
...(ekspresi lelah, pasrah, tak berdaya Kavin. kasihan yah? kasih semangat dong)...
...***...
Entah kenapa waktu berjalan sangatlah cepat, dan sekarang mereka semua sudah mulai bekerja memanen padi. Tetapi, minus Kavin, karena pria itu beberapa menit lalu sudah mendudukkan pantatnya di pematang sawah.
Padahal baru beberapa menit dia bekerja, pria itu sudah duduk dengan pipi mengembung terlihat seperti kelelahan, pasrah, dan juga menerima apa adanya. Tetapi, itu tidaklah benar. Kavin belum merasa lelah sama sekali.
Dia duduk diam dengan kedua pipi mengembung, karena saat ini dia tengah menahan sakit di telapak tangannya, yang tadi tak sengaja tergores oleh arit, menciptakan luka yang tidak terlalu dalam, tapi itu banyak mengeluarkan darah. Mungkin karena dia terluka di siang hari, membuat darah mengalir sangat derasnya.
Namun, ada anehnya. Padahal yang terluka itu adalah Kavin, tapi Mika lah yang terserang panik. Mungkin karena sebelum melakukan pemanenan, Mika lah yang mengajari Kavin cara menggunakan arit. kedua pipi yang tadinya mengembung itu, ia kempiskan, dan dia ganti oleh seutas senyum tipis kala mengingat cara Mika yang begitu telaten mengajarinya.
'i**ni ribet bener dah. Kau tunjukkan saja langsung caranya padaku,' Entah kenapa kata-kata sinis yang tadi dia lontarkan untuk Mika saat gadis itu mengajarinya, kembali terputar diingatan Kavin.
Pria itu juga tidak melewatkan ekspresi cemberut Mika yang juga dia putar diingatnya, dan membuat seutas senyum kecil itu menjelma, menjadi sedikit lebar. Ingat, sedikit.
'jadi caranya hanya begitu? Itu mah kacang namanya,' Setelah mengingat kembali kata-kata sombongnya. Kavin malah terkekeh, seolah mengejek dirinya yang begitu menganggap remeh sebuah pekerjaan yang tidak pernah dia lakukan.
Karena sikap sok jagonya, membuat dirinya saat ini duduk santai sembari matanya tak henti melihat Mika, yang wajah hitam manisnya dipenuhi oleh peluh air asin bernama keringat. Satu lagi, Kain yang Mika gunakan untuk menutup tubuh bagian bawahnya sekarang sudah terganti menjadi sebuah, jeans wanita dengan panjang selutut, dipadukan baju kaos berwarna hijau.
Tidak ada kata anggun, cantik, manis, dan juga seksi yang dapat menggambarkan keadaan Mika saat ini. Tetapi, walaupun begitu, Kavin merasa senang melihat gadis itu. Hingga dia tidak menyadari kalau, dirinya menyungging senyum karena melihat Mika.
Sementara di sisi lain, Mika yang tengah asik memotong padi dengan sedikit menunduk itu, perlahan bergerak berdiri tegak. Gadis itu membuang napas lelah, dan dia menggerakkan lengan kanannya untuk menyeka keringat yang sudah memenuhi wajahnya.
Panas— itulah yang dia rasakan. Terlebih lagi sekarang gadis itu tidak memakai topi kerucut khas petani miliknya, karena barang itu masih melekat di kepala Kavin. Walaupun dia saat ini merasa lelah, panas, gerah, dan haus. Mika masih bisa menyungging senyum, dan itu membuat jantung Kavin kembali berdetak cepat, bahkan lebih cepat dari sebelumnya.
__ADS_1
"Gadis desa!" teriak Kavin memanggil Mika, membuat gadis yang tadinya ingin menunduk itu, menoleh ke arahnya, "Kau ke sini bentar!" teriak Kavin kembali, dengan tangan kiri melambai meminta Mika untuk bergerak cepat.
'ada apa lagi tuh pria kota manggil-manggil?' batin Mika bertanya, dan sedetik kemudian dia membulatkan mata, 'apa lukanya semakin parah?' tebak Mika dalam hati, dan setelahnya dia langsung berlari mendekat ke arah Kavin.
Mika berhenti dengan mulut yang terbuka, seolah merasa lelah. Tetapi, besarnya gadis itu tidak mengeluarkan suara embusan napas secuil pun, "Apa luka anda baik-baik saja Tuan?" tanya Mika menggunakan bahasa isyrat.
"Kau tidak perlu repot-repot menghawatirkan aku deh. Lagian, aku tidak akan terpesona dengan sikap sok perhatian yang kau tunjukkan itu," ujar Kavin songong, dan entah kenapa setiap kali Mika menghawatirkanmu dirinya. Di selalu saja mengira Mika ingin membuat dia terpesona.
Seandainya kalian tahu aja yah. Mika bertanya seperti itu, karena dia merasa khawatir. Dia juga tidak ada niatan untuk membuat Kavin terpesona. Malahan pria itulah yang selalu saja terpesona, dan karena dia orangnya gengsian. Kavin selalu menutupi itu, dengan menuduh Mika.
Padahal ini, dalam hatinya itu dia sangat bahagia. Dia juga ingin sekali mengucapkan kata terima kasih, tapi keinginan-keinginanya itu terhalang oleh sebuah benteng pertahanan bernama gengsi, "lagian kau tidak perlu menanyakan keadaanku. Aku ini laki-laki kuat dari kota. Baru luka kec— awwww! anj*ng sakit!" Ucapan menyombongkan diri yang di keluarkan Kavin seketika berubah menjadi umpatan, dan teriakan penuh kesakitan saat Mika menekan pelan telapak tangan Kavin. ingat— pelan, tapi Kavin aja yang sok dramatis.
Mika yang melihat raut wajah meringis Kavin, membuka lebar mulutnya, untuk tertawa. Tetapi, dari dalam mulut yang menganga itu, tidak ada sebait pun suara tawa yang keluar, "Katanya Tuan seorang laki-laki kuat yang berasal dari kota. kok diteken dikit udah kesaktian," ejek Mika menggunakan bahasa isyrat dengan mulut yang terus saja menganga.
Melihat gerakan isyrat mengejek itu, Kavin bukannya marah, malah dia perlahan menarik kedua sudut bibirnya. Seperti orang yang terlihat sangat menikmati ekspresi yang Mika keluarkan saat ini, 'ada apa dengan diriku? kenapa tawa bisu itu, terlihat indah di pandanganku?' batin Kavin tanpa sadar, dan sedetik kemudian. Pria itu langsung mengusir paksa perkataan batinnya itu, dan dia juga dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi datar.
"Kenapa Tuan membukanya?" tanya Mika menggunakan bahasa isyarat.
"Diam dan jangan bicara. Terlebih lagi, kau jangan lah berbesar kepala dulu. Ini aku lakukan bukan karena aku perhatian padamu," bernada sinis sembari bergerak menjauhkan topi kerucut itu, dari kepalanya.
"Untuk menghilangkan kesalahpahaman yang sering Tuan omongkan itu. Jujur saja, aku tidak pernah besar kepala seperti yang Tuan katakan itu," ujar Mika panjang lebar menggunakan bahasa isyarat.
"Baguslah kalau begitu. Lagian aku mengembalikan topi ini, karena Lio yang memintanya. Jujur, aku tidak pernah berinisiatif mengembalikan topi ini kepadamu. Tetapi, ini aku lakukan karena amanah dari Lio." Kavin berucap sembari memasangkan topi kerucut itu ke atas kepala Mika, dan dia juga tidak lupa mengikat talinya agar terkait di dagu gadis berkulit eksotis itu.
"Tuan saya mau bertanya," ujar Mika dengan kembali menggerakkan kedua tangannya membentuk sebuah isyrat.
"Kau dari tadi banyak tanya gadis desa. Tetapi, karena aku baik. Aku akan biarkan kau bertanya satu pertanyaan lagi." Ucapan sombong Kavin mulai keluar, dan membuat Mika mencibirnya di dalam hati.
__ADS_1
"Sebenarnya, anda dan tuan Agler bisa telepati. Hingga bisa saling berbicara walaupun tidak menggunakan ponsel?" tanya polos Mika, membuat Kavin menjadi kebingungan untuk menjawab apa, karena sebenarnya dia tidak pernah berhubungan dengan Agler. Apa yang dia ucapkan itu, hanyalah sebuah alibi, untuk menutupi perhatian yang dia berikan untuk Mika.
"Jadi— kau mengira aku membohongimu?" tanya Kavin dengan nada terdengar marah. Mika yang mendengar itu, langsung menggelengkan kepala, dan hendak membuat isyrat tangan kembali, tapi dorongan pelan yang dilakukan Kabin membuat dia mengurungkan niatnya, "Kau lanjutkan saja pekerjaanmu sana, dan jangan kau banyak tingkah lagi gadis desa," usir Kavin membuat Mika mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah aku akan melanjutkan pekerjaanku. Tetapi, aku boleh minta tolong enggak?"
"Apa?" tanya Kavin dengan singkat, padat, dan jelas saat dia sudah mengetahui maksud isyrat tangan Mika.
"Tolong sampaikan ucapan terima kasihku kepada Agler. Bilang, kalau aku sangat terbantu, karena perhatiannya." pinta tulus Mika, yang mengira kalau semua perhatian itu memang dari Agler.
Kavin yang mengetahui maksud isyrat tangan tadi, langsung menumbuhkan sungutnya, dan siap-siap mengomeli Mika. Tetapi, gadis itu malah terlebih dulu pergi meninggalkan dirinya, "Enak saja kau mau berterima kasih kepada orang lain. Seharusnya kau itu berterimakasih kepadaku, karena aku yang perhatian padamu," gumam Kavin tanpa menyadari apa yang tadi dia gumam kan itu, tidak seharusnya dia ungkapkan.
...T.B.C...
...Sesuai janji aku updated double...
...Jadi hadiah, dan tiket vote kalian dong. Komen juga tentang seberapa antusiasnya kalian dengan cerita ini? Satu lagi, jangan lupa bantu share, dan promo yah!...
...see you all!...
...apa ada kata buat:...
...Kavin?...
...or...
...Mika?...
__ADS_1
...Spam komen next, maka aku akan update secepatnya xixixixixi...