dan langsung mengingat sosok Mika yang dia lihat beberapa jam lalu.
__ADS_1
Dalam pikiran Kavin, sosok Mika yang itu masih belum bisa dia percaya, dan....
Tin! Tin! Tin!
Puk!
Mika menepuk pipi Kavin, saat dia mendengar suara klakson kendaraan yang berada di belakang mobil mereka. Kavin tersadar, dan matanya langsung berkedip-kedip.
Mika lagi-lagi mengeluarkan kekehan bisu miliknya, karena Kavin terlihat sangat lucu jika seperti itu, "Kamu membuatku kehilangan fokus, sayang." Kavin berucap sembari menginjak pedal gas mobilnya secara perlahan, karena sekarang mereka berdua sedang terjebak di dalam kemacetan lalu linta ibu kota.
Iya, sekarang di dalam mobil itu hanya ada Kavin dan Mika saja. Sedangkan dua orang lainnya sudah pergi entah kapan, Kavin tidak tahu. Tetapi, yang jelas. Tadi Agler mengirimkan dia SMS yang mengatakan kalau dia dan Zaly akan pulang terlebih dulu.
Mendapatkan pesan seperti itu, tentu saja membuat Kavin merasa sangat-sangat bahagia. Begitu juga dengan Mika. Gadis itu sudah tidak merasa canggung lagi, karena di dalam mobil ini hanya ada dirinya dan juga Kavin.
"Sayang." Kavin memanggil dengan nada sangat-sangat lembut. Terlebih lagi suara serak basahnya itu begitu nyata di telinga Mika.
Sementara Mika yang dipanggil dengan sebutan sayang, langsung menoleh dengan kepala yang dia gerakkan ke atas, seolah mengatakan, "Ada apa?"
Kavin melirik cepat untuk melihat Mika, dan setelahnya. Dia kembali fokus melihat ke jalanan, "Tangan kananmu tolong genggam yang itu." Kavin berucap sembari menunjuk persneling dengan lirikan.
"Dipegang saja, dan jangan kamu gerakkan ke depan atau belakang," imbuh Kavin dan Mika hanya menganggukkan kepalanya.
Gadis desa itu mengulurkan tangan kananya, dan dia langsung menggenggam persneling dengan biasa saja. Tetapi tepat setelah tangannya kananya berada di sana, tiba-tiba tangan Kiri Kavin ikut menggenggum persneling itu, dan jadilah sekarang mereka saling menggenggam.
Namun, bedanya. Mika menggenggam persneling. Sedangkan Kavin menggenggam erat tangan Mika, "Sekarang rebahkan sisi kepalamu diototku!" perintah Kavin, tapi Mika tidak bergeming, karena degup jantungnya tiba-tiba tidak terkendali, dan itu membuat dia diam mematung.
Kavin yang melihat Mika masih diam, menghentikan laju mobilnya, karena dia lagi-lagi terjebak di tengah-tengah jalan, dan dikerumuni oleh banyak kendaraan. Entah itu roda dua, empat, bahkan truk.
"Ngelamun mulu,' bisik Kavin, dan itu berhasil membuat Mika tersadar.
Kavin langsung saja mengeluarkan kekehan saat melihat ekspresi Mika yang terkejut, "Lagi mikirin apa, hem?" Kavin bertanya sembari tangan kanan bergerak meniduri kepala Mika di lengan bagian ototnya.
__ADS_1
Jadilah sekarang Mika dalam posisi setengah tiduran, dengan otot kekar Kavin yang dia jadikan bantal. Sedangkan posisi tangan mereka berdua masih setia berada di persneling, "Aku nanyak, lagi mikirin apa sih?" tanya Kavin diselingi dengan gerakan mengecup singkat pucuk kepala Mika.
Mika yang mendengar itu hanya menggelengkan kepala, dan Kavin bisa merasakan gelengan itu, "Terus tadi kenapa diam?" imbuhnya lagi, dan Mika juga langsung menjawab dengan gelengan, karena sekarang hanya itu yang dia bisa lakukan. Masak iya dia harus melakukan isyrat tangan, dan membuat Kavin tidak konsen mengemudi.
"Capek?" tanya Kavin lembut, sembari terus melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan.
Mika mengangguk, dan itu bisa Kavin lihat dari kaca spion yang tergantung di langit-langit mobil, "Sabar yah, sebentar lagi kita akan keluar dari kemacetan ini," imbuh Kavin, dan dia tidak merasa sedih, karena harus bicara sendiri.
Mika hanya menganggukkan kepala, dan sedetik kemudian. Dia bergerak menepuk lembut pipi Kavin. Hal yang dia harus lakukan untuk memanggil calon suaminya itu.
Sedangkan Kavin yang pipinya ditepuk hanya bisa berdeham, dan matanya terus saja fokus ke arah jalanan.
Mika kembali menepuk-nepuk pelan pipi Kavin dengan tangan kirinya, agar perhatian pria itu bisa dia ambil, "Sayang, bentaran dulu," protes Kavin dengan nada bicara yang sangat pelan, dan tentu saja penuh kelembutan.
Mika yang mendengar itu mengangguk patuh, dan dia langsung melingkarkan tangan kirinya di lengan sang calon suami, dan itu berhasil membuat Kavin tersenyum.
"Calon istriku memang pengertian, dan penurut. Tunggu aku keluar dulu dari jalanan macet ini yah," puji Kavin sembari bergerak mengecup pucuk kepala Mika.
Mika yang mendengar itu hanya mengangguk patuh. Jika saja dia bisa bicara, dia pasti akan langsung mengatakan keinginannya, dan selang beberapa menit mobil pun berhasil keluar dari kemacetan.
Kavin bergerak menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dan setelahnya. Dia langsung menatap ke arah calon istrinya, "Ada apa?" tanya Kavin, dan Mika dengan satu tangan kiri langsung bergerak melakukan isyrat.
"Aku lapar."
Kavin yang melihat isyrat singkat itu, bergerak menaikkan satu alisnya, "Hanya itu?" tanya Kavin, dan Mika dengan polosnya mengangguk.
"Baiklah. Karena calon istriku ini laper. Kita akan mampir ke restoran dulu, dan setelah itu kita akan pulang. Gimana? Mau?"
Mika yang mendengar itu langsung membulatkan mata, dengan mulut yang mengembangkan senyum, "Dasar," ujar Kavin singkat, dan dia kembali melajukan mobilnya untuk pergi ke sebuah restoran.
...T.B.C...
__ADS_1
...Senyumin aja dulu kan?...
...Kepo enggak dengan part selanjutnya?...