Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
73. Pasar Malam.


__ADS_3

Hampir satu jam Kavin dan Mika menghabiskan waktu di jalan yang malam ini sangat padat oleh kendaraan. Mungkin ini karena malam Minggu. Jadi, para pria wanita sedang pergi kencan, seperti yang dilakukan Kavin saat ini.


Yap, Kavin sudah sedari tadi menghentikan laju motornya setelah dia berhasil memasukkan kendaraan roda dua itu ke kawasan tempat parkir pasar malam.


Sedari tadi mereka hanya diam duduk di atas motor, dengan Kavin yang menunjukkan ekspresi cemberutnya, dan Mika yang selalu menunjukkan ekspresi bodohnya. Padahal ini yah, Mika itu sudah tidak sabar mau masuk ke pasar malam yang sekarang sangat banyak pengunjungnya.


Terlebih lagi di dalam sana ada banyak permainan yang sedari dulu Mika ingin mainkan, tapi tidak bisa kesampaian. Gimana mau kesampaian, masa-masa kecil hingga dia sebesar ini. Mika habiskan hanya untuk mencari uang.


Mika malahan tidak memikirkan kebahagiaannya. Baginya uang yang terpenting, karena tanpa selembar kertas bernilai itu. Mika mungkin tidak akan bisa bertahan hingga sebesar ini.


Keheningan masih setia menemani mereka berdua. Malhan sekarang yang terdengar oleh telinga mereka hanyalah, suara sorak-sorai dari dalam sana, dan bunyi peluit yang ditiup oleh tukang parkir.


Mika ingin sekali menepuk pipi Kavin, tapi dia takut melakukan itu. Pasalnya wajah pria itu sekarang sedang kusut, dan entah apa yang membuat dia berekspresi seperti itu.


Padahal sedari tadi Mika tidak melepas pegangannya yang melingkar di perut Kabin, tapi Kabin tetap saja terlihat seperti orang yang sedang marah.


"Hai—" Kavin mulai memanggil Mika dengan nada yang tidak seperti biasanya, dan itu sontak membuat Mika terkejut. Terlebih lagi sekarang Kavin sedang menolehkan kepala, dan melihat tajam ke arah Mika.


Mika seketika menundukkan kepala merasa takut, dan tanpa sadar dia mulai memainkan kancing baju Kavin dengan kedua tangannya yang masih melingkar di perut Kavin.


"Kau beneran mau masuk ke dalam sini, gadis desa?" Mika langsung menegakkan kepala saat nada suara Kavin berubah.


Tepat setelah kepalanya tegak. Kedua Mata Mika langsung disambut oleh ekspresi wajah merengek yang dikeluarkan oleh Kavin, "Aku bertanya pada kau bodoh!" Kavin bergerak menoyor kening Mika, membuat sang empunya memanyunkan bibirnya.


"Jelek," ujar Kavin dengan menyungging seutas senyum. Sekarang pria itu masih dalam posisi menunggangi motornya, terus satu tangannya saat ini sedang menopang kepala.


Mika yang mendengar itu ejekan itu langsung mencubit perut rata Kavin, dan setelahnya dia mengurai pegangannya di pinggang Kavin.

__ADS_1


Mika bergerak turun dari atas motor, membuat Kavin menaikkan satu alisnya. Setelah berhasil turun, Mika langsung membuat isyrat tangan, "Biar aku jelek sepertu, dan hitam seperti ini. Tetapi, jantung Kavin berdebar kan jika sama Aku?"


Melihat isyrat tangan Mika, Kavin bergerak meraup wajah Mika yang menampilkan eskpresi sok percaya dirinya, "Sok tahu kau."


Mika kembali melakukan isyrat tangan, "Aku bukannya sok tahu, tapi pas di rumah sakit. Kavin sendiri yang mengatakan jantungnya selalu berdebar jika bersama aku."


Kavin yang melihat isyrat tangan itu tidak bisa lagi mengelak. Pria dua puluh tujuh tahun itu bergerak mematikan mesin motornya, dan setelahnya dia langsung turun dari kendaraan roda dua itu.


"Kau tunggu di sini, dan jangan kemana-mana. Aku akan beli tiket Masuk dulu di sana, dan setelahnya. Aku akan menjemputmu," tutur Kavin sembari menunjuk ke arah pembelian tiket yang sangat-sangat padat.


Mika yang mendengar itu menganggukkan kepala, tapi setelahnya dia melakukan isyrat tangan, "Kenapa kita tidak pergi samaan saja?"


"Ck— lihat di sana ada banyak cowok. Nanti jika mereka melakukan apa-apa padamu, kan bisa besar urusannya. Jadi, untuk menghindari kejadian yang besar. Aku akan pergi membelinya sendiri." Kavin berdecak di awal penuturannya, membuat Mika menganggukkan kepala paham.


Kavin yang sudah melihat gadis itu mengangguk. Langsung mengayunkan langkah ke tempat pembelian tiket. Dia juga tidak berhenti untuk menoleh ke arah Mika, karena dia takut ada orang yang akan mendekati Mika disaat ia meninggalkan gadis itu sendirin.


"Aneh— kenapa kita harus kencan ke sini coba. Kau tahu enggak, di tempat ini itu kebanyakan bocah, dan anak-anak yang baru puber. Seharusnya kita kencan itu ke Mall, Cafe, atau alun-alun. Nah ini kau ngajakin aku main ke tempat bocah," gerutu Kavin panjang lebar, tanpa tahu apa yang sedari tadi dia ucapkan.


Mika menaikkan satu alisnya bingung dengan penuturan kata Kavin. Dan dia dengan polosnya bergerak melakukan isyrat tangan, "Kan kita mau beli baju buat aku. Terus kenapa Kavin dari tadi sebut kencan? Apa kencan itu berarti beli baju juga?"


Deg!


Seketika jantung Kavin berdetak cepat saat dia menyadari kata-kata yang keluar dari mulutnya itu. Sekarang rasa gugup mulai melanda dirinya, tapi itu hanya sesaat karena gadis desa itu mengira, kalau kencan berarti beli baju.


'untung dia bodoh. Jika saja dia enggak bodoh, bisa hilang muka aku. Tapi ini tidak baik, kebodohannya itu harus dihilangkan,' batin Kavin, dan semuanya menguap saat Mika menepuk pelan pipinya.


"Iya— kencan itu kita akan beli baju, tapi bedanya kita akan membelinya dalam jumlah banyak, agar bisa pulang hingga larut. Sebenarnya kita tidak mesti beli banyak baju, dan itu bisa diganti menjadi makan malam di restoran, atau nonton film di bioskop. Jadi, kita hanya akan membeli tiga pasang baju, lalu pergi makan malam, dan nonton. Mau enggak?"

__ADS_1


Mika menggelengkan kepala, dan dia langsung bergerak melakukan isyrat tangan, "Aku tidak setuju. Karena malam ini kita kencan, tapi enggak mau beli baju banyak. Maka kau harus menggantinya dengan menaiki wahana permainan yang ada di sini."


Kavin yang melihat isyrat tangan Mika langsung saja melongo, "Mika jangan bodoh. Lihatlah wahana permainan ini semuanya milik bocah. Jadi, ikuti saja saranku. Ayok kita pergi beli baj-"


Belum sempat Kavin menghentikan perkataannya. Mika langsung menarik dirinya kesebuah wahana permainan komedi putar, yang di mana banyak sekali anak-anak yang menaikinya. Mika berhenti tepat di permainan itu, dan dia langsung menghadap ke arah Kavin untuk melakukan isyrat tangan.


"Beli tiketnya. Ayok cepat beli tiketnya."


"Seriusan mau naik beginian? Lihatlah dulu. Permainan itu milik bocah, dan kita orang dewasa tidak seharusnya menaiki itu, dan kita orang dewasa juga tidak seharusnya berada di tempat ini," tutur Kavin yang masih tidak rela menghabiskan kencan malam minggunya di pasar malam.


Bertepatan setelah Kavin selesai mengatakan itu. terlihat seorang gadis remaja yang berdiri di sebelahnya langsung menoleh ke arah Kavin, "Ada apa?" tanya Kavin dengan satu alis dinaikkan.


gadis remaja itu tidak menjawab, melainkan dia langsung berlari pergi dengan mata yang berair, "Ada apa dengan bocah itu," gumam Kavin tanpa ada rasa bersalah, karena sudah membuat sepasang kekasih itu tersindir karena menghabiskan waktu di pasar malam.


Mika yang sedari tadi menatap binar ke permainan komedi putar itu, kembali menoleh ke arah Kavin yang belum beranjak membeli tiket. Dia bergerak menarik ujung baju Kavin, dan itu berhasil membuat pria dua puluh tujuh tahun itu menaruh fokus padanya lagi.


"Ayok cepat belikan tiket untukku!" perintah Mika dengan isyrat tangan sembari mengeluarkan raut wajah memelas miliknya.


Kavin yang melihat itu tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan langkah berat. Dia mendekati tempat pembelian tiket, "Sial— emang sial," gumam Kavin yang sudah pasrah terhadap kencan malam minggunya.


...T.B.C...


...Double update...


...Jadi kalian kudu kasih vote dan hadiah yang banyak yah. ...


...Komen jika ada taypo atau apalah....

__ADS_1


...See you next part!...


__ADS_2