Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
110. Memilih Untuk Percaya


__ADS_3

...Update pagi-pagi untuk kalian🤭...


...stay reading yah...


...****************...


"Iya— kamu harus melakukan itu." Kavin berbicara bertepatan dengan Mika yang sudah membuka lebar pintu ruang kerja, "Sayang?" imbuh Kavin dengan mata terbelalak kaget, saat melihat keberadaan Mika yang saat ini sedang berdiri diam di ambang pintu.


Kavin menormalkan keterkejutannya, "Sayang? Kenapa kau memanggilku dengan sebutan seperti itu, Kavin?" Suara seorang pria kembali terdengar, tapi itu bukan milik karena suara itu, keluar dari dalam MacBook yang saat ini menghadap ke wajah suaminya dengan nyala biru yang terang.


"Itu bukan untuk lo. Jadi,. Lo diam, dan mulai buat kesimpulan yang gue ucapkan tadi," jawab Kavin dengan tidak lagi menggunakan kamu.


Mika yang mendengar jawaban bersungut-sungut dari suaminya tadi, langsung tersadar, "Hai— kamu kenapa belum tidur?" tanya Kavin dengan masih dalam posisi duduk di kursi kerjanya, tapi pandangan matanya sekarang terkunci pada sosok ayu istirnya.


Mika yang mendapatkan pertanyaan seperti itu hanya menjawabnya dengan seutas lengkungan senyum. Wanita itu bergerak memutar tubuhnya hanya untuk, menutup pintu yang tadi dia buka sangat lebar.


"Iya, belum lah. Orang dari tadi kita lembur kan?" Suara jawaban kembali terdengar dari dalam MacBook, membuat Kavin menatap tajam ke arah layar tersebut.


"Bukan lo yang gue maksud, Agler Adelio. BUKAN LO," jawab Kavin dengan nada yang ditekan di akhir ucapannya. Sedangkan Agler yang saat ini sedang melakukan panggilan video, hanya bisa terkekeh di seberang sana.


"Lo jangan banyak protes, dan cepat kerjakan bahan-bahan materi yang akan kita persentasi kan, di hari senin!" Kavin memerintah dengan tampang wajah dibuat datar, dan itu berhasil membuat Agler, sahabat sekaligus sekertaris barunya di kantor.


Iya— tepat setelah akad pernikahan tiga bulan yang lalu. Agler tiba-tiba saja datang ke kantornya, dan mengatakan kalau dia sekarang menjadi sekertaris baru Kavin.


Terkejut? tentu Kavin akan terkejut, karena dia tidak menyangka kalau Agrel yang sangat tidak menyukai pekerjaan kantor tiba-tiba menjadi seorang sekertaris.


Kavin pernah bertanya, kenapa dia meninggalkan karir fotografernya, dan memilih menjadi sekertaris Kavin.


Agler menjawab, kalau dia ingin belajar cara menjadi seorang pebisnis, karena papanya sudah meminta dirinya untuk menggantikan posisi kepemimpinan di perusahaan.


Kavin yang mendengar jawaban itu, hanya menghedikkan bahu, dan tanpa mau bertanya lagi. Dia menerima Agler menjadi sekertaris, walau ada sedikit kejanggalan juga sih.


"Siap Bos." Lagi-lagi Mika mendengar suara jawaban yang terdengar sangat riang dari dalam MacBook. Dia yang sekarang sudah berdiri di sisi kanan meja, hanya diam memerhatikan Kavin.


Tak lupa— Mika mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang kerja sang suami. Kosong— tidak ada seseorang selain suaminya, dan dia yang ada di ruang kerja itu.

__ADS_1


Sementara Kavin. Pria yang tiga bulan terakhir ini menjalani hidup seorang suami, hanya bisa memperhatikan wajah bingung sang istri, dengan tangan menopang kepala.


"Lihat apa, hem?" cicit Kavin, dan itu berhasil membuat Mika tersentak kaget.


Kavin yang melihat reaksi istrinya itu, hanya terkekeh kecil. Sedangkan Mika yang mendengar kekehan tersebut, hanya bisa menundudkan kepala.


Namun, sedetik kemudian. Dia kembali menegakkannya, dan seutas senyum langsung terlukis jelas di wajah hutang yang sekarang nampak sedikit memutih itu.


Mika tersenyum sembari kedua tangan memperlihatkan apa yang saat ini dia bawa, "Kopi? Bukankah aku tadi meminta si embok yang buat? Lalu, kenapa kamu yang bawa, hem?" Kavin terlihat mengeluarkan ekspresi terkejutnya.


Pria yang sudah berstatus suami itu, bergerak mengubah posisi duduknya menjadi punggung yang bersandar di sandaran kursi, "Agler sudah dulu yah. Nanti setelah laporannya selesai, lu hubungi gue. Sampai jumpa." Kavin langsung mematikan sambungan panggilan video yang dilakukan dengan Agler lewat MacBook.


Setelah melakukan hal itu. Sekarang, fokus pria dua puluh tujuh tahun itu, terkunci untuk istrinya, "Letakkan itu di meja!" perintah Kavin, dan Mika yang sejujurnya masih dalam mode menyelidik hanya mengangguk patuh.


Dia bergerak meletakkan nampan yang berisikan dua cangkir kopi itu ke atas meja, dan setelahnya. Dia merasakan sebuah tangan besar menggenggam pergelangan tangannya, dan sebuah tarikan pelan langsung membawa tubuhnya terhuyung ke belakang hingga duduk tepat di atas pangkuan yang tidak lain adalah suaminya.


"Tadi aku nanyak loh. Kamu kenapa belum tidur?" Kavin mulai berucap dengan nada lembut, dan dia juga kembali menanyakan pertanyaannya yang tadi dengan menggerakkan dua alis matanya naik turun.


Mika yang mendengar itu langsung bergerak memainkan kancing atas baju suaminya, dan kepalanya dia tundukkan. Bingung? tentu saja wanita yang sudah berstatus istri itu kebingungan, dan dia tidak tahu harus membawa apa.


Mika menatap Kavin yang sekarang menampilkan ekspresi sayu, "Aku lelah, aku ngantuk, dan aku pengen istirahat," lanjutnya, dan tiba-tiba saja pria itu bergerak merebahkan sisi kanan wajahnya di tubuh bagian depan Mika. Pun kedua tangan besarnya entah kapan melingkar di pinggang Mika.


"Tapi, aku tidak bisa melakukan itu. Jika aku istirahat, pekerjaan tidak akan pernah selesai, dan aku juga tidak akan mendapatkan uang untuk membawamu berobat." Kavin berucap dengan masih dalam posisi yang tidak berubah. malahan sekarang dia mulai mendusel-duselkan wajahnya.


Mika yang mendengar penuturan Kavin langsung berubah, dan kecurigaan yang ada dalam dirinya menguap entah ke mana. Pada akhirnya, dia memilih untuk tidak mempercayai mimpi itu, dan malahan sekarang dia bergerak membalas pelukan Kavin membuat, kepala sang suami semakin menempel.


Kavin tiba-tiba bangun, membuat Mika lagi-lagi tersentak, dan itu selalu saja mengundang sebuah kekehan keluar dari mulut suaminya, "Kenapa sering banget kaget sih?" tanya Kavin sembari bergerak mengangkat tubuh Mika agar bangun dari posisinya.


"Sekarang duduk seperti biasanya, sayang!" Kavin memerintah, dan Mika yang selalu mendapatkan ceramah dari Kavin untuk selalu menuruti perintah suaminya hanya mengangguk.


Mika bergerak mengangkat kaki, dan memasukkannya ke celah yang ada di bawah lengan kursi. Hal itu dia lakukan kepada kakinya yang satunya lagi, hingga sekarang. Wanita itu duduk di pangkuan Kavin dalam posisi dia menghadap tepat ke depan Kavin. (kalian bisa bayangin kan posisi duduknya?)


Kavin yang sudah melihat itu, kembali melingkarkan lengannya di pinggang Mika. Sekarang bukan dia yang menyadarkan sisi kepalanya, tapi dia menarik tubuh Mika, agar sisi kepala gadis itu tiduran di dada bidangnya.


"Kenapa belum tidur? Kangen meluk aku yah?" Kavin kembali bertanya, tapi dia juga sedikit mengeluarkan kata-kata godaan yang akan membuat dirinya mendapatkan sebuah cubitan.

__ADS_1


"Akhhh— tangan itu loh. Kebiasaan banget." Kavin menjerit saat Mika tanpa hati mencubit perut datarnya, walau kulitnya dicubit sedikit, tapi percayalah sakitnya itu bukan main. Malahan yang sedikit itu lebih sakit, bukan begitu?


Sedangkan Mika yang mendengar suaminya meringis, hanya tersenyum memamerkan gigi putihnya, "Enggak boleh loh gituin suami," imbuhnya, dan itu berhasil membuat Mika mengangguk.


Kavin yang melihat anggukkan itu, langsung bergerak mencubit hidung istirnya, dan diakhiri oleh sebuah kecupan lembut di kening Mika, "Makasih kopinya sayang," ucap Kavin lembut, dan pria itu mulai fokus kembali ke MacBooknya.


Namun, itu tidak bertahan lama karena sedetik kemudian. Dia kembali menundukkan kepala hanya untuk mengecup kening Mika, "Yok Kavin semangat. Demi istri tercinta," ujar Kavin tiba-tiba membuat Mika tersentak kaget.


Mika bergerak menepuk pelan pipi Kavin, membuat pria itu berdeham, dan langsung menundukkan kepalanya. Mika yang melihat suaminya kembali fokus ke dirinya, pun langsung membuat isyrat tangan.


"Kenapa tadi teriak seperti itu?" tanya Mika dengan pandangan menatap horor Kavin.


Sedangkan Kavin yang melihat itu langsung terkekeh, dan kembali mengecup kening Mika. Entah kenapa setelah menikah, Kavin begitu suka mengecup kening istrinya.


"Untuk menghilangkan kantuk, sayang. Tadi aku meminta si embok untuk buat kopi, tapi aku rasa itu sudah tidak berguna lagi karena kehadiranmu di sini, sudah membuatku tidak membutuhkan minuman hitam itu."


"Kenapa begitu?"


"Bodoh. Aku bekerja keras untukmu, dan kamu masih bertanya kenapa begitu? Jika aku malas-malasan, dan tidak bekerja keras. Aku mana bisa membawamu berobat, sayang." Kavin berucap dengan nada lembut, dan itu berhasil membuat hati Mika yang tadi di penuhi rasa curiga, menjadi hilang seketika.


Mika yang mendengar jawaban itu, langsung memeluk Kavin dengan sangat erat. Dia bahkan sampai membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami, "Aku mencintaimu, dan maaf sudah curiga kepadamu,' batin Mika.


Pada akhirnya wanita desa itu, memilih untuk percaya dengan ketulusan cinta yang Kavin miliki. Malahan sekarang, dia sedang merutuki kebodohannya karena tadi sempat mencurigai sang suami, yang begitu tulus mencintai dan menyayanginya.


"Aku lebih mencintaimu," jawab Kavin, membuat Mika menjatuhkan air mata. Satu yang harus kalian tahu. Jika Mika memeluk tubuh Kavin sangat erat, pria itu akan selalu menjawab "aku lebih mencintaimu" karena dulu. Beberapa bulan yang lalu, Kavin meminta Mika untuk memeluknya sangat erat, jika dia ingin mengatakan cinta.


"Malam ini kamu temani aku yah," pinta Kavin yang sekarang sedang memeluk tubuh mungil Mika.


Mika yang mendengar itu, menganggukkan kepalanya yang masih terbenam di dada bidang sang suami, "Terima kasih," jawab Kavin dan dia bergerak mengecup pucuk kepala istrinya, 'akan aku lakukan apapun agar melihatmu selalu bahagia,'


...T.B.C...


...Yang kemarin bukan plot twist yah🤭. Itu cuma ketakutan Mika, karena beberapa bulan ini. Dia melihat Zaly yang begitu dekat dengan suaminya. Bahkan setiap pagi, wanita itu datang dan merecoki suaminya di ruang makan, sampai Kavin lupa keberadaan istrinya....


...Sudah siap ke konflik belum?...

__ADS_1


...Sudah siap menunggu plot twist yang sebenarnya?...


__ADS_2