Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
121. Hancur.


__ADS_3

...Makasih yah udah pada bantu vote cover kemarin 🤭...


...Semoga cover yang kalian pilihkan bisa membawa berkah di kontes yang ada di platform sebelah....


...Mau nanyak nih, ada yang penasaran enggak yah sama ceritaku yang, ini👇....



...Ada yang penasaran enggak yah? Ini cerita berlatar di NTB, konfliknya enggak berat cuma terhalang restu dan perbedaan kepercayaan. Di mana si Cowok menganut kepercayaan Hindu dan si cewek penganut kepercayaan Islam. ...


...Jadi gitulah 🤭. ...


...Yok kita selesaikan cerita ini dulu, buar aku fokus ke yang itu....


...***...


"Jadi, begitulah kira-kira penjelasan tentang kerja sama kita, Tuan Kavindra." Dia— Mr. John, laki-laki dewasa pemimpin dari perusahaan J Corf yang sangat sukses di Sydney, Australia.


Bahkan Perusahaan yang berjalan di bidang properti itu bisa dibilang paling berjaya di salah satu kota besar yang ada di negara Australia ini, dan sekarang pemimpin perusahaan ini sedang mencoba menjalin kerja sama dengan dia— Alfrizi Kavindra yang sekarang tengah duduk di sebuah sofa dan langsung berhadapan dengan Mr. John.


Kavin sekarang tengah menyungging senyum sembari berusaha untuk menahan bau alkohol yang sedari tadi mengganggu indera penciumannya. Maklum, sekarang mereka berdua sedang melakukan pertemuan di sebuah kelab malam yang terkenal di kota Sydney.


"Dari penjelasan anda, saya menangkap kalau ini proyek yang sangat besar." Kavin membuka suara, membuat Mr. John tersenyum lebar.


"Bukan besar lagi, Tuan Kavindra. Tetapi, proyek ini sangat besar. Saya sudah memikirkan proyek pembangunan hotel ini dari dua tahun yang lalu, tapi karena saya sulit menentukan lokasi strategis di Indonesia. Saya terpaksa untuk tidak menjalankannya." Mr. John menjeda ucapannya hanya untuk menyesap Vodka yang sudah tersaji di meja kaca berukuran kecil yang berada tepat di tengah-tengah sofa yang ditempatkan berhadapan.


"Anda tidak mengkonsumsi alkohol, Tuan?" tanya Mr. John setelah menelan sedikit Vodka yang dia sesap tadi.


"Nope," jawab Kavin dengan menggeleng pun tersenyum lebar menunjukkan gigi putihnya.


"Hebat sekali," puji Mr. John dengan tertawa, membuat Kavin mengangguk malu.


"Okey, kita lanjutkan," imbuh Mr. John dan Kavin hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Tapi, karena saya mendengar ada sebuah perusahaan properti yang kinerja bagus di Indonesia membuat saya menggali kembali proyek pembuatan hotel tersebut." Kavin hanya bisa menganggukkan kepalanya pun kedua sudut bibirnya tidak ada hentinya untuk terangkat.


Pasalnya, saat ini seorang miliader tengah memuji perusahaan yang dia pimpin dan tentu saja Kavin harus berbangga diri, "Saya berterima kasih atas pujiannya, Mr. John. Tetapi, jujur. Perusahaan saya tidak sebagus yang anda bayangkan."


Mr. John menggelengkan kepalanya seolah tidak terima dengan perkataan yang keluar dari mulut calon kolega bisnisnya itu, "Jika tidak bagus, mana mungkin saya akan memberikan proyek pembangunan hotel ini kepada anda, Tuan Kavindra."


Kavin lagi-lagi tidak bisa menyembuhkannya kesenangannya. Malahan senyum di bibirnya semakin tersungging lebar saat mendengar penuturan Mr. John.


"Jadi, bagaimana? Apa anda menerima kerja sama ini?" tanya Mr. John dengan tangan kanan yang sudah terulur, untuk melakukan jabat tangan.


Kavin yang mendengar itu menoleh ke sebelah kirinya untuk melihat Agler yang sedari tadi mencatat hal-hal penting yang mereka bahas.


Agler yang merasa dirinya tengah di tatap menganggukkan kepalanya, membuat Kavin kembali menghadap ke depan.


"Of course, Mr. John." Kavin langsung menjabat tangan Mr. John yang sedari tadi sudah menunggu.

__ADS_1


Sedangkan Mr. John yang mendengar itu menyunggingkan senyum, "Terima kasih, Tuan Kavindra," ujarnya dengan binar penuh bahagia.


"Sama-sama, Mr. John. Kami juga berterima kasih, karena sudah diberikan kepercayaan untuk membantu Mr. John, dalam proyek ini. Kami dari R Company akan melakukan semaksimal mungkin." Kavin berucap dengan binar yang juga menunjukkan kebahagiaan.


Dia bahagia karena bisa menyelesaikan pertemuan ini dalam lima hari saja. Awalnya dia mengira akan benar-benar tinggal di tempat ini selama sebulan, tapi aslinya.


Kavin hanya membutuhkan waktu lima hari untuk bisa melakukan perjanjian bisnis ini. Itu juga terjadi, karena cara penyampaian Kavin yang langsung membuat Mr. John terkesan.


Malahan Mr. John sendiri yang meminta kerja sama dengan Kavin dan itu karena dia terkesan di meeting pertama yang dilakukan di perusahaannya lima hari lalu.


"Surat perjanjiannya akan saya serahkan lima hari lagi. Sembari menunggu surat perjanjiannya, anda dan Tuan Agler bisa sedikit mengelilingi kotaku, bukan?"


"Terima kasih atas sarannya, Tuan. Tetapi, saya lebih memilih untuk mengunjungi dokter spesialis THT," ujar Kavin dengan tersenyum penuh hormat.


Sedangkan Mr. John yang mendengar sedikit terkejut, "Mencari Dokter spesialis THT? Kebetulan sekali saya punya kenalan. Mungkin, Tuan mau mencoba menghubunginya." Kavin yang mendengar penuturan dari kolega bisnisnya itu langsung tersenyum.


"Boleh— saya akan sangat berterima kasih," ujar Kavin yang sekarang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Mr. John yang melihat itu menganggukkan kepalanya dan langsung meronggoh saku kemejanya yang tertutup oleh sebuah jas warna putih, "Ini kartu namanya dan Tuan coba hubungi dia. Saya juga akan memberitahu dia, tentang Tuan," ucap Mr. John sembari menyerahkan sebuah kartu nama.


Kavin tanpa menunggu lama langsung mengambil kartu persegi panjang itu dan menyimpannya di dalam saku kemejanya, "Terma kasih, Mr. John. Terima kasih." Kavin berucap dengan nada begitu tulus.


"Kalau begitu, apa pertemuannya kita selesaikan sampai di sini saja?" tanya Mr. John membuat Kavin menganggukkan kepalanya.


Ketiga laki-laki itu bergerak bangkit dari duduknya. Bedanya satu diantara laki-laki itu saat ini membawa sebuah MacBook. Siapa lagi kalau bukan Agler.


Kavin menoleh ke arah Agler, "Apa kau sudah mencatat semuanya?" tanya Kavin dengan nada berbisik pun menggunakan bahasa Indonesianya.


Mr. John yang melihat itu hanya bisa menaikkan satu alis matanya seolah bingung, "Sekali lagi terima kasih, dan selamat atas terjalinnya hubungan kerja sama ini." Kavin dengan cepat langsung menghadap ke depan tepat ke arah Mr. John yang lagi-lagi mengulurkan tangannya.


"Sama-sama, Mr. John," jawab Kavin dan laki-laki itu membalas jabatan tangan kolega bisnisnya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Mr. John berucap sembari menarik tangannya dari genggaman tangan Kavin.


"Tentu saja," jawab singkat Kavin dan Mr. John yang melihat itu mengeluarkan kerlingan mata jahil.


"Semoga kalian terhibur sesampainya di Hot-"


"Oh ya, Mr. John. Saya lupa mengatakan sesuatu," potong Kavin membuat Mr. John menaikkan satu alisnya.


"Melupakan apa, Tuan Kavindra?" tanya Mr. John dengan raut wajah kebingungan.


"Tolong, Mr. John berhenti untuk meminta wanita menggangu saya. Saya merasa risih, Tuan," ujar Kavin membuat Mr. John terkekeh.


"Baiklah," Jawabnya singkat, membuat Kavin menyunggingkan senyum.


***


Indonesia, Jakarta, 17.00pm

__ADS_1


Suasana gelap menyelimuti kamar yang setiap harinya terang pun dipenuhi oleh canda dan tawa. Tetapi lihatlah sekarang, kegelapan mengepung tempat itu pun tidak ada lagi suara candaan yang terdengar di sana.


Di bawah lantai tepat di sisi ranjang, terlihat seorang wanita yang hanya terbalut selimut, itu pun hanya menutupi area dada hingga pinggulnya.


Sedangkan dari paha sampai ujung kaki, semua terekspose. Bahkan di pergelangan kaki wanita itu terdapat sebuah lingkaran merah yang berubah keunguan, pun di pergelangan tangannya juga terdapat hal yang serupa.


Wajah ayu yang dulunya selalu berseri dan dipenuhi oleh seutas senyum sekarang berubah suram. Tidak ada senyum dan tidak ada kebahagian yang terpancar di sana.


Wanita ayu itu tiba-tiba menangis saat kilas balik kejadian lima hari terakhir ini begitu terputar nyata diingatnya. Rasa sakit kembali menyerang hati, jiwa, dan raganya.


Meong!


Miranda yang sedari tadi melihat— Mika istri majikannya hanya diam mulai mengeluarkan suara. Bahkan kucing berbulu putih bersih itu kembali menjilati bercak-bercak darah yang berceceran di lantai.


Malahan kucing putih itu juga tidak absen untuk menjilati paha Mika yang di mana, asal dari darah itu.


Mika yang mendapati perlakuan itu pun masih tidak bergeming. Dia hanya bisa terduduk dengan air mata yang terus mengalir begitu derasnya.


Mika mulai menggerakkan bola matanya untuk melihat ke bawah, tempat di mana ponselnya tergeletak dan menunjukkan foto Kavin— suaminya yang tengah berpelukan dengan wanita lain.


"aku seharusnya tidak ke sini," batin Mika lirih dengan air mata yang semakin berderai.


"*a*ku seharusnya tetap tinggal di desa saja," batinya lagi sembari mengingat kehidupan damainya di pulau Lombok, dan itu sedikit mempu membuat dia menyunggingkan senyum walau sudut bibirnya terasa perih.


"kapan kamu akan mengubungiku, Kavin?" tanyanya dengan suara yang sangat lirih.


"aku di sini kesakitan, aku di sini membutuhkanmu, aku di sini berharap kamu kembali secepatnya, dan bawa aku pulang ke asalku. Aku tidak kuat di sini," batin Mika meratap dengan air mata yang tidak ada henti-hentinya keluar.


Cklek!


Suara pintu yang terbuka dengan pelan-pelan langsung membuat Mika tersentak kaget, dan menyembunyikan wajahnya, seperti orang yang sangat-sangat ketakutan.


Sedangkan Setiaji dan Rifki yang melihat itu dari ambang pintu malam tersenyum penuh kebanggaan, karena mereka selama lima hari terakhir ini berhasil merusak mental Mika.


Membuat wanita itu ketakutan dengan hanya mendengarkan suara pintu terbuka, "Apa itu sudah cukup?" Setiaji melontarkan pertanyaan sembari mengarahkan kamera belakang ponselnya untuk menyorot Mika yang bergerak-gerak ketakutan dan membuka mulut untuk mengeluarkan kebisuan.


"Lakukan sampai dia benar-benar tidak ingin hidup di dunia ini." Suara yang disamar-samarkan keluar dengan sangat jelas dari dalam telepon.


Setiaji yang melihat itu hanya terkekeh dan langsung menunjukkan sebuah seringai, "Perintah dilaksanakan, Tuan."


Setiaji memutus panggilan videonya dan laki-laki tiga puluh tahun itu menoleh ke arah Rifki, "Kita main-main lagi. Kali ini, ikat dia di tembok, gimana?" ucap Setiaji memberi saran dan tentu Rifki yang mendengar itu menyeringai.


"Boleh juga."


Kedua laki-laki yang tidak mengenakan selembar busana itu berjalan mendekati Mika. Tetapi, langkah mereka terhenti saat seekor kucing mencegat mereka dengan terus mengeong.


"Tidur saja kau dasar bintang, brengs*k." Setiaji menendang tepat di leher kucing betina itu membuatnya pingsan, dan langsung melempar keluar dari dalam kamar.


Miranda jatuh pingsan tepat di sebelah bangkai tokek yang sudah dikerumuni oleh semut, "Ayo kita bermain kembali, istriku." Mulut Mika langsung terbuka lebar mencoba untuk berteriak, tapi itu hanya akan menjadi bahan tertawaan kedua pria bejat tak berperasaan yang lima hari terakhir ini melakukan kekerasan seksual kepada Mika.

__ADS_1


Bahkan dia tidak peduli saat Mika mengeluarkan darah dari alat k*laminnya, karena dua hewan itu hanya memiliki satu tujuan. Merusak mental Mika.


...T.B.C...


__ADS_2