
...Entah kenapa aku pengen banget update....
...Mungkin karena bentar lagi, aku enggak terlalu fokus ke cerita ini karena mau susun sinopsis untuk *** ****. Well, nikmati yah kawan....
...Selamat reading untuk kalian semua....
...Jangan lupa di tap like, di komen-komen, and kasih hadiah yang banyak....
...***...
Masih di hari, dan jam yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Yap, sekarang Kavin dan Mika sedang berdiri di pinggir jalan dengan suasana malam bercahaya temaram, dan deburan ombak yang sedari tadi berseru dengan tenang.
Cahaya dari bulan purnama di malam Minggu ini, terlihat sangat nyata di pandangan Kavin. Terlebih lagi cahayanya yang indah membuat wajah hitam manis Mika menjadi sangat-sangat mempesona.
Bahkan tadi Kavin sempat terpana dengan pesona Mika, tapi itu tidak bertahan lama karena embusan angin malam langsung membuat pria dua puluh tujuh tahun itu tersadar, dan mengembalikan sifat angkuh, songong, dan bossy miliknya.
Tidak ada percakapan yang terjadi di antara sepasang manusia itu. Padahal mereka sudah berada di tempat itu beberapa menit yang lalu, tapi salah satu diantara mereka enggan untuk memulai percakapan.
"Permisi bajang (Permisi anak muda.)" Kavin dan Mika yang mendengar sebuah suara langsung menolehkan kepala ke arah belakang, dan kedua mata mereka langsung di sambut oleh kehadiran seorang kakek tua yang sedang menjajarkan dagangannya.
"Ini saya jualan kacang rebus, kedelai rebus, dan banyak lainnya. silahkan jika anak muda mau beli," tutur kakek yang tidak terlalu tua itu menggunakan bahasa Indonesia berlogat sasak yang sangat-sangat kental.
Kavin yang mendengar itu langsung bergerak mengambil dua bungkus kacang rebus, satu ikat kedelai rebus, dan dua botol minuman teh pucuk, "Ini jadi berapa pak?" Tanya Kavin sembari bergerak menyerahkan makanan yang tadi dia beli ke tangan Mika, dan setelah Mika mengambil alih semua makanan itu. Baru Kavin bergerak meronggoh saku celana miliknya, dan mengeluarkan sebuah dompet.
"Tunggu saya hitung dulu. Tadi dua kacang jadi dua ribu, satu ikat kedelai rebus jadi seribu, dan dua botol teh pucuk jadi enam ribu. Totalnya jadi sembilan ribu bajang."
Kavin yang mendengar total belanjaannya begitu murah langsung memunculkan kerutan di dahinya, "Beneran jadi sembilan ribu pak? Apa bapak enggak salah patok harga?"
"Enggak nak. itukan tadi kamu ambil dua bungkus kacang, dan harga satu bungkusnya itu cuma seribu, dan kedelai itu juga harganya seribu. Terus satu botol teh pucuk harganya tiga ribu, karena enggak dingin. Jadi, semua totalnya Sembilan ribu nak," terang kakek-kakek penjual itu.
Kavin hanya menganggukkan kepala, dan dia langsung mengeluarkan uang berwarna merah. Sontak penjual itu langsung dibuat kaget, karena melihat nominal uang yang diberikan oleh Kavin.
__ADS_1
"Apa enggak ada uang pas nak?" tanya kakek-kakek penjual itu dengan cengengesan.
"Enggak ada pak. Jadi, bapak ambil aja semuanya," ujar Kavin dengan nada bicara biasa saja.
Sontak kakek-kakek penjual itu langsung terkejut, "I—ini terlalu banyak nak. Bapak eng—enggak bisa nerima uang sebanyak ini. Terlebih lagi, kamu kelihatannya bukan asli orang lombok. Jadi ini saya kembalikan saja," tutur kakek-kakek pedagang itu, dengan tangan gemetar, dan nada bicara yang juga gemetar.
"Enggak apa-apa pak. Bapak ambil saja semuanya, dan sebaiknya bapak pulang saja karena ini sudah sangat larut untuk berjualan," sanggah Kavin, dan itu berhasil membuat kakek-kakek itu menyerah untuk tidak menerima uang yang diberikan oleh Kavin.
"Makasih nak. Semoga kalian cepat-cepat menikah, dan tidak kencan sembunyi-sembunyi seperti ini."
***
Lagi-lagi keadaan seketika kembali hening saat kakek-kakek penjual tadi meninggalkan mereka. Posisi mereka saat ini masih sama, yaitu berdiri di pinggiran pembatas tembok antara trotoar dan jurang yang begitu sangat curam.
Namun, bedanya sekarang Kavin sedang menikmati kacang rebus yang beberapa menit lalu dia beli. Sedangkan Mika saat ini sedang menikmati kedelai rebus yang juga Kabin beli bersamaan di kakek-kakek tadi.
Sedari tadi Kavin berpikir sangat keras. Terlebih lagi saat dia mendengar ucapan terakhir yang kakek-kakek penjual itu katakan, dan itu mampu membuat Kavin berada di situasi gundah gulana.
Sebenarnya pria itu sudah tahu kalau, dia mencintai Mika. Tetapi, dia menyimpan semua itu karena takut Mika tidak mencintainya. Terlebih lagi Mika itu bodoh, dan tidak mengerti apa itu cinta.
Karena jujur saja. Sedari dia lahir hingga berumur dua puluh tujuh tahun. Kavin tidak pernah merasakan namanya jatuh cinta. Memang banyak sih yang mencoba mendekati Kavin di ibu kota sana, tapi karena sifat dingin, angkuh, dan juga bossy yang dia punya. Membuat semua wanita yang mencoba menjamahnya menyerah.
Namun berbeda dengan Mika. Entah kenapa saat berdekatan seperti ini dengan gadis bisu itu, Kavin tidak pernah bisa mengeluarkan sifat-sifat diatasnya. Karena bagi Kavin, Mika itu wanita yang berbeda. Terlebih lagi saat dia menghabiskan waktu tiga hari lamanya bersama wanita itu, membuat Kavin semakin yakin kalau Mika memang benar-benar berbeda.
Buktinya saja hari ini. Padahal dia sekarang sedang pergi bersama seorang pria kaya raya, tapi Mika malah membawa Kavin masuk ke pasar malam. Padahal Kavin mengira Mika akan membawa dirinya ke Mall untuk membeli baju, tapi aslinya.
Gadis desa itu malah beli baju murahan di pasar malam. Seketika Kavin menyungging senyum saat mengingat kejadian di pasar malam, di mana Mika tengah memilih baju. Sebenarnya tidak ada yang lucu sih. Tetapi bagi Kavin, kejadian Mika yang saat itu memilih baju bukan dari kualitas melainkan harganya terbilang sangat lucu.
Kalian bayangkan saja. Padahal Kavin menyuruh Mika untuk mengambil baju yang dia lihat bagus, tapi Mika malah memilih baju sesuai harga yang dia kira murah.
Bayangan-bayangan kejadian di pasar malam itu menguap saat Kavin tidak sengaja melirik ke arah Mika. satu alis mata pria itu terangkat saat dia melihat tubuh milik gadis itu menggigil.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kau merasa dingin?" celetuk Kavin, dan itu berhasil membuat keheningan di antara mereka terpecahkan.
Mika yang mendengar itu spontan menoleh. Dia menganggukkan kepalanya, karena jujur saja. Malam ini terasa sangat dingin. Terlebih lagi saat diam-diam angin mulai menggerogoti kulit Mika.
Kavin yang melihat anggukkan kepala itu, langsung bergerak mundur ke belakang, "Berdiri di situ!" perintah Kavin sembari menunjuk tempat di mana, tadi dia sempat berdiri.
Mika yang mendengar itu langsung mengikuti perintah Kavin, tanpa banyak tanya. Setelah melihat Mika berdiri di tempatnya tadi, Kavin kembali melangkah ke depan, dan otomatis tubuh pria itu menempel dengan tubuh Mika.
Keheningan kembali tercipta diantara mereka. Terlebih lagi saat ini kedua mata mereka saling bersitatap, dan menyalami satu sama lain. Mungkin yang terdengar oleh gendang telinga mereka hanyalah degup jantung yang saling berpacu kuat.
"Mika...." Kavin memanggil nama gadis itu sangat lembut.
Tangan besarnya sekarang mulai bergerak menggenggam kedua tangan Mika yang ada di tembok pembatas, "Mika...." panggil Kavin kembali dengan nada semakin lembut dan tatapan yang semakin dalam menyalami netra milik Mika.
Sementara Mika yang sedari tadi dipanggil tidak bergeming. Kedua matanya sudah terkunci dengan sosok wajah rupawan milik Kavin. Terlebih lagi saat ini Kavin sedang menyungging senyum untuknya.
"Aku— aku ingin mengatakan sesuatu." Rasa gugup mulai menyelimuti Kavin. Tangan kanannya semakin erat menggenggam kesepuluh jemari Mika.
Mendengar itu, Mika semakin tak bergeming. Malahan sekarang jantungnya sedang berdetak sangat cepat, dan itu terjadi kepada Kavin juga.
Kavin masih setia menatap mata Mika. Perlahan bibirnya mulai bergerak untuk berbicara, "Aku...." Kavin menjeda ucapannya. Pria itu memejamkan mata, membuat kontak kedua netra itu terputus.
"Aku...." Lagi-lagi ucapan pria itu tertahan. Kedua matanya sudah kembali terbuka, dan wajah hitam manis milik Mika lah yang pertama kali dia lihat.
"Aku ... aku ingin pulang, dan ayok. Sepetinya malam ini sudah cukup." Kavin langsung menarik tangan Mika, dan membawa gadis itu berjalan ke tempat di mana. Motor yang mereka gunakan terparkir.
...T.B.C...
...Ckckckckckck...
...Kira-kira Kavin mau mengatakan apa sih, ada yang tahu?...
__ADS_1
...Coret-coret perasaan kalian setelah membaca part ini di kolom komentar ****yah****...
...See you all, semoga bahagia dengan updateannnya!...