
'bodoh— keluarlah kau suara bodoh!' batin Mika mengumpati kondisinya yang mempunyai mulut, tapi sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara.
"Nona?" imbuh Agler karena belum mendapatkan jawaban dari Mika.
Sementara wanita yang masih setia menundukkan kepala itu masih setia untuk bungkam. Deburan ombak kecil semakin terdengar jelas di telinga mereka. Mika bergerak menegakkan kepala, dan wajah berkabut miliknya langsung diterpa oleh hembusan dari angin laut hingga, rambut hitamnya berkibar.
Melihat itu Agrel langsung terpaku, kedua mata hitam kecoklatannya itu seolah terpana. Pria 27 tahun itu semakin terpesona saat Mika menoleh kepadanya, dan rambut hitam yang diterbangkan oleh angin itu berhasil menutup wajah ayu tanpa make up dari gadis kampung itu.
Mika bergerak menjulurkan satu tangannya, seolah mengatakan tunggu pada pria tampan yang ada di hadapannya saat ini. Sementara Agrel, dia hanya menganggukkan kepala seolah mengerti apa yang gadis bisu itu minta.
Setelah melakukan itu, Mika memutar tubuhnya setengah ke samping kanan di mana kotak plastik dagangannya berada saat ini. Setelah itu, gadis ayu itu bergerak mengambil kertas, dan pulpen yang selalu tersedia di kotak dagangannya.
__ADS_1
Setelah buku dan pulpen berada di tangannya. Mika langsung menekuk kedua lututnya yang tadi bersila itu. Dia letakkan buku di pahanya, dan gadis itu mulai melakukan aktivitas menggambarnya. Setelah selesai, gadis ayu itu menoreh senyum sangat manis di bibir merah muda tanpa lipstiknya itu, dan itu tidak terlewatkan dari perhatian Agrel saat ini.
Mika kembali menolehkan kepala ke sisi kiri, di mana Agrel saat ini duduk, dan kedua mata hitam kecoklatannya masih setia memperhatikan gadis itu. Mika bergerak menyerahkan selembar kertas yang sudah bergambar emoticon dengan keadaan mulut yang di resleting. Agrel masih belum menyadari itu, matanya terlalu fokus melihat wajah Mika.
Merasakan kalau pria di depannya sedang terdiam, Mika mulai melambaikan tangan tepat di depan wajah Agrel, dan membuat pria itu tersadar, lalu dengan cepat menoleh ke sisi lain untuk menyembunyikan rasa malunya, karena ketahuan memperhatikan Mika.
Tanpa suara Mika kembali menyodorkan sepucuk kertas ditangannya itu. Agrel yang sudah terlihat biasa saja kembali menoleh, dan langsung mengambil alih kertas di tangannya Mika.
"Kenapa anda selalu memberikan ini?" Sambil mengeluarkan dua kertas, Agrel langsung memperlihatkan kertas-kertas bergambar emoticon yang pernah diberikan Mika sebelumnya, "Apa maksudnya ini?" tanya Agrel, dan Mika langsung menundukkan kepala.
Setelah pertanyaan itu terlontarkan. Keheningan kembali tercipta diantara mereka berdua, "Jika anda tidak bisa bicara, kenapa anda tidak menuliskan nama anda nona?" Pertanyaan Agrel langsung menusuk dada Mika. Wanita itu langsung menggelengkan kepala. Satu lagi kekurangan gadis itu terbongkar, dan perkataan Agrel itu langsung membuat dia sadar.
__ADS_1
Mika menggelengkan kepala seolah menjawab tidak, dan membuat kerutan di dahi Agrel semakin tercetak jelas, "Apa anda bisa menulis?" tanya Agrel kembali, dan itu berhasil membuat Mika menegang. Entah kenapa gadis itu cepat sekali emosional jika membahas tentang kekurangannya. Dengan gerakan kaku Mika kembali menggelengkan kepala, dan gelengan itu berhasil membuat Kerutan di dahi Agrel menghilang.
Agrel terlihat mengangguk seolah sudah mengerti apa masalah dari Mika yang selalu memberikan kertas bergambar emoticon ini.
"Apa anda bisa menggunakan bahasa isyarat?"
T.B.C
Gimana part ini? Ayok dong komentar, dan jangan jadi silent reader. Kalian udah kek Mika aja wkkwkwkkwk canda Mika.
Vote, gift, like, komen, dan SHARE yah!
__ADS_1