Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
62. Cerdas Namanya.


__ADS_3

...Hai Sahabat Paris. Suka Paris update lagi nih....


...Sepertinya aku hanya update 3 part nih, karena hadiah tidak mencapai target....


...Langsung aja, yok absen. Kalian semua Sahabat Paris dari mana sih? Siapa tahu kita sepulau, dan bisa ketemu xiixiix...


...Selamat reading aja yah, Sahabat Paris....


...Semoga suka part ini...


...***...


Kavin masih terdiam, dan sedari tadi dia mencoba mencerna apa yang baru saja dia katakan. Sementara Mika yang mendengar itu, malah memiringkan kepala, dan bergerak mengedipkan matanya, seolah dia masih belum paham maksud Kavin tadi.


Namun, berbeda dengan apa yang saat ini Kavin pikirkan. Dia yang melihat tingkah Mika yang sekarang sok imut, langsung saja mulai berpikiran buruk tentang gadis desa di depannya itu, 'dia mulai besar kepala nih. Lagian salah sendiri kenapa aku keceplosan begitu,' batin Kavin merutuki kebodohannya.


Mika yang melihat Kavin hanya diam. Langsung bergerak, menepuk-nepuk pelan pipi Kavin, membuat pria itu tersadar, dan langsung membuang pandangannya ke arah pintu masuk ruang rawat, "Tadi maksudku, lihat— pintu itu jika di taruh di sana. pasti akan kelihatan cantik dan manis." Kavin mulai membuat alibi, dengan membawa serta sebuah pintu yang merupakan benda mati, sebagai objeknya.


Mika yang melihat itu hanya menganggukan kepala, seperti orang bodoh, 'apa gadis desa itu percaya?' tanya Kavin dalam hati, dengan pandangan mata membulat seolah tak percaya, kalau karangannya itu bekerja.


Mika yang melihat Kavin terdiam, mulai menggerakkan tangannya untuk membuat isyrat, "Tidak. Apa yang engkau katakan itu tidak benar. Pintu itu sudah cocok di taruh di sana, dan jendela itu juga sudah cocok di sana."


"I—iya maksudku juga begitu gadis desa," ujar Kavin, dan dia menolehkan kepalanya ke samping kiri, 'kenapa dia begitu bodoh. Tidak— ini sebuah masalah. Jika dia sebodoh ini, dia pasti akan mudah dimanfaatkan oleh orang,' imbuh Kavin dalam hati, dan pria itu langsung cengengesan, saat kembali menghadap ke arah Mika yang saat ini sedang menatapnya.


"Dulu ada orang yang cerita padaku, kalau kau tidak pernah sekolah. Benar begitu?' tanya Kavin, dan Mika menjawab itu dengan anggukan, 'sial— jadi yang dikatakan pria tua waktu itu, memang benar," lanjutnya dalam hati.


"Jadi begitu. Pantas saja kau itu bodoh, tidak bisa menulis, dan tidak bisa membaca. Tetapi tenang, sekarang kau sudah aman bersama Kavin, karena aku merasa kasihan. Aku akan mengajarimu membaca, dan menulis. Apa kau mau?" Mika yang mendengar itu, langsung saja menganggukkan kepala, dengan tatapan mata penuh binar.


"Tapi ada satu syrat yang wajib kau lakukan untukku," ujar Kavin, membuat raut bahagia Mika menguap, dan tergantikan dengan raut penuh tanya.

__ADS_1


Mika mulai melakukan isyrat tangan, "Syaratnya apa?"


Kavin mulai menyeringai, dan itu terlihat sangat menyeramkan di mata Mika, 'mungkin jika mengajarinya baca tulis, itu sedikit mampu membuat dia tidak gampang percaya. Terlebih lagi, kebodohannya akan sedikit berkurang,' batin Kavin dengan semakin melebarkan seringai miliknya.


Mika bergerak melakukan Isyarat tangan, "Ada apa? kamu buat aku takut."


Melihat isyrat itu, Kavin langsung mengubah seringainya menjadi senyum, yang bahagia. Entah apa alasan pria dua puluh tujuh tahun itu, menyungging senyum seperti itu.


"Gadis desa— aku baru saja mengingatnya." Kavin berucap sembari meraih ponsel yang sedari tadi dia letakkan di pangkuannya.


Sementara Mika yang mendengar penuturan Kavin, langsung saja membuat isyrat, "Ingat apa?"


"Tunggu dulu. Kau itu sungguh tidak sabaran," Kavin berucap sembari ibu jarinya menari di atas layar ponselnya, dan pria itu langsung menunjukkan sebuah room chat, miliknya dan juga Agler, 'Lio, gue akan jual nama lo yah,' batin Kavin.


"Ini lihat. Ini namanya aplikasi What*App. Ini digunakan untuk saling bertukar pesan, telepon, dan Video call," jelas Kavin, dan Mika hanya menganggukkan kepala.


Kavin bergerak menunjuk sisi kiri di bagian paling atas, yang dimana, di sana terdapat sebuah nama, "Ini room chat aku, dengan Agler. Lihat, tulisan ini." Mika melihat tulisan yang ditunjuk oleh Kavin.


Lio


...2 hari yang lalu...


Lo ada di mana, dari tadi Zaly nyariin.


^^^Gue sibuk^^^


Ayok lah Vin, gue lelah denger Zaly.


^^^Tinggalin aja, kalau Lo lelah^^^

__ADS_1


Enggak bisa gitu.


Mika hanya melihat-lihat isi chat itu, tanpa tahu apa arti barisan-barisan huruf yang saat ini dia lihat. Kavin mulai bergerak menunjuk tulisan yang baling atas, "Lihat yang ini...." Kavin menjeda ucapannya hanya untuk melihat Mika yang bergerak mengangguk-anggukan kepalanya, "Ini mengatakan kalau obrolanku dengan Agler, baru di pagi hari ini," imbuh Kavin dengan memutar balikan fakta. Sebenarnya chat itu, sudah berumur dua hari, tapi dia mengatakannya ke Mika, kalau itu baru saja terjadi pagi tadi.


Mika yang notebenenya buta huruf, hanya mengangguk kepala. Kavin yang melihat itu, bergerak menunjuk ke arah chat Agler, "Yang ini maksudnya. Tadi pagi Agler nanyak, aku di mana. Nah yang ini jawabanku," jelas Kavin sembari memindahkan jari telunjuknya, ke chat balasan yang dia kirimkan ke Agler.


"Aku jawab. Kalau aku ada di rumah sakit bersama dengan Mika," jelas Kavin, dan Mika masih menganggukkan kepala.


Dan itu terlihat sangat lucu di mata Kavin. Sebenarnya Kavin tidak ingin melakukan ini. Tetapi, demi mencapai keinginannya, dia harus melakukan cara ini, Untuk menutupi imagenya.


"Terus si Agler bales gini." Kavin bergerak memutat ponselnya, agar layar benda itu menghadap ke arahnya, "Denger baik-baik apa yang dia katakan ini. Ingat, ini yang mengatakan si Agler, bukan aku," imbuh Kavin, dan Mika hanya mengangguk kepala.


Padahal dia masuk.ke sini, berniat untuk memberikan sarapan kepada Mika. Tetapi, agenda itu berubah saat dia ingin melihat Mika melakukan ini, "Sungguh lo sekarang Sama Mika? Gimana? Apa rambutnya digerai, atau di ikat kuncir?" Kavin mulai membaca chat Agler, yang isinya dia ubah.


Mika yang mendengar itu, langsung melihat rambutnya yang saat ini tergerai, "Nih lihat kalau kau tidak percaya," Kavin menunjukkan chat Agler yang isi aslinya mengatakan, "Ayok lah Vin, Gue lelah denger Zaly" tapi, Kavin malah merubahnya.


Mika mengangguk-anggukkan kepala, dan gadis itu mulai melakukan isyrat tangan, "Terus— Kavin jawab apa?"


Melihat itu, Kavin langsung tersenyum, dan entah apa arti senyum itu, "Di sini aku jawab, rambut Mika sekarang tergerai. Terus Lio Jawab aku, boleh aku minta tolong kau ikatkan, karena Mika akan terlihat cantik dan juga manis jika mengikat rambutnya." Mika yang mendengar itu langsung memunculkan rona merah diwajahnya, dan itu membuat Kavin memicingkan mata.


"Baru aja dipuji, udah besar kepala. Jadi berbalik, aku akan mengikat rambut kau, sesuai permintaan Lio. Kau enggak bisa menolak, karena Lio sudah memberiku amanah seperti itu." Mendengar itu, Mika langsung bergerak mengumpulkan rambut, dan dia hendak mengikatnya, tapi suara Kavin menghentikan gerakannya itu.


"Lio yang memintaku untuk menguncir rambutmu. Jadi putar tubuhmu, dan biarkan aku yang melakukannya!" perintah Kavin, membuat Mika bergerak memutar posisi duduknya, menjadi membelakangi Kavin.


Sementara Kavin. Pria itu langsung bersorak girang, karena dia berhasil membuat Mika melakukan apa yang dia inginkan, walau dia menjual nama Agler juga sih, 'Lio maafin gue,' batin Kavin, dengan menyungging senyum penuh kemenangan.


...T.B.C...


...Semoga Feelnya nyampe yah Sahabat Paris...

__ADS_1


...Ada kata Apa untuk Kavin di Part ini?...


...Terus ada kata buat Mika juga kah?...


__ADS_2