Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
96. Bukan Pemakan Manusia


__ADS_3

...Enggak capai target, tapi enggak masalah. Entah kenapa tadi pas aku baca salah satu novel, mood nulisku meraung-raung. well, part ini untuk kalian😙...


...****************...


Anak tangga demi anak tangga, Kavin dan Mika lalui dengan tempo langkah yang sama. Bahkan sedari tadi kedua tangan mereka, saling menggenggam satu sama lain.


Seolah terlihat saling menguatkan satu sama lain. Bahkan beberapa hari terakhir ini, Kavin sangat jarang mengeluarkan sifat gengsi yang dia punya.


"Tenang— aku bersamamu. Jadi, kamu jangan khawatir," tutur Kavin sudah puluhan kali, dan Mika hanya mampu menganggukkan kepala.


Namun, biar begitu. Rasa khawatir sedari tadi menyeruak memenuhi detak jantungnya yang entah kapan berdetak sangat lah cepat.


Kavin mengulas seutas senyum, saat dia melihat sang calon istri menganggukkan kepalanya, "Pikirkan yang baik-baik, dan buang pikiran buruk. Kita tidak sedang berhadapan dengan malaikat maut, walau Papaku emang bisa dibilang malaikat maut juga sih."


Mika hanya mengeluarkan sebuah kekehan tak bersuara, dan itu suskses merubah seutas senyum Kavin, menjadi sebuah garis lengkung yang sangat panjang.


"Aku menyukainya. Suara bisu yang keluar dari mulutmu itu. Entah kenapa, membuat hatiku tenang, sayang," tutur Kavin dengan nada lembut. Malahan sekarang mereka sudah menghentikan langkah, saat setelah telapak kaki mereka berdiri di marmer lantai dua.


Mika yang mendengar penuturan Kavin, mulai melakukan isyrat dengan hanya menggunakan satu tangan saja, "Tapi— aku kan tidak mengeluarkan suara Kavin? Lalu, bagaimana hatimu merasa tenang."

__ADS_1


"Iya, memang orang lain tidak mendengar apapun. Tetapi, bagiku. Setiap kali kamu membuka mulut. Aku merasakan ada sebuah suara yang tercipta, walau mungkin itu hanya khayalanku saja. Tetapi, jujur. Aku menikmati khayalan yang aku buat itu." Kavin menerangkan ke Mika dengan kata-kata yang sangat-sangat jelas.


Kavin berharap, dengan dia berbicara seperti itu. ia mampu membuat calon istrinya berhenti untuk merasakan sebuah rasa ragu yang sedari tadi menggerogoti calon istrinya.


Jika kalian mengira, kalau apa yang dikatakan Kavin itu semua, maka kalian salah. Karena, apa yang dikatakan Kavin tadi, memang benar adanya. Entah kenapa setiap kali Mika terkekeh, tertawa, atau mengikuti ocehannya. Dia merasakan ada sebuah suara yang keluar dari dalam mulut kecil itu.


"Sayang— biarpun semua orang mengatakan, kalau kamu Bisu, kamu cacat, dan kamu tidak sempurna. Tetapi...." Kavin menjeda ucpaannya, hanya untuk bergerak memutar tubuh calon istrinya. Agar, menghadap tepat ke depannya.


"Tetapi, masih ada aku yang tidak akan pernah menganggapmu bisu, karena aku bisa mendengar setiap suara yang keluar dari mulutmu. Aku juga tidak akan pernah menganggapmu cacat, karena aku sama sekali tidak pernah melihat adanya kecacatan yang kamu punya. Dan, aku tidak akan pernah mengatakan kalau kamu tidak sempurna, karena bagiku. Kamu lebih sempurna, dari orang yang terlahir sempurna di luar sana. Sayang...." Kavin lagi-lagi menjeda ucapannya hanya untuk melihat kedua mata bernetra hitam Mika, yang mulai berkaca-kaca.


Pria dua puluh tujuh tahun itu, menarik napas, dan langsung bergerak membingka wajah Mika, "Berhenti lah meragukan dirimu seperti ini, sayang. Aku tahu, kalau dari tadi kamu gugup, kamu takut, dan kamu berpikir yang tidak-tidak. Tetapi, apapun keputusan Papaku, itu tidak akan mengubah keputusanku yang akan tetap menikahimu."


Mika lagi-lagi mengangguk. Kavin yang melihat itu, kembali menggenggam jemari calon istrinya, "Sekarang kita temui Papaku. Ingat, jangan gugup karena dia tidak memakan manusia." Kavin lagi-lagi mampu membuat Mika terkekeh, dan jujur. Mika merasakan semua ini baru pertama kali, dan ini terjadi di malam hari ini.


Hidupnya yang dulu sepi, yang hanya berteman dengan kegelapan. Tiba-tiba saja menjadi terang, saat Kavin datang. Dia dulu sempat mengira, kalau kedatangan Kavin itu, sebagai mimpi buruk di kala hidup yang sudah dijalaninya buruk.


Namun, siapa mengira kalau malahan. Pria songong, sok berkuasa, tidak mau dibantah, dan angkuh itu. Akan menuntunnya untuk mencari secercah cahaya yang mungkin ada di kehidupan gelap gulitanya ini.


Mereka akhirnya kembali melanjutkan langkah, untuk menuruni anak tangga demi anak tangga hanya untuk turun ke lantai satu, dan berkumpul dengan keluarga besar Bagaskara yang sejujurnya Kavin tidak pernah menganggap mereka ada. Tetapi, demi menyenangkan hati calon istri yang ingin sekali merasakan hangatnya sebuah keluarga.

__ADS_1


Kavin menyetujui walau sebenarnya, dia enggan untuk menemui. Sebenarnya Kavin bisa saja menikah dengan Mika di Lombok, walau tanpa sepersetujuan Papanya. Toh bukannya jika laki-laki menikah, tidak perlu wali?


Namun, kembali lagi kekeinginan Mika yang ingin sekali menemui keluarga Kavin. Melihat wajah penuh permohonan itu, Kavin mengalah. Dia padahal sudah berniat langsung mendaftarkan namanya dan nama Mika di kantor KUA, tapi semua itu urung dia lakukan. Malah dia dengan bodohnya membeli sebuah tiket penerbangan, menelepon Papanya, dan mengabari pria paruh baya itu, kalau dia akan kembali.


"Nah— dua orang yang kita tunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Nak— kemari, dan ajak calon menantu Papa juga duduk bersama kami." Rama berucap seolah dia dengan sang anak tidak punya satu pun masalah.


Namun, Kavin yang melihat itu. membalas ujaran Rama dengan hanya tersenyum, "Nak— sini. kasihan loh mantu Mama jika diajak berdiri terus." Ironi— ingin sekali Kavin memuntahkan seluruh isi perutnya, kala dia mendengar penuturan dari Mama tirinya yang begitu kelewat lembut.


Namun, lagi-lagi dia mengurungkan niat untuk melakukan apa yang saat ini ada di dalam hatinya, karena dia begitu enggan untuk menghilangkan seutas senyum dan tatapan berbinar yang Mika keluarkan.


Akhirnya, dengan penuh keterpaksaan. Kavin semakin melebarkan senyum yang saat ini dia sunggingkan, "Abang— boleh Agam minta tolong untuk periksain tugas kuliah Agam." Suara ceria dari pemuda yang sangat Kavin benci, menyalami gendang telinga pria itu. Entah kenapa. Setiap kali Kavin melihat Agam, dia langsung diselimuti oleh rasa amarah yang sangat mendalam.


"Kavin— kenapa diam, nak? Cepat aja calon istrimu kemari. Mamamu juga sudah dari tadi menyiapkan minuman, dan cemilan untuk kita." Pada akhirnya, Kavin menganggukkan kepalanya.


Pria dua puluh tujuh tahun itu, mengayunkan langkah menyeret ikut serta tubuh Mika yang mulai terasa menegang. Jujur— biarpun dia sudah mencoba untuk tidak gugup, tengang, dan takut seperti yang Kavin minta.


Namun, tiba-tiba saja ketiga rasa itu menyeruak membuat kinerja jantung Mika berdetak cepat. 'Kavin bersamaku, jadi aku tidak perlu takut. Kata Kavin, Papanya tidak makan manusia. Jadi, percaya pada Kavin kalau semua akan baik-baik saja,' batin Mika menguatkan diri sendiri.


...T.B.C...

__ADS_1


...Bonus malam Minggu untuk kalian cintah😙😙...


__ADS_2