Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
Part 50. Apa Aku Akan Mati?


__ADS_3

...Seperti yang aku janjikan, jika tiket Vote sudah 35 aku update lagi. Ehh ternyata tiket Vote lebih dari 35. Terima kasih buat yang sudah berkenan memberikan tiket Vote....


...Tantangan lagi untuk melihat antusias kalian terhadap cerita ini....


...5000 Hadiah + 40 tiket Vote, aku langsung update....


...Bisa enggak yah?...



...(Tidak ada rasa sakit yang aku rasakan. Apakah ini yang dinamakan jurang kematian)?...


...***...


Bukannya takut, Mika malah menatap berani ke arah Lisa yang saat ini sedang mencekal pergelangan tangannya, "Lepasin tangan lo dari rambut gue, bisu!" teriak Dia— Lisa, teman dari Rina.


"Akhhhh!" jerit Rina saat Mika menguatkan genggaman tangannya, membuat sisi-sisi kepala Rina terasa nyeri.


Plak!


Satu tamparan bersarang di pipi Mika, saat Lisa dengan teganya melayangkan tangan kananya ke pipi Mika, "Lepas enggak," ujar Lisa dengan nada mengancam.


Mika menggelengkan kepala, malahan dia memperkuat jambakkan yang dia lakukan pada rambut Rina saat ini, "Jika ini lepas, gue buang lo ke laut anjing, bis— akhhhhh!"


Plak! Plak!


Setelah jeritan Rina meredam. Suara tamparan dua kali berturut-turut terdengar memenuhi kawasan pantai yang sepi itu. Mika yang mendapatkan dua serangan itu, menjerit tanpa suara. Tetapi, gadis itu masih bertahan menjambak rambut Rina.


Rasa kebas menyelimuti sekujur pipi kanan Mika, tapi itu tidaklah bisa, membuat kedua tangan Mika melepaskan jambakkannya. Sekarang yang gadis malang itu pikirkan, hanyalah rasa marahnya kepada Rina, yang sudah membakar tempat tinggalnya.


"Lo ternyata sudah berani melawan yah. Seharusnya hari itu, gue sama Mika memberikan pelajaran lebih, tapi itu malah buat lo berani ngelawan ternyata," ceriwis Lisa dengan raut yang sudah sedari tadi terlihat sangat dipenuhi amarah.

__ADS_1


Dan setelah Lisa mengakhiri ucapannya. Wanita itu langsung menjambak rambut hitam Mika, menarik keras surai hitam itu ke belakang, hingga kepala Mika ikut tertarik, karena saking kerasnya Lisa melakukan itu.


Tepat setelah teriakan itu, mulut Mika kembali terbuka untuk mengeluarkan sebuah jeritan tak bersuara, tapi berbarengan dengan itu. Rina ikut menjerit, karena kekuatan jambakkan Mika semakin kuat di rambutnya.


"Sumpah gue bunuh lo, Sundel!" teriak Rina yang mungkin sudah merasakan beberapa rambutnya tercabut.


Mika yang mendengar itu, hanya bisa memperkuat jambakkannya, dan dia enggan untuk melepaskan kedua tangannya itu dari rambut Rina, walaupun sekarang. Dia sedang menahan perih di sudut bibirnya yang sobek, dan ujung kepalanya yang berkedut nyeri, karena jambakkan Lisa saat ini.


"Sundel!" umpat Rina, dan wanita itu mencoba menegakkan kepalanya yang setengah menunduk. Otomatis, nyeri di kepalanya semakin menjadi, karena Dia dan Mika saling tarik menarik.


Namun, demi terbebas dari jambakkan menyebabkan ini. Rina menahan perih di sisi-sisi kepalanya, "Ubek, Mati Lo sekarang!" teriak Rina. Wanita itu bergerak mengangkay satu kakinya ke udara, dan...


Bug!


Satu tendangan telak bersarang di perut Mika, membuat tubuh wanita itu terhuyung, dan terjatuh dengan punggungnya yang langsung membentur batu karang.


Mulut Mika menganga mengeluarkan jeritan bisu, membaut tangannya yang di penuhi rambut Rina, langsung berada di atas perutnya yang terkena serangan tadi.


Dia ingin sekali bangkit dari duduknya. Tetapi, itu tidak bisa dia lakukan, karena rasa nyeri di punggung, perut, pipi, dan sisi kepalanya begitu nyata dia rasakan. Hingga, dia tidak mampu menggerakkan kakinya untuk berdiri.


Namun, Mika yang saat ini sudah tidak berdaya karena tendangan keras tadi, hanya bisa memejamkan mata menikmati rasa sakit yang mulai menjalar ke sekujur tubuhnya, "Gue lupa, lo tadi kan nampar gue. Jadi sebagai balasannya, gue bakalan kasih ini yah." Rina yang tadinya dalam posisi sedikit membungkuk, mulai menegakkan tubuhnya.


Tangannya mulai dia kepal, "Lis— Jambak rambutnya!" perintah Rina, dan Lisa langsung menuruti perkataan temannya itu.


Mika yang masih belum bernapas dengan semurna, kembali mengeluarkan jeritan bisu, "Sok berani lo Cat!" ejek Lisa dengan nada terdengar sangat meremehkan.


"Lis— tahan yah. Jangan sampai kepalanya gerak." Lisa yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala, dan dai langsung memperkuat jambakkannya.


Bug!


Satu pukulan super keras bersarang di pipi Mika, hingga menciptakan sebuah suara benturan sangat-sangat keras. Belum hilang rasa kebas akibat tamparan Lisa, Muka kembali merasakan nyeri di pipi kirinya. Bahkan, dia bisa menebak pipi kirinya saat ini sudah membiru.

__ADS_1


Mulut Mika masih menganga mengeluarkan jeritan bisu, dan air hangat mulai menjalar ke pipinya. Mika mulai merasakan amis di bagian dalam mulutnya, "Itu balasan atas tamparan saja cat, sekarang balasan untuk lo yang jambak rambut gue."


"Rin sepertinya udah cukup. lihat ada darah keluar dari mulutnya," celetuk Lisa, membuat gerakan memukul Rina menggantung di udara.


"Enggak! Ini masih belum setimpal dengan apa yang dia lakukan ke gue," ujar Rina, dan dia kembali fokus ke arah Mika, yang sekarang sudah terkulai lemas.


'sakit— sangat sakit,' batin Mika lirih, saat rasa sakit semakin terasa nyata di sekujur tubuhnya. Terlebih lagi, perutnya masih terasa sangat ngilu.


'aku enggak kuat lagi. kenapa nasib hidupku begitu sangat menyedihkan? Baru saja aku merasa bisa tertawa lepas saat bersama dengannya, tapi kenapa sesakit ini,' lirih Mika dalam batin, dan setelahnya kedua mulutnya menganga, saat Rina menjambak rambutnya. Sekarang nampak jelas, gigi putihnya dipenuhi oleh warna merah, karena darah yang keluar dari dalam mulutnya.


"Rina aku enggak mau masuk penjara lagi, gara-gara manusia cacat itu. Jadi, ayok kita tinggalkan dia," takut Lisa sembari menarik ujung baju Rina.


"Hai lo masih ingat kejadian tiga hari yang lalu, saat gue pukulin lo di pantai?" Mika tidak menggeleng ataupun mengangguk. Malahan sekarang kesadarannya perlahan mulai menghilang, dan pertanyaan yang Rina utarakan tadi, tidak terdengar jelas di telinganya.


"Gara-gara lo gue dibawa ke tempat kepala desa, dan dikasih hukuman. Tetapi, aku sebenarnya usah bales, dengan membakar gubuk reyot lo," terang Rina, dan Mika hanya bisa mendengar samar-samar suara itu.


"Rina ayok," ajak Lisa, tapi Rina malah menoleh ke arah laut, dan wanita itu menyeringai saat melihat sebuah ombak besar, yang berisap-siap menerjang batu karang.


"Tunggu dulu." Rina berjalan dengan masih menjambak rambut Mika, membuat gadis malang itu terseret mengikuti langkah kaki Rina, dan saat ini mendekat ke sebuah batu karang yang berada di bibir pantai.


Tidak ada rasa sakit yang Muka rasakan dari jambakkan itu, hingga Rina berhenti menyeret dirinya, dan langsung menyandarkan tubuhnya di batu karang, "Berdoalah agar Tuhan memberikan lo keajaiban untuk tetap bertahan hidup. Tetapi, saranku. Lo lebih baik mati aja. Lo itu akan tetap susah jika masih hidup. Apalagi, kalau lo ketemu gue lagi. Lo bakalan habis." Setelah mengatakan itu, Rina berlari menjauhi tubuh Mika, yang saat ini sudah terkulai lemah.


'tidak ada rasa sakit, tapi tubuhku tidak bisa digerakkan. Apakan ini yang dinamakan jurang menuju kematian?' batin Mika dan tepat setelah itu, dia tidak sadarkan diri, dan ombak besar langsung menghantam tubuhnya.


...T.B.C...


...**Gimana Part ini?...


...5000 hadiah, dan 40 tiket Vote aku update lagi**....


...Makanya yok rajin-rajin kasih hadiah, apalagi tiket Vote, dan bantu SHARE....

__ADS_1


...Kesan kalian setelah membaca part ini, tulis di kolom komentar yah...


...see you next part!...


__ADS_2