Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
70. Jangan Bangun.


__ADS_3

...Sahabat paris aku upedate...


...Sedikit informasi. Aku keknya mulai enggak bisa sering update nih. mungkin bisanya cuma satu hari sekali, karena salah satu ceritaku yang ada di lapak sebelah, sudah siap-siap tanda tangan kontrak. nah aku mau buat tabungan bab agar bisa daily....


...Tetapi tenang saja. Aku akan terus update kok cerita ini setiap harinya, tapi yah gitu satu bab sehari....


...Tapi jika kondisi memungkinkan, aku akan usahakan untuk bisa double update sesekali🙏....


...Langsung aja stay reading yah, maaf curhatan hatiku kepanjangan🤣....



...(Kavin siang-siang main ke pantai gays)....


...***...


Kavin yang mengerti maksud Isyarat tangan yang dilakukan Mika pun terkejut. Dia menunduk untuk melihat kedua kakinya yang saat ini memijak marmer putih motel. Kavin bergerak mengedip-ngedipkan matanya, tapi yang dia lihat masih sama. yaitu kaki yang berpijak di marmer.


Kavin kembali menghadap ke arah Mika yang masih terdiam. Mika yang kembali ditatap Kavin, langsung melakukan isyrat tangan, "ternyata Kavin sudah sembuh, dan-"


"Tidak— ini anu. Iya ini anu— duh apa namanya ini anu." Kavin mulai gelagapan dalam berbicara. Seketika mata pria itu membulat saat Mika berjalan kembali ke arah dapur, mengambil spatula. Setelah itu, dia langsung mengayunkan langkah, dan berhenti tepat di posisinya yang tadi.


"Kau mau apa dengan itu, gadis desa?" tanya Kavin dengan nada takut-takut. Bagaimana pria dua puluh tujuh tahun itu tidak takut. Bayangkan, sekarang Mika sedang berdiri tepat dihadapannya dengan sebuah spatula. Jangan lupakan, tatapan memicing yang dia lakukan dengan netra hitam miliknya. Apalagi sekarang hidungnya mulai kembang-kempis, dan itu sudah bisa mengartikan kalau Mika sekarang mulai marah.


Mika kembali bergerak melakukan isyrat tangan, "Sejak kapan Kavin bisa berjalan?"


"Kemarin eh bukan. dua hari yang lalu saat masih di rumah sakit," jawab Kavin jujur, dan itu sukses membuat Mika semakin meradang.


Seketika Kavin langsung terdiam membeku. Raut wajahnya yang tadi terlihat marah sudah lenyap tergantikan dengan raut penuh ketakutan, 'sialan kenapa mulutku jujur, diwaktu seperti ini bodoh,' umpat Kavin dalam hati.

__ADS_1


"Bu—bukan begitu. Mak— akhhh!"


Brak!


Kavin menjerit penuh ketakutan. Dia langsung masuk ke dalam kamar, dan menutup pintu dengan mbantingnya sangat keras saat Mika berlari ke arahnya dengan tangan yang sudah siap memukul Kavin menggunakan spatula.


Bug! Bug! Bug!


Mika memukul pintu dengan sangat brutal, membuat Kavin yang ada di dalam sana was-was dengan jantung yang serasa ingin copot, "Mika kau jangan lebay deh."


Bug! Bug! Bug!


Mika semakin keras memeluk permukaan pintu. Sedari tadi mulutnya bergerak-gerak untuk mengeluarkan sebuah omelan bisu yang jelas-jelas tidak akan bisa Kavin dengar.


"Jika sampai pintu ini bolong. Aku enggak mau tanggung jawab. Jadi, berhentilah berlagak lebay seperti itu. Jujur saja kau itu jelek, dan jangan memperjelek diri sendiri lagi, bodoh." Kavin mengomel dengan masih mengeluarkan kata-kata sombongnya.


Seketika suara gedoran pintu tidak lagi terdengar, dan itu membuat Kavin sedikit mengembuskan napas lega. Baru saja dia bangun dari tidur. Bukannya disambut dengan sarapan, dia malah disambut dengan Mika yang mengangkat spatula untuk memukul dirinya.


"Mika, karena aku ingin keluar. Kau menjauh dulu dari pintu. Aku janji akan menceritakan kenapa aku bisa berpura-pura akting seperti itu." Kavin berucap dengan tangan yang bergerak menarik pintu.


Pintu bergerak terbuka secara perlahan. Kavin memindai terlebih dulu situasi yang ada di luar, sebelum dia membuka lebar pintu. Dirasa dia sudah tidak menemukan keberadaan Mika, baru Kavin bergerak menarik cepat pintu, dan langsung melangkah keluar kamar.


"Gad— Akhhh!" Kavin menjerit saat tangan kecil mika mencubit perut kerasnya, "Sumpah ini sangat sakit, gadis desa," adu Kavin saat rasa perih mulai menjalar keseluruhan tubuhnya.


Namun, itu tidak bisa membuat hati Mika merasakan iba. Karena cubitan masih belum cukup untuk membalas kelakuan Kavin, saat pulang dari rumah sakit hingga saat ini. Dia tidak bisa menerima penyiksaan itu, "Sialan! lepas enggak! Sumpah jika ini lepas, aku— aakhhhhh!" Kavin semakin menjerit saat Mika menguatkan cubitan diperut berotot milik Kavin.


***


Pagi yang dipenuhi oleh drama antara Kavin dan Mika sudah usia, dan perlahan hari mulai berganti siang, "Sudah yah? Tanganku pegel, gadis desa," celetuk Kavin yang saat ini sedang menggendong Mika yang saat ini berada di punggung Kavin.

__ADS_1


Iya, setelah drama tadi usai. Kavin menceritakan segalanya kenapa dia berakting seperti itu. Dan jika anda mengira kalau Kavin menceritakan yang sebenarnya, jawabannya ya jelas tidak lah. Dia layaknya seorang novelis mengarang sebuah cerita fiktif, dimana Ridwan— perawat pria itu yang jadi tokoh antagonisnya, dan dia jadi protagonis yang selalu dipaksa melakukan segala hal.


Mika yang bisa dibilang polos, dan bodoh malah mempercayai Kavin. Sedangkan Kavin yang melihat Mika percaya begitu saja, hanya bisa mengumpat dalam hati.


Namun, dia juga beruntung karena kebodohan gadis itu. Dia bisa mendapatkan maaf dari Mika, tapi tentu saja ada syarat yang Mika berikan agar dia dapat memaafkan Kavin.


awalnya Kavin menolak untuk berdamai, karena Mika meminta sebuah syarat. Tetapi, hati kecilnya seolah tidak ingin bermusuhan dengan Mika, dan dengan penuh keterpaksaan dia menyetujui itu semua.


Mika bergerak menepuk pelan pipi Kavin, membuat bayangan kejadian pagi tadi terpecahkan, "Apa?" tanya judes Kavin, dan dia langsung melirik Mika melalui ekor matanya.


Mika yang mendengar suara judes Kavin, hanya bisa menggelengkan kepala, dan entah dia sadar atau tidak. Dia malah menidurkan kepalanya tepat di pundak kanan Kavin.


Membuat Pria dua puluh tujuh tahun itu, melotot seketika saat terpaan embusan napas hangat menerpa kulit lehernya. Darah Kavin mendidih, dan dengan sekuat tenaga. Dia mencoba menahan sebuah gejolak yang saat ini membara dalam tubuhnya.


Terlebih lagi hawa panas pantai Kuta disiang hari ini, membuat Kavin bergidik ngeri, "Mati aku— jangan bangun. Aku mohon, jangan bangun," gumam Kavin saat merasakan ada sesuatu yang perlahan terbangun.


'sialan kau gadis desa,' umpat Kavin dengan raut wajah yang sudah tidak karuan.


...T.B.C...


...Nah loh, apa nih🤣🤣🤣...


...Langsung aja coret di kolom komentar jika ada kata-kata untuk part ini?...


...Ada pesan buat Kavin enggak? atau ada pesan buat Mika?...


...See you next part all!...


...Jangan lupa hadiah, bantu share, dan tiket Vote....

__ADS_1


__ADS_2