Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
Part 30. Sore Hari Penuh Lumpur.


__ADS_3

...ada yang kangen Kavin?...


...cekidot dibawah soale Kavin kangen kalian. Dia curhat katanya enggak ada yang kasih kopi, atau mawar. Kan Kavin jadi sedih lihat aja mukanya dibawah👇...



...(Butuh segelas kopi or sepucuk mawar untuk menjadi penghiburku dikala menjalani penyiksaan ini dong all. Mangsedih)...


...***...


Tak terasa siang yang tadinya terik, sekarang sudah menjelma menjadi sore. Matahari yang tadinya juga berada di tengah-tengah langit, sekarang sudah berpindah ke ujung barat. Sinarnya yang cerah, tapi terkesan menghangatkan itu, begitu terasa di kulit Kavin yang saat ini mondar-mandir tak menentu.


Iya, sepulang mereka dari musholla, Amak Kasim, Amak Udin, Inak Icok, Inak Hayati, dan juga Mika kembali melanjutkan pekerjaan mereka. target mereka untuk hari ini, hanyalah menghabiskan setengah dari satu sawah.


Namun, untuk Kavin. Sekarang pria itu hanya mondar-mandir berjalan pelan di pemetang sawah dengan sesekali menendang-nendang rumput, karena saking bosannya. Padahal dia sudah mencoba meminta untuk ikut memanen padi, tapi Mika malah melarangnya.


Bosan dengan hanya berjalan-jalan tak menentu, Kavin bergerak mendudukkan pantatnya, dan setelah itu, dia merebahkan tubuhnya di atas pemetang sawah, "Di sini tidak terlalu buruk," gumam Kavin dengan mata terpejam saat angin sepoi-sepoi berembus menerpa seluruh tubuhnya.


Kavin menghela napas lega. Bahkan sedari hari sudah menjelang sore, dia selalu mengeluarkan kata-kata pujian untuk suasana nyaman di tempat itu. Padahal beberapa jam yang lalu, segala sumpah serapah dia lontarkan, tapi dia seolah melupakan itu semua.


"Pegat sekek ni (putus satu itu)!" Kavin membuka mata lebar saat gendang telinganya menangkap suara teriakan beberapa anak muda, "uber jelapan (kejar buruan)!" Kavin yang kembali mendengar suara teriakan beberapa anak muda itu, bergerak bangkit dari rebahannya.


Kavin celingak-celinguk menolehkan kepala ke kanan dan kiri untuk mencari dari mana arah sumber suara itu. Tepat saat dia menolehkan kepala ke samping kiri, dia melihat segerombolan anak kecil berlari dengan kepala mendongak ke atas. Tentu melihat itu, Kavin menjadi penasaran, dan dia mencoba untuk mendongak.


"Layangan?" gumam Kavin saat melihat sebuah layangan yang terbang bebas terbawa angin kencang di atas sana, "ternyata mereka mengejar layangan?" imbuhnya dengan nada ya g terdengar tidak percaya.


"Mika layangan pegat tie (Mika layangan putus itu)!" teriak Amak Udin membuat fokus Mika teralihkan.


Kavin yang mendengar itu pun, ikut menoleh ke arah Mika, dan setelah itu desiran hebat kembali menyerang detak jantungnya, karena kedua mata hitam kecoklatannya itu. Tidak sengaja melihat senyum lebar Mika.


"Pelai jok julu sekedik Mik (Lari sedikit ke depan Mik)!" teriak Amak Kasim, membuat Mika menganggukan kepala.

__ADS_1


Mika tanpa menunggu lama, langsung saja berlari sekuat tenaga, dengan kepala terus saja melihat ke atas langit. Walaupun kepalanya mendongak, dan tidak melihat ke arah jalan. Dia masih bisa mengetahui ke mana arah yang harus dia tuju.


"Ada apa dengan gadis itu? Kenapa dia harus capek-capek mengejar benda itu? Jika dia mau, aku bisa membelikan— ehh tidak, kenapa juga aku harus membelikannya? kenapa juga aku peduli pada gadis desa itu?" cibir Kavin saat dia melihat Mika yang berlari mengejar layangan itu.


Namun, walupun dia mengatakan seperti itu. Sedari Mika mulai berlari, sedari tadi itu juga Kavin tak mengalihkan pandangannya untuk memperhatikan Mika, yang saat ini berlari dengan menyungging senyum.


Mika terus saja berlari, sesekali gadis itu menghadapkan kepalanya ke depan untuk melihat jalan, dan setelah ya dia kembali mendongak. Pada saat kedua matanya melihat posisi layangan yang sudah sedikit rendah, Mika kembali melihat ke arah depan, seolah sedang mencari jalan mana yang harus dia tempuh agar bisa meraih layangan itu.


Mika menyungging senyum kala dia sudah menemukan cara untuk meraih layangan itu. Dia kembali mempercepat laju larinya, hingga saat kaki kananyamenapak di pemetang sawah, langsung saja Mika meloncat, dan meraih benang layangan itu. Mika yang masih berada di udara membuka mulutnya lebar-lebar untuk berteriak. Tetapi, bedanya Mika tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


Namun, berbeda dengan apa yang Kavin rasakan. Saat ini dia tengah fokus menatap ke arah Mika. Entah kenapa, kedua telinganya juga serasa seperti meraskaan teriakan Mika, walau sebenarnya hanya kebisuan lah yang dia rasakan. Tetapi, rasa kagum itu tidak bertahan lama di wajah Kavin, karena sedetik kemudian Mika mendarat disebuah persawahan yang dipenuhi oleh tanah liat basah.


Kavin otomatis mengeluarkan suara tawa saat melihat hampir seluruh tubuh Mika masuk ke dalam kubangan lumpur. Tetapi, saat dia mengedarkan pandangan. Ternyata bukan hanya dialah yang terhibur, melainkan Inak Icok, Inak Hayati, Amak Kasim, Amak Udin, dan anak-anak yang tadi mengejar layangan itu juga tertawa sangat keras.


Tentu saja Kavin yang melihat itu langsung terbakar emosi. Dia kembali melihat ke arah Mika, dan setelahnya dia kembali dibuat terkejut. Bagaimana dia tidak terkejut coba. Lihatlah, Mika— gadis yang jadi bahan tertawaan itu, malah menyungging senyum, dan Kavin sangat tidak suka itu.


"Ohh ternyata kau mencoba mencari perhatian ternyata," gumam Kavin dengan ekspresi wajah tidak suka.


"Ohhb bagus yah. Jadi kau melakukan itu semua agar di tertawaan, dan menjadi pusat perhatian, begitu?" tuding Kavin setelah pria itu berdiri di pematang sawah, yang tadinya Mika meloncat dari sana.


Mika yang mendengar tudingan dengan nada sinis itu, langsung menolehkan kepala, dan mendongak melihat sosok Kavin yang sedang berdiri membentang, dengan raut wajah tidak bersahabat, "Ada apa lagi dengan pria kota ini?"


"Jadi, setelah kau tidak bisa membuat aku terpesona. Kau sekarang cari perhatian ke semua orang, begitu?" tuding Kavin dengan tatapan memicing.


Sebenarnya nih ya. Si Kavin itu sedang cemburu, dan dia marah karena tahu kalau bukan hanya dirinya yang tertawa, melainkan semua orang tertawa melihat tingkah lucu, dan nekat Mika tadi, "Kau kira, kau cantik seperti itu?" desis Kavin, dan dia mulai menguluekan tangan kirinya, untuk membantu Mika berdiri, dan terbebas dari dalam lumpur itu.


"Kau tahu nggk. Sekarang kau itu malu-maluin diri Lo sendiri," desis Kavin masih dengan nada sinis, dan tatapan tidak sukanya, "Gadis desa, buruan tanganku dipeganga dong."


Mika yang sudah jengah mendengar ocehan pria kota di depannya itu, bergerak meraih tangan besar yang berada di hadapannya saat ini. Setelah kedua tangan mereka saling menggenggam, Mika tanpa hatinya, langsung menarik Kavin, membuat pria itu terhuyung, dan jatuh tepat menimpa tubuh Mika, dengan tangan kanannya yang terluka itu, spontan dia angkat agar tidak basah, dan masuk ke genangan air coklat yang dipenuhi oleh lumpur.


Sementara itu, Kavin hanya bisa diam tanpa kata, karena kedua matanya saat ini langsung fokus melihat netra hitam milik Mika, yang juga sedang diam dengan posisi sedikit tidur.

__ADS_1


Jangan tanyakan soal layangan itu, karena barang yang tadi Mika kejar mati-matian itu, sudah masuk ke dalam air. Suasana yang tadinya dipenuhi oleh gelak tawa, menjelma menjadi keheningan. Mungkin yang Kavin dan Mika dengar saat ini, hanyalah embusan napas yang mereka lakukan.


Hingga tanpa diduga, sebuah embusan angin kencang datang, membuat Kavin yang terdiam membisu itu langsung sadar, dan dia jiga menyadari kalau kondisinya sekarang sudah dipenuhi oleh lumpur. Iya, lumpur yang sama sekali tidak pernah dia sentuh seumur hidupnya, tapi kini dia malah mandi di tempat itu.


"Gadis des-" geraman Kavin terhenti saat Mika lagi-lagi mengolesi wajahnya dengan setumpuk lumpur.


Kavin diam beberapa saat untuk mencerna apa yang gadis itu lakukan padanya, dan tepat saat Mika membuka mulut untuk tertawa. Pria itu langsung menyadari kalau di wajahnya sudah ada setumpuk lumpur.


"Kau Bernai sekali padaku yah," ujar Kavin, dan pria itu tanpa sadar mengungkung Mika yang masih dalam posisi tidur itu, masuk kedalam pelukannya. ehh bukan pelukan romantis yah, tapi pelukan mengurung agar, gadis itu tidak bisa ke mana-mana, dan Kavin puas menyorot-nyoret wajah Mika dengan lumpur.


Akhirnya sore yang indah itu dipenuhi oleh gelak tawa anak-anak, karena menyaksikan Kavin yang sedang menyoroti wajah Mika dengan lumpur. Pria itu juga sudah tidak memperdulikan di mana dia sekarang. Dia seolah merasakan sesuatu hal yang sangat berbeda, dari yang pernah dia kerjakan di kota.


...**T.B.C...


...Gimana Part ini?...


...Yok kasih Gift, Tiket vote, like, komen kalian untuk Kavin...


...Satu lagi— bantu share cerita ini yah😳**...


...**Apa ada kata untuk........


...Kavin?...


...or...


...Mika?...


...jika ada coret aja di kolom komentar...


...dan see you next part**...

__ADS_1


__ADS_2