
...(khayalan Kavin, jika saja dia nggk ikut. mungkin jam ini, dia baru bangun dari tidur siang, menyeruput kopi, dan melihat pemandangan pantai Kuta)...
"Are you kidding me?" ucap Kavin mengekpresikan raut terkejutnya, 'ya Alla— kenapa nasibku seperti ini?' lanjut Kavin dengan kedua tangan, yang bergerak meraup kasar wajahnya, dan setelah itu. Dia menghela kasar napasnya.
Seandainya saja dia mendengarkan apa yang Mika katakan, mungkin sekarang dia baru saja bangun dari tidur siangnya, membuat segelas kopi, dan menikmatinya di balkon. Tetapi, itu hanyalah sebuah andai saja, dan kenyatannya iyalah.
Sekarang dia sedang berada disebuah tempat yang dikelilingi oleh sawah, dalam keadaan matahari yang bersinar teriak, dan siap untuk membakar kulit putih terawatnya. Memang niatnya tadi pagi, dia akan mengelilingi pantai Kuta bersama Mika, dan diakhiri dengan berjemur di tepi pantai. Tetapi, semua rencana-rencana yang tersusun menguap seketika, dan hanya satu yang terlaksana. Yaitu, berjemur, tapi dia tidak pernah mengira kalau berjemur yang akan dia lakukan akan menyiksa seperti ini.
Terlebih lagi, acara berjemur yang akan dia lakukan ini tidak memakai sunscreen untuk melindungi kulitnya, dan lebih sialnya lagi. Dia akan ditempat ini selama tiga hari.
Mika yang sedari tadi melihat ke arah wajah Kavin hanya bisa cekikikan tanpa suara, karena wanita itu merasa lucu saja saat lihat wajah Kavin, yang terlihat pasrah.
Kavin sedikit menolehkan kepala ke sisi kiri, karena pria itu tak sengaja melihat ekspresi Mika, yang Kavin anggap menghina dari ekor matanya, "Kau menertawaikan aku?" desis Kavin, membuat Mika langsung mengatupkan mulutnya, dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan bohong kau. Tadi jelas-jelas Aku lihat, kau buka mulut, dan menertawakan diriku kan, benar kan?" tuding Kavin yang sialnya benar, tapi Mika masih kekeh menggelengkan kepala, dan tidak mau mengaku.
"Mika, Kavin— kalian enggak makan dulu?" tanya Amak Kasim yang sedari tadi sudah memulai makannya dengan lahap.
Mika yang mendengar itu, menganggukan kepala, dan dia langsung berdiri dari duduknya, "Kau sudah makan?" tanya Mika menggunakan bahasa isyarat.
Kavin menggelengkan kepala. Jujur, pria itu sedari pagi hingga sampai jam setengah tiga siang ini, dia belum memakan apapun, "Kalau belum duduk sini, kita makan sama-sama," ajak dengan dengan tangan menepuk pematang sawah yang ada di depannya.
__ADS_1
tanpa banyak bicara, dan memikirkan nasibnya. Kavin bangkit dari duduknya, dan langsung mendekat ke tempat yang tadi Mika tepuk hanya dengan satu langkah lebar. Kavin duduk kembali dengan posisi bersila, "Aku mau makan nasi, dengan lauk ayam, dan jangan lupa banyakin nasinya, karena aku sudah sangat lapar." pinta Kavin seenak jidatnya membuat Mika yang tengah memeriksa keranjang yang dia gunakan untuk menyimpan barang bawaannya itu, hanya memonyongkan bibir.
"Gadis desa buruan— kau nggk tahu orang sudah laper apa?" desis Kavin, membuat Mika memutar bola matanya malas. Setelah mengatakan itu, Kavin kembali melihat luasnya bentangan persawahan, 'terima sajalah Vin. Anggap aja cari pengalaman,' celetuk Kavin dalam hati, dan setelah itu. Dia kembali melihat ke arah Mika, karena wanita itu tadi menepuk pahanya.
"Sudah siap?" tanya Kavin, dan Mika hanya menganggukkan kepala, dan setelah itu. Dia langsung menunjukkan sebuah tas plastik putih, berisikan beberapa singkong yang sudah direbus.
Mika lagi-lagi bergerak membuka mulutnya untuk cekikikan, yang sialnya tidak menimbulkan satupun suara, "Apa ini?" tanya Kavin sembari bergerak menyambar tas plastik putih itu, membukanya, dan setelah itu dia mengendusnya.
"Kenapa warnya, bau, dan bentuknya aneh?" tanya Kavin polos, membuat cekikikan Mika, menjelma menjadi sebuah tawa bisu tanpa suara. Tetapi, wanita itu sangat-sangat menikmatinya.
"Owhhh— kau menertawakan aku lagi rupanya. Emang ada yang lucu?" sungut Kavin, tapi entah kenapa hatinya tak bergemuruh marah. Justru pria itu, merasakan sebuah desiran hangat yang menerpa hatinya, dan sialnya Kavin seperti orang bodoh, mengira desiran itu disebabkan oleh cahaya matahari yang saat ini bersinar terik.
Mika terpaksa menghentikan tawa tak bersuaranya, dan bisa dikatakan, kalau itu adalah tawa paling bahagia yang dia dapatkan seumur-umur dirinya hidup di dunia ini.
"Owhh kau dibiarkan semakin menjadi-jadi gadis desa. Anak yang masih di dalam kandungan saja tahu, kalau ini bukan Nasi dan ayam. Jadi, dari tadi kau mengerjaiku yah, kur-"
"kemaik makanannya nak Kavin. Ibu minta satu dong," celetuk Inak Hayati menggunakan bahasa Indonesia berlogat NTB, membuat ucapan Kavin terpotong.
Kavin yang mendengar celetukan itu, mengurungkan niatnya untuk mengomeli Mika, dan dia lebih memilih untuk menoleh ke arah Inak Hayati, "Emang ini apa Nak?" tanya Kavin polos disertai kebingungan.
"ambon tekelak aran tie bajang (Singkong rebus namanya itu, anak muda)," ujar Amak Udin memberi tahukan nama makanan itu.
"Emang bisa di makan Mak?" tanya Kavin kembali, walau dia tidak mengerti apa yang Amak Udin katakan tadi. Jujur saja, seumur hidup pria itu tidak pernah melihat makanan itu, tidak pernah sama sekali.
__ADS_1
"Bisalah, dan rasanya snagat enak." Kavin hanya berOh ria saat mendengar jawaban dari Amak Kasim, dan Mika yang melihat, kembali menyambar tas plastik itu dari tangan Kavin.
Sontak Kavin langsung menatap Mika dengan tatapan tajam, dan dia bersiap-siap untuk menyembur Mika dengan perkataan-perkataan sombongnya. Tetapi, belum sempat sepatah katapun terlontar dari mulutnya. Mika langsung menutup mulut mengnganganya itu dengan satu singkong rebus, membuat sang empunya mulut terdiam, dan semua orang tertawa.
"Jangan banyak bertanya, dan makan itu Tuan. Semoga Anda kenyang dengan Ayam dan nasinya." Setelah mengatakan itu menggunakan bahasa isyarat, Mika bangun dari duduknya, dan langsung membagikan singkong rebus itu kepada orang-orang tua yang baru sja selesai makan.
Sementara Kavin. pria itu langsung menggigit ibu rebus yang masuk ke dalam mulutnya, dan salah satu tangannya ia gunakan untuk menggenggam ujung singkong rebus, "En-" Kavin hampir saja membuat satu kesalahan.
'jika aku mengatakan makanan ini enak. gadis desa itu pasti akan besar kepala, dan itu tidak bisa dibiarkan. Kau mengira bisa membuat aku terkesan dengan ini, dasar gadis desa,' batin Kavin, dan pria itu langsung membuat sebuah seringai, karena berhasil menebak maksud Mika yang sebenarnya itu hanya kepercayaan dirinya saja.
"Kenapa rasanya tidak enak seperti ini," gumam Kavin akhirnya, dan pria itu kembali menyantap sisa singkong rebus ditangannya hingga habis.
...**T.B.C...
...Jangan lupa like, komen, share, vote, dan Gift yah....
...Mohon maaf jika saya kebanyakan menggunakan bahasa daerah, karena untuk memperkuat unsur desanya yah....
...Ada katakan buat?...
...Kavin...
...or...
__ADS_1
...Mika**...