Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
59. But, I will stay here for you


__ADS_3

...Besok Malam Minggu Yah?...


...Aku kasih tantangan nih, mudah kok. Cuma capai 9500 hadiah, dan besok malam aku up 5 Part untuk kalian....


...Mau enggak? Kalau mau, yok capai 9500 hadiah....



...(Aku akan pulang, jika kau mengizinkannya)....


...*...


...(Alfarizi Kavindra)...


...***...


Setelah masuk ke dalam ruang kamar, pandangan mata Kavin langsung tertuju pada Mika, yang saat ini tengah duduk di atas brankarnya. Pandangan mata gadis itu, menoleh ke jendela yang tengah terbuka di samping kanan.


Seutas senyum terlukis di wajah Kavin, "Kenapa enggak istirahat?" tanya Kavin, membuat kepala gadis itu menoleh ke arahnya.


Kedua tangan Kavin kembali bergerak memutar vleg yang ada di sisi roda, agar dia bisa bergerak mendekat ke brankar tempat berbaring Mika saat ini.


Sementara Mika. Gadis itu, masih terdiam dengan kedua mata terus melihat Kavin yang saat ini kesulitan untuk menggerakkan kursi rodanya. Tidak ada seutas senyum di wajah gadis itu. Malahan sekarang, dia tengah menatap penuh sendu ke arah Kavin.


Kavin yang masih fokus menggerakkan kursi rodanya, tidak begitu memperhatikan Mika, "Ck— sialan!" decak Kavin diakhiri oleh umpatan, karena kursi roda itu begitu sulit untuk digerakkan.


Padahal, Kavin sering melihat orang yang memakai kursi roda. Begitu mudah sekali menggerakkan benda ini, tapi kenapa pas Kavin coba, sesulit ini untuk menggerakkan kursi menyebalkan itu.


Walau begitu, Kavin terus berusaha. Hingga dia menegakkan kepala, saat berhasil sampai tepat di depan brankar Mika, "Kenapa kau menangis gadis desa? Apa kau merasakan sakit? Katakan, di mana yang sakit itu?" Kavin mulai ceriwis, membuat Mika tersenyum sembari menggelengkan kepala di sela tangisan tak bersuara miliknya.


"Hai kenapa kau tersenyum seperti itu. Aku tadi bertanya, apa ada yang sakit?" tanya Kavin dengan menajamkan tatapan matanya ke arah Mika.

__ADS_1


Mendengar itu, Mika semakin menggelengkan kepala, dan kedua tangannya bergerak menghapus kasar air-air hangat yang saat ini mengalir keluar dari pelupuk matanya.


Kavin yang melihat itu langsung bergerak bangkit dari kursi rodanya, dan Kavin mencoba berdiri dengan mata terpejam, karena tepat saat kakinya menapak ke marmer. Rasa sakit langsung menjalar dari telapak kakinya, menuju ke seluruh bagian tubuhnya.


"Kau geser sedikit," pinta Kavin. Mika yang saat ini tengah menunduk, mulai menggeser posisi duduknya sedikit lebih ke pinggir, agar Kavin juga bisa menduduki pantatnya di brankar yang saat ini dia gunakan.


"Hentikan tangisan itu. Kau kira, jika kau menangis aku akan merasa kasihan? Tentu itu tidak akan pernah terjadi gadis desa," tutur Kavin dengan nada songong sembari bergerak mendudukkan pantatnya di pinggiran brankar.


Mika yang merasakan Kavin sudah duduk di brankar, menghentikan tangisannya. Gadis itu mendongak, dengan kedua mata yang masih berkabut, dan tanpa Kavin duga. Mika langsung memeluk tubuh Kavin.


Mika kembali menangis di dada bidang Kavin, yang sekarang terbalut baju pasien rumah sakit. Seketika otak Kavin berhenti bekerja, dan dia juga langsung terdiam mematung. Matanya berkedip, seolah masih bingung dengan apa yang saat ini terjadi.


Hingga sebuah embusan angin cukup besar, membuat kesadaran, dan jalan kerja otak Kavin kembali normal. Hingga dia sadar, kalau saat ini Mika tengah menangis di dada kokoh miliknya.


Kavin memejamkan mata, untuk merasakan butiran-butiran hangat yang mulai membasahi baju yang ada di bagian dadanya, 'sial! Aku mau membalas pelukannya, tapi jika dia besar kepala. Mau ditaruh di mana mukaku?' batin Kavin yang sekarang tengah bimbang antara ingin membalas atau tidak pelukan Mika.


Akhirnya, setelah berpikir panjang Kavin mulai melingkarkan tangannya di punggung Mika. Jika kalian mengira, pria itu akan membuang gengsinya, maka kalian salah besar, karena itu tidak akan terjadi.


"Aku tidak pernah memintamu untuk memelukku yah. Ini semua, keinginanmu. Jadi, untuk menghargainya, aku akan membalas pelukanmu, tapi kamu jangan besar kepala dulu, karena aku tidak ada niat membalas ini sebenarnya," celoteh Kavin kelabakan, membuat Mika menyunggingkan senyum.


Kavin yang menyadari Mika sudah berhenti memeluknya, sedikit merasakan kehilangan. Tetapi, dia bisa menyembunyikan rasa itu, dengan ekspresi singing khas miliknya.


Mika dengan keadaan tubuh yang masih lemah, bergerak membuat isyarat tangan, "Mereka membakar tempat tinggal saya." Setelah melakukan gerakan isyrat tangan itu, Mika kembali menangis.


Dia bergerak menyeka air matanya, dan kembali melakukan isyrat tangan lagi, "Memang apa yang aku perbuat, hingga mereka tega membakar tempat tinggal saya satu-satunya? Saya tidak pernah mengusik mereka sekalipun, tapi...." Mika tidak bisa melanjutkan isyrat tangannya, karena rasa sakit semakin menjalar di hatinya. Terlebih lagi, rasa nyeri diperutnya, belum sepenuhnya menghiasi, dan saat ini masihlah sangat sakit.


Akhirnya, gadis itu hanya bisa menutup wajah hitam manisnya itu, dengan kedua tangan, dan dia kembali menumpahkan tangisannya.


Kavin tidak menimpali, ataupun melakukan gerakan. Sekarang pria itu malah membiarkan Mika menangis, karena dia juga pernah merasakan rasa sakit akan kehilangan.


Mika kembali menatap Kavin, dan pandangan matanya tidak lupa melihat ke kedua kaki Kavin yang saat ini diperban. Mika kembali melakukan isyrat tangan, "Maaf, gara-gara saya. Kaki Tuan terluka, dan sekali lagi saya minta maaf."

__ADS_1


"Aku tidak memperdulikan luka yang ada di kakiku saat ini. Bagiku keselamatanmu lah yang saat itu paling penting. Kamu tahu, tadi aku merasa takut jika kamu kenapa-kenapa, aku takut jika kamu meninggalkanku. Pokoknya saat itu, aku sangat-sangat ketakutan." Spontan bibir Kavin mengucapkan kata-kata yang sedari tadi muncul di hatinya.


Mika yang mendengar itu, hanya bisa tersenyum, dan langsung melakukan isyrat, "Terima kasih, karena Tuan menghawatirkan saya. Jika saja Tuan tidak menyelamatkan saya, Mungkin saya sudah berada di tengah lautan sekarang ini."


'hah khawatir? Dari mana dia menyimpulkan kalau aku khawatir? Ap— sialan. Apa yang aku ucapkan tadi? tidak-tidak, pasti gadis desa ini sedang besar kepala sekarang.' batin Kavin setelah menyadari ucapan tanpa sadarnya tadi, yang berhasil membuat Mika menyadari kalau dia sempat menghawatirkan gadis desa itu.


"Eh! Jangan besar kepala dulu kau. Aku mana pernah menghawatirkan gadis desa seperti kau, tapi aku melakukan itu, karena takut terjadi sesuatu denganmu," ujar Kavin, tapi itu tidak mampu melunturkan senyum Mika, karena gadis itu sudah kebal dengan sifat tak jujur Kavin.


Iya, setelah tiga hari bersama Kavin. Dia sudah sedikit mengerti cara otak pria kota itu bekerja, "Lagian sebenarnya aku mencari kau, untuk berpamitan karena aku akan pulang ke ibu kota."


Senyum di wajah Mika luntur seketika, dan gadis itu langsung melakukan isyrat tangan, "Kapan Tuan akan berangkat?"


Kavin hanya menaikkan kedua pundaknya, dan dia seolah enggan untuk mejawab pertanyaan Mika tadi, 'bukan isyrat itu yang ingin aku lihat bodoh,' gerutu Kavin dalam hati.


Mika yang melihat pria kota itu diam, kembali melakukan isyrat tangan, "Apakah besok? Tapi keadaan kaki Tuan tidak memungkinkan."


Kavin menghela napas lelah, "dasar bodoh. Aku mau kau melakukan isyrat tangan yang artinya, apa kamu mau meninggalkanku dalam keadaan seperti ini? Jadi, cepat lakukan isyrat itu, gadis desa!" perintah Kavin, dan dengan bodohnya Mika menganggukkan kepala.


Mika mulai melakukan isyrat tangan yang berarti, "Apa kamu mau meninggalkanku dalam keadaan seperti ini?"


Kavin yang melihat isyrat tangan itu langsung mengeluarkan raut wajah songong khas miliknya, "Jadi, karena kau begitu menginginkanku untuk tetap di sini. Aku dengan terpaksa akan tinggal di sini bersama denganmu. Tetapi, aku punya syarat. Setelah keluar dari rumah sakit, kau harus merawat diriku, hingga kedua kakiku sembuh."


Mika melongo, karena dia tidak begitu mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kavin, 'ya tuhan, kenapa otak pria kota ini semakin tak waras?' batin, dan wanita itu langsung menganga mengeluarkan jeritan bisunya, dengan kedua mata membulat, karena Kavin tanpa hatinya menekan pipi Mika yang saat ini membiru.


"Kenapa? Apa itu sakit?" tanya Kavin tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


...T.B.C...


...Part ini gimana?...


...Yok tulis di kolom komentar....

__ADS_1


...Sesuai yang aku katakan di atas. Jika mau aku up 5 Part malam Minggu besok, Yok capai target hadiah 9500. ...


...See you next part....


__ADS_2