Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
118. Perpisahan Yang Akan Membawa Kehancuran.


__ADS_3

...Update lagi nih yah....


...Well— kalian kudu kasih gift yang banyak jika mau next update....


...***...


"Sayang, gimana?" Kavin bertanya sembari pemuda itu menatap dirinya di depan cermin besar yang tersedia di sebuah ruangan yang ada di dalam ruang kerjanya.


Iya, sekarang Kavin dan juga Mika masih berada di K Company— perusahaan milik keluarga besar Bagaskara di mana, di tempat ini Kavin lah yang menjadi pemimpin utamanya.


Awalnya Pria yang sekarang tengah berdiri di depan cermin itu bekerja di K Company sebagai seorang OB— di saat dia masih duduk di bangku SMA.


Seiring berjalannya waktu— jabatan Kavin dinaikkan menjadi karyawan biasa, setelah jenjang pendidikannya berganti menjadi seorang mahasiswa.


Empat tahun Kavin menjabat jadi karyawan biasa dan setelah mendapatkan gelar S1 Serjana Ekonomi Bisnis. Laki-laki itu diangkat menjadi seorang direktur keuangan, dan setelah tiga tahun mengelola keuangan perusahaan dengan sangat baik.


Kavin menerima jabatan untuk menjadi seorang CEO (Chief Excecutive Officer)/Direktur utama perusahaan, dan jabatan itu dia dapatkan tepat saat dia berusia 27 tahun.


Tidak ada yang keberatan dengan naiknya jabatan Kavin, karena seluruh pemegang saham percaya dengan pria muda itu. Mereka semua tidak memilih Kavin karena kedudukan Rama yang menjadi pemegang saham terbanyak di perusahaan itu.


Namun, Kavin terpilih karena seluruh pemegang bisnis percaya kepada pemuda itu dan sudah sepatutnya dia merasa bangga dengan pencapaiannya itu.


"Apa begini cocok?" tanya Kavin sembari bergerak memutar tubuhnya, agar Mika yang duduk di atas ranjang dapat menilai penampilannya.


"Udah bagus kan?" tanya Kavin sembari menaik turunkan alisnya.


Sekarang laki-laki itu sudah mengenakan sebuah pakaian kaos putih yang dipadukan dengan blazer warna hitam yang senada dengan celana kainnya. Rambut yang tadinya basah sudah sedari tadi dia keringkan, pun sudah ia rapikan.


Sedangkan Mika. Wanita yang saat ini sudah rapi dengan stelan slit cape dress warna merah kalam itu tengah duduk, dengan telunjuk tangan berada di dagu seolah sedang berpikir.


"Gimana?" tanya Kavin kembali saat dia masih belum melihat isyrat jawaban yang Mika keluarkan.


Mika yang mendengar suaminya itu kembali mencicit, bergerak mengangkat tangan kanannya dengan jari telunjuk yang menempel dengan jari jempol membentuk huruf O.


"Makasih, sayangku." Kavin berucap dengan kedua sudut bibir tertarik ke atas. Mika yang melihat ekspresi suaminya itu ikut tersenyum dan langsung bergerak untuk berdiri.


Setelah berdiri, wanita itu merentangkan kedua tangannya ke arah ranjang hanya untuk mengangkat seekor kucing gembul berbulu putih bersih.


"Angkatnya pelan-pelan, By." Kavin berucap dengan nada takut-takut kalau sang istri kena cakar oleh Miranda III—Kucing peliharaan Kavin.


kenapa ada angka tiga dalam huruf romawi? Tentu saja karena Miranda yang saat ini sudah dalam gendongan Mika adalah keturunan dari Miranda II dan Miranda II adalah keturunan dari Miranda I.


Namun, kita tidak akan membahas itu karena. Pembahasan tentang Miranda akan memakan banyak Part dan itu juga akan membawa nama Miguel III— tokok peliharaan Kavin.

__ADS_1


"Maaf yah udah buat kamu nunggu lama," Kavin berucap sembari bergerak melingkarkan tangan kanannya di pinggang sang istri.


Sedangkan Mika yang mendengar itu, menggelengkan kepalanya, "Untuk Mira. Makasih yah udah temenin Mama saat Papa kerja cari uang buat kalian," imbuhnya dengan mengeluarkan suara khas anak kecil sembari mengelus pucuk kepala Miranda dengan tangan kirinya.


"Ayok kita berangkat. Tapi sebelum berangkat. Papa tekankan ke Mira untuk tidak banyak tingkah di rumah kakek Rama. Jika sudah berada di dalam rumah— Mira enggak boleh sekalipun keluar." Kavin memberi wejangan kepada kucingnya.


Sedangkan Mira yang mendengar itu hanya mengeluarkan mimik wajah santai sembari mengeong, "Jika Mira keluar dari dalam rumah, berarti Mira sudah bosan hidup seperti kakak, bibi, paman, kakek, nenek Mira," imbuhnya dan Mira yang mendengar itu langsung mengeong tanpa henti. Bahkan sekarang kucing berbulu putih itu bergerak-gerak di gendongan Mika.


"Udah, Ayok." Kavin dan Mika berjalan keluar dari ruangan khusus yang ada di ruang kantornya itu dengan langkah yang beriringan.


Sedikit informasi dari awal Mika menikah dengan Kavin. Laki-laki itu selalu membawa istrinya untuk pergi ke kantor. Dia tidak pernah ke kantor sendirian selama tiga bulan terakhir ini.


Kavin melakukan itu karena dia tidak mau meninggalkan istrinya sendiri, walau tiga bulan lalu dia masih tinggal di kediaman Bagaskara.


***


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh sembilan menit, malam hari. terlihat mobil, Kavin baru saja masuk ke halaman luas keluarga Bagaskara.


Padahal Kavin dan Mika berangkat dari kantor ke kediaman keluarga Bagaskara saat jam pulang kantor dan mereka baru sampai di jam delapan kurang sebelas menit?


Namun, itu bukan salah mereka karena mereka berdua juga terjebak di kemacetan jalanan kota Jakarta, "Sayang, pegang Mira yang erat. Jangan biarkan dia jatuh, paham?" Kavin berucap sembari bergerak melepas sabuk pengaman yang melilit tubuh Mika.


Sedangkan Mika yang mendapatkan wejangan itu hanya menganggukkan kepalanya. Dia tahu kenapa Kavin memintanya untuk memeluk erat tubuh Miranda— kucing kesayangan dari suaminya itu.


"Silahkan, Nyonya Kavindra."


***


"Akhirnya kalian datang juga. Silahkan makan, makan." Rama berucap girang saat Kavin dan juga Mika sudah duduk di meja makan panjang dengan beberapa kursi yang saling berhadapan dan satu kursi yang ada di paling pojok tempat di mana, Rama tengah duduk.


Sedangkan Kavin yang sekarang sudah di kursi bagian kanan dengan sang istri di sebelahnya hanya berwajah datar.


"Sepertinya aku tidak selera, Pa. Melihat makanannya buat aku mual." Kavin berucap dengan santainya membuat seluruh orang yang ada di meja makan menatap ke arahnya.


"Mual? Bukankah seluruh makanan yang ada di atas meja ini favoritmu. Ada salmon, steak lada hitam, dan masih banyak makanan kelas atas lainnya." Zaly yang sekarang sedang duduk di deretan kursi bagian kiri tepat di sebelah Adena berucap dengan menatap tajam Kavin.


"Aku tahu kenapa Abang tidak suka lagi makanan seperti ini. Pasti ini semua karena Kakak ipar, bukan?" Agam menyeletuk setelah tadi dia memasukkan potongan steak ke dalam mulutnya.


"Tentu saja. Makanan yang dibuat istriku sangatlah nikmat, dan tidak akan ada yang menandinginya." Kavin berucap dengan penuh bangga, membuat Mika menunduk malu.


Zaly yang mendengar itu hanya bisa memutar bola matanya, "Jadi sekarang, lidahmu sudah menjadi kampungan Kavin."


"Zaly ...." Semua orang serempak mengucapkan nama Zaly, membuat wanita itu menutup mulutnya dengan gaya imut.

__ADS_1


"Maaf, Mika. Aku bukannya mau apa-apa yah. Itu kan kenyataan. Pasti setiap pagi, siang, dan malam. Kavin selalu memakan makanan kampungan— up, aku keceplosan lagi." Zaly berucap seolah memang ingin membuat Mika malu.


Kavin yang mendengar itu hanya melayangkan tatapan tajam ke arah depan, tepat ke wajah Zaly yang sok dibuat imut.


"Biarpun makanan kampung. Aku bisa kenyang, dan menikmatinya itu sudah cukup. Apa lagi istriku sendiri yang memasaknya," jawab Kavin, dan itu berhasil membuat Zaly tersenyum masam.


"Malahan aku sangat perihatin dengan suamimu kelak. Dia pasti tidak bisa menikmati makanan dari tangan istrinya sendiri," ejek Kavin dan itu langsung menusuk ke jantung Zaly.


Semua orang yang mendengar itu malah tertawa terbahak-bahak, tapi tidak untuk Agler yang masih menikmati makanannya dalam diam.


"Papa langsung saja ke inti acara makan malam ini." Kavin mengarahkan pandangannya ke arah Rama.


Sedangkan Rama yang tadinya tertawa mulai mereda suara bahagia itu. Dia bergerak meraih sebuah gelas yang sudah berisikan air putih, meneguknya, dan kembali meletakkannya di permukaan meja.


"Gini— besok kamu harus melakukan perjalanan bisnis." Rama menjeda ucapannya hanya untuk melihat ekspresi anak pertamanya.


"Ke Australia untuk bertemu dengan salah satu kolega." Rama kembali menjeda ucapannya untuk melihat ekspresi wajah Kavin yang tidak berubah.


"Kau akan pergi bersama Agler, hanya dia." Seketika Kavin membulatkan mata terkejut seolah tidak percaya dengan apa yang terucap dari mulut Papanya.


'berdua dengan Agler. Maksudnya, aku akan meninggalkan Mika?' batin Kavin menerka, dan disaat dia sudah menyimpulkan.


Dia ingin mengeluarkan kata-kata penolakan, tapi ucapannya tertahan di kerongkongan, "Kau tidak boleh menolak, karena ini sangat penting untuk perusahaan," imbuh Rama, dan itu berhasil membuat Kavin melihat ke arah Mika yang saat ini menatap dirinya dengan senyum seolah ingin mengatakan.


pergilah,


"Berapa hari?" tanya Kavin sembari kembali bergerak menoleh ke arah Rama.


"Satu bulan." Kavin lagi-lagi tersentak kaget, dan dia langsung menoleh ke arah istrinya yang entah sejak kapan semakin melebarkan senyumannya.


Mika menganggukkan kepalanya dengan tangan kiri yang menggenggam erat jemari tangan kanan Kavin yang ada di bawah meja, "Kamu yakin mengizinkan aku pergi?" tanya Kavin dan Mika hanya menganggukkan kepalanya.


"Satu bulan loh," imbuh Kavin dan Mika kembali menjawab dengan anggukan kepala.


Kavin yang melihat itu kembali menoleh ke arah Papanya, "Baiklah— Kavin akan pergi. Satu bulan dan tidak lebih." Rama yang mendengar itu tersenyum penuh bahagia. Dia yang dari dulu berkeinginan melebarkan sayap perusahaannya akhirnya tercapai.


Beruntunglah ada seorang pebisnis dari Australia yang tertarik bekerja sama dengan perusahaannya dan semua itu karena Kavin.


Sedangkan di sisi Kavin dan Mika. Saat ini kedua pasangan suami istri itu diam dengan ekspresi yang berbeda.


Kavin yang saat ini memamerkan kesedihan, dan Mika yang saat ini menyungging senyum yang membahagiakan. Padahal dibalik kepergian sang suaminya, ada suatu kejadian yang akan menimpa hubungan mereka.


Apa itu?

__ADS_1


...T.B.C...


__ADS_2