
NTB, Kuta beach, 10.02
Tidak terasa matahari semakin naik. Pantai Kuta yang tadinya sepi, sekarang mulai dipenuhi pengunjung. Wajar saja banyak yang datang, karena sekarang hari libur, dan orang-orang akan menghabisinya dengan pergi ke tempat-tempat wisata. Contohnya adalah ini, pantai Kuta yang sudah terkenal hingga mancanegara. Jadiābukan hanya wisata dalam negeri yang mendatangi pantai Kuta, melainkan banyak juga wisatawan asing yang rela menghabiskan ratusan dollar hanya untuk menikmati keindahan salah satu surga dunia di Lombok ini.
Di kawasan pemukiman warga, atau lebih tepatnya di salah satu gubuk kecil yang terlihat lusuh dengan atap yang bolong di tempat-temapt tertentu, dan dinding yang terbuat dari anyaman bambu yang terlihat sudah termakan usia. di dalam gubuk itu juga tidak luas, melainkan hanya ada satu ruangan kecil dimana dapur, tempat tidur menjadi satu.
Tidak ada peralatan elektronik yang ada di sana, karena buat apa ada barang-barang itu, jika sambungan listrik saja tidak ada di gubuk itu. Namun, Mika yang tinggal di gubuk tidak layak pakai itu, tak mempermasalahkan itu semua. Punya rumah untuk berteduh, dan tempat untuk tidur saja sudah cukup untuk gadis yang memiliki takdir menyedihkan itu.
__ADS_1
Dari dia masih berusia enam tahun, gubuk kumuh yang sudah ditinggalkan inilah, yang telah memberikan dia tumpangan, perlindungan, dan tempat untuk berpulang Seelah berkeliling untuk menjajarkan pernak-pernik yang dia dagang.
Seperti yang pernah aku katakan. Dari usia enam tahun, Mika bertahan hidup dari berdagang. Walaupun jualannya laku keras, upah yang akan dia dapati adalah 30.000,00. Sedikit memang, tapi gadis itu selalu tersenyum. Asalkan bisa makan, dan menyambung hidup, pasti akan dia jalankan.
Mika tipe cewek yang tidak punya keinginan lebih, dan walaupun punya. Keinginannya itu pasti hanya menjadi angan, karena tidak ada yang bisa memberikannya. Mungkin, anak yang memiliki ayah, dan ibu akan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan, toh tinggal merengek pasti barangnya dateng. Akan tetapi, Mika tidak bisa melakukan itu. Bagaimana dia bisa merengek? Ayah dan ibunya saja dia tidak tahu.
Jadi dia hanya bisa mengubur seluruh keinginannya. Ingin beli baju bagus saja dia harus berpikir keras. Gaji yang dia dapatkan sebagai pedang saja tak menentu, dan 30.000,00 itu dia dapatkan jika dagangannya laku keras, gimana jika tidak ada yang membelinya? Dia pasti akan kelaparan. Namun, Mika memiliki satu keinginan. Bahkan dari kecil dia menginginkan hal di mana setelah bangun tidur, mulutnya secara ajaib akan mengeluarkan suara. Tapi itu hanyalah sebuah angan, dan tidak mungkin menjadi nyata.
__ADS_1
Sekarang penampilan Mika sudah berubah. Pakaian, dan roknya yang kotor sudah berganti menjadi bahan layak pakai, walau di rok kain bermotif bunga itu, terdapat beberapa tempelan bekas jahitan. Dia tidak membeli semua pakaian ini, tapi Mika mendapatkannya dari tetangga-tetangga yang perihatin kepada kondisinya.
'ayok Mika semangat. Ayok kita berdandan mencari cuan untuk bertahan hidup dulu!' seru Mika hanya bisa di dalam hati. Gadis yang sudah terlihat sedikit menjadi manusia cantik itu, berbalik, berjalan mendekati kotak persegi panjang plastiknya, dan langsung melangkah keluar untuk mencari lembar-lembar rupiah agar bisa bertahan hidup.
T.B.C
Di sini aku hanya ingin berpesan.
__ADS_1
Dari part ini kita bisa belajar untuk tidak menelantarkan anak. Rawatlah mereka, dan mentang-mentang mereka terlahir dalam ketidak sempurnakan, kalian buang, dan tinggalkan begitu saja. Pikirkan nasib anak itu, baru kalian mengambil keputusan.
Semoga suka part iniš ingat BANTU SHARE. Jangan lupa masukkan ke rak! Like! Komen! Dan juga giftnya.