
...Wow kalian semangat kali yah....
...Aku kira enggak bakalan nyampe 5100, tapi ternyata lebih dikit xixix....
...Makasih yah karena sudah mendukung cerita alakadar, dan masih banyak taypo ini....
...Biar aku tambah semangat bantu promo, dan juga komen. entah itu komen kritik, atau saran. Aku tampung, karena itu jadi penyemangat aku buat nulis....
...Segini aja yah sesi curhatannya, stay reading all!...
..."Kau langsung melihatku, setelah dia menyakitimu. Lalu, bagaimana kedepannya saat dia sudah baik padamu, apakah kau masih bisa melihatku?"...
...(Agler Adelio)...
...***...
Agler langsung memeluk Zaly yang saat ini menumpahkan tangis di dadanya. Beginilah yang akan Zaly lakukan. Dia akan labgsubg melihat Agler, dan mengadu pada pria itu jika Kavin sudah membentak, atau mengusirnya.
Dan Agler hanya bisa menyungging senyum kecut, karena jelas sekali, jika Zaly hanya membutuhkan dirinya. Di saat, Kabin yang wanita itu sukai marah padanya. Biarpun begitu, Agler menikmati momen ini, walau itu hanyalah sesaat.
"Aku yakin kalau dia tidak mengumpat dirimu. Mungkin ada yang membuat Kavin bimbang, dan tak sengaja mengeluarkan umpatan. Jadi...." Agler menjeda ucapannya, dan pria itu langsung bergerak mengurai pelukan yang dilakukan Zaly, "jangan menangis, dan lebih baik kita tunggu dia menyelesaikan urusannya dulu," imbuh Agler dengan nada kembut.
Zaly yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala, "Terima kasih, Lio. Kau memang teman terbaikku." Zaly dengan mencoba untuk menyungging senyum, berucap, dan membuat Agler menyeka air mata wanita itu.
"Apa kau sudah menyiapkan pakaianmu?" Zaly mengangguk.
__ADS_1
"Tapi aku lapar, Lio," rengek manja Zaly, dan Kavin terkekeh.
"Ini baru mau menjelang sore, dan kau sudah lapar," Zaly menganggukan kepala dengan wajah yang dibuat sangat-sangat imut, "kalau begitu, aku akan menyiapkan buah-buahan untukmu," imbuh Agler dengan masih bersikap sangat lembut.
"Makasih," girang Zaly, dan wanita itu kembali duduk, di sofa.
Jam di dinding, semakin keras berbunyi. Suaranya yang nyaring, seolah sedang mengejek kebodohan Agler, yang mau saja di perbudak oleh Zaly yang dia anggap kekasih dalam diamnya.
***
Sementara di waktu yang bersamaan, sekarang Kavin tengah berjalan tidak terlalu cepat, dan tidak terlalu lambat. Langkah kaki pria itu, sangatlah normal, dan sedari tadi. Dia tidak henti-hentinya untuk menyungging senyum.
'aku harus buat alasan, agar gadis desa itu tidak kegeeran,' batin Kavin sembari memikirkan, alasan apa yang akan dia gunakan setelah tiba di gubuk Mika nanti.
Seketika Kavin langsung menunjukkan senyum lebarnya, saat rentetan alasan sudah dirangkai oleh otak kecilnya. Pria yang masih setia mengenakan topi, baju kaos abu-abu lengan panjang, dan juga celana panjang itu. Semakin mempercepat langkahnya.
Bosan memukul-mukul tangannya, pria itu bergerak meronggoh saku celananya, dan mengeluarkan sebuah kalung, 'ini pasti cocok di lehernya,' batin Kavin sembari menggenggam kalung murahan berliontin mutiara yang dia beli di pedagang kaki lima tadi.
***
Beberapa menit telah berlalu, dan sekarang Kavin sudah berdiri di ambang pintu masuk kebun, yang dimana tempat gubuk Mika berada.
Sudah lima menit lamanya pria itu berdiri, mengatur napas, dan degup jantungnya yang entah kapan berdetak sangat cepat, 'Kavin tenang. Jangan gugup— kau hanya akan menemui seorang gadis desa, dan bukan hal lainnya,' batin Kavin dengan terus menarik napas, dan mengeluarkannya hingga. Degup jantungnya, mulai berdetak normal kembali.
Setelah dia rasa jantungnya sudah berdetak cukup normal. Kavin bergerak mengeluarkan tangan kanannya yang sedari tadi berada di saku celana. Dia kembali melihat kalung berliontin mutiara itu, dan tanpa berlama-lama lagi. Pria itu langsung berjalan cepat memasuki gubuk.
Baru saja dia menempuh setengah perjalanan. Langkah kakinya berhenti, seluruh tubuhnya serasa membeku, dengan keadaan mulut yang juga sedikit menganga, "A—ada apa ini?" gumam Kavin dengan terbata, seolah dia belum bisa percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
__ADS_1
"Mika! Mika!" Akhirnya Kavin berteriak menyerukan nama Mika, dan ini kali pertama untuknya.
Kavin berjalan cepat mendekat ke gubuk yang hanya tinggal bangkainya itu, dan kakinya yang terbalut sepatu, tidak sengaja menginjak beras, "Ini pasti punya Mika," gumam Kavin, dan langsung menegakkan tubuhnya yang tadi sedikit menunduk.
"Mika! Mika! Kau di mana?!" Teriakan Kavin menggema di dalam kebun, membuat pria pemilik lebih yang sedang memotong rumput, menoleh, dan langsung berjalan mendekati pria itu.
"Anda siapa yah?"
"Di mana Mika? Apa kau yang melakukan ini semua?" tanya Kavin dengan suara menggebu, dan tatapan penuh akan amarah.
"Tuan tenang dulu. Beberapa jam yang lalu, Mika ke sini, dan dia langsung pergi ke pesisir pantai," Kavin menaikkan satu alisnya bingung, tapi pria itu masih mempertahankan ekspresinya, "setelah mengetahui keadaan gubuknya. Mika langsung pergi mencari Rina dan Lisa."
"Rina dan Lisa? Siapa mereka?" tanya Kavin dengan wajah datar.
"Mereka pelaku pembakaran gubuk ini Tuan. Mungkin Mika masih berkeliaran mencari dua wanita gila, yang selalu mengganggu Mika. Tetapi, yang saya takutkan Mik-"
Belum selesai Kavin mendengarkan penjelasan dari pemilik kebun itu. Dia langsung berlari pergi meninggalkan tempat itu. Sekarang, rasa khawatir mulai menyelimuti hati pria itu.
'jangan bilang dia pergi sendirian,' batin Kavin merasa takut, dan pria itu langsung melupakan segalanya. Bahkan dia juga lupa akan keberangkatannya untuk kembali ke ibu kota.
...T.B.C...
...**Bisa enggak yah 6000 hadiah? kalau bisa aku update lagi. ...
...Yok silahkan coret-coret di kolom komentar yah**...
...see you all!...
__ADS_1