
Akan tetapi, Pria itu dengan cepat menghentikan gerakan Mika yang sedang menunduk dengan kedua tangannya langsung berada di pundak Mika. Merasakan ada tangan yang menyentuh bahunya, secepat kilat Mika memundurkan tubuh untuk memberikan jarak.
"Kau kenapa menunduk seperti itu? Di sini aku yang salah, dan tolong maafkan aku." Pria itu mengulurkan tangan besarnya untuk melakukan salam permaafan.
Mika melihat tangan besar, putih itu, dan setelah itu dia melirik tangannya. Pria pemain gitar yang melihat tingkah laku Mika itu, seolah paham kalau gadis manis yang sudah membuat dia tersenyum beberapa kali itu ragu-ragu untuk menjabat tangannya.
"Jadi kau tidak ingin memaafkan aku, Nona?" tanya Pria. Mendengar itu, Mika langsung menggelengkan kepala, dan memberikan telapak tangannya di baju kaosnya, lalu menjabat tangan Pria itu, tapi dengan cepat Mika menarik tangannya kembali, dan membuat pria itu lagi-lagi tersenyum.
"Ohh iya—kenalin aku Agler Adelio, dan kau bisa memanggilku Lio," ujar Pria yang bernama lengkap Agler Adelio itu dengan senyum, "kalau kamu—namamu siapa?" tanya Agler, dan Mika hanya bisa terdiam, dan menguatkan penganan tangannya di kotak plastik itu.
"Nona—aku bertanya. Namamu si-" belum sempat Agler menyelesaikan ucapannya. Mika langsung berlari pergi menjauhi orang itu.
__ADS_1
Sebenarnya dia tidak pernah berniat lari dan menghiraukan pertanyaan pria yang dia sudah tahu kalau namanya itu Agler. Dia juga ingin sekali bisa menjawab pertanyaan itu, tapi karena keadaan dia tidak bisa apa-apa.
Ingin memberitahunya dari tulisan juga, dia tidak bisa baca tulis. Huruf-huruf namanya saja dia nggk ketahui, tapi dia tahu namanya itu Mika, karena saat di panti asuhan dulu. Ibu asuhnya sering memanggilnya seperti itu.
Mika berhenti dari berlarinya, dan itu masih bisa Agler lihat, walau hanya punggung mungilnya saja. Terlihat Mika mengambil buku, dan pulpen dari kotak plastiknya. Wanita itu langsung jongkok, dan mulai menggambar emoticon senyum. Setelah selesai, dia kembali berlari mendekati Agler yang tidak berhenti untuk menyungging senyum diwajahnya.
Tidak memerlukan waktu lama, Mika susah berdiri di depan Agler, dan langsung menyerahkan sepucuk kertas itu. Agler mengambil apa yang disodorkan gadis di depannya itu. Melihat Agler sudah mengambilnya, Mika kembali berlari menjauhi pria itu.
"Emoticon senyum," gumam Agler dan kembali melihat ke arah di mana gadis aneh tadi berlari. Akan tetapi matanya hanya menatap luasnya samudra biru, tanpa ada punggung gadis aneh tadi. Agler hanya bisa menyungging senyum, dan kembali bergerak melipat sepucuk kertas yang tadi diberikan oleh Mika.
"Dasar— kau memang benar-benar gadis yang aneh, pelit bicara, dan misterius. Aku berharap kita bertemu lagi." Pria itu menggenggam erat sepucuk kertas yang ada gambar emoticon senyum itu seperti benda berharga yang takut dia hilangkan.
__ADS_1
Lagi-lagi Agler menoleh ke arah tempat punggung gadis itu menghilang, tapi masih juga tidak dia temukan siapapun. Padahal dia sangat berharap keajaiban akan membawa kembali gadis misterius, dan pelit bicara itu ke hadapannya. Namun di dunia ini tidak ada yang namanya keajaiban, jika memang benar ada keajaiban, tolong berikan kepada Mika, karena gadis itu sangat-sangat mengharapkan keajaiban yang membuat dia bisa mengeluarkan suara merdunya.
Agler menggelengkan kepalanya, dan bergerak meraih gitar yang dia letakkan di atas batu karang itu, lalu hendak berbalik, tapi suara bariton seorang pria mengentikan gerakannya.
"Lio ternyata kau disini brengsek?"
T.B.C
Langsung aja like, vote, gift, komen, dan ini yang paling penting! BANTU SHARE!
Bay!
__ADS_1