Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
71. Ini Sumbangan dan Bukan Traktiran.


__ADS_3

"Gadis desa. Sudah yah, punggungku pegel, karena gendong kau," terang Kavin sudah kesekian kalinya, dan itu membuat rasa iba di hati Mika mencuat.


Iya, sudah lebih sejam Mika digendong punggung oleh Kavin, tanpa ada kata istirahat sama sekali. Mana sedari tadi sesuatu dibawah perutnya terasa sangat sesak, dan itu berhasil membuat Kavin kelimpungan.


Mika bergerak menepuk pelan pipi Kavin, membuat sang empunya sedikit menolehkan kepala kebelakang, "Sudah yah?" tutur Kavin dengan nada dan tatapan yang sangat-sangat memelas.


Mika yang mendengar itu menganggukkan kepala. Gadis hitam manis itu langsung mengacungkan jari telunjuknya untuk menunjuk sebuah pohon kelapa yang terlihat sedikit teduh.


Kavin yang melihat arah telunjuk Mika langsung menganggukkan kepala, dan tanpa berlama-lama lagi dia langsung berjalan cepat mendekati pohon kelapa yang tumbuh menjulang itu. Kavin bertekuk lutut membuat Mika perlahan turun dari punggung Kavin


"Akhirnya usai juga penyiksaanku ini," gumam Kavin. Mika yang mendengar itu hanya cekikikan, dan sedetik kemudian dia bergerak menepuk pelan pipi Kavin.


"Apa lagi?" tanya Kavin dengan menambahkan nada di setiap katanya. Terlebih lagi sekarang Kavin sedang mengeluarkan eskpresi lelah bercampur pasrah miliknya.


Mika yang melihat itu membuka mulutnya untuk mengeluarkan cekikikan bisu. Tetapi, setiap kali Mika membuka mulut untuk tertawa, Kavin merasakan hadirnya sebuah suara yang ditangkap oleh gendang telinganya.


"Ketawain aja terus," ujar Kavin dengan raut wajah ditekuk.


Sekarang pria itu duduk tepat di depan Mika, dengan gaya satu kaki ditekuk, dan satunya lagi direntangkan, "Seneng banget yah lihat orang menderita seperti itu?" imbuh Kavin sembari menolehkan kepala ke arah Mika yang saat ini duduk bersila tepat menghadap ke arahnya.


Lagi-lagi Kavin terpana saat embusan angin menerpa wajah ayu Mika, membuat rambut-rambut Mika berterbangan. Tanpa Kavin sadari, tangan kananya bergerak menyelipkan rambut hitam Mika yang berterbangan ke belakang telinganya.


"Bukankah tadi sudah aku katakan lebih baik diikat," ujar Kavin entah tanpa sadar.


Mika yang mendengar itu langsung saja menunduk untuk menyembunyikan rona merah yang mulai merekah di sisi pipinya. Kavin mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, dan saat sadar apa yang telah dia lakukan. Dia langsung membuang pandanganya untuk melihat ke arah pantai.


Kavin juga tidak lupa menarik tangan kanannya yang tanpa dia sadari, kalau tadi sempat terulur untuk membelai rambut Mika, 'sialan! Kenapa aku selalu hilang kendali jika melihat wajahnya,' batin Kavin merutuki dirinya sendiri.


Embusan angin laut kembali menyalami kulit wajah mereka. membuat kedua insan manusia itu lagi-lagi saling beradu tatapan, saling menyelami netra mereka, "Aku mau berenang."

__ADS_1


"Aku mau minum kelapa muda."


Kavin berbicara bersamaan dengan Mika yang juga membuat isyrat tangan yang otomatis membuat mereka kembali terdiam beberapa saat, dan setelahnya....


"Kalau begitu kau duluan."


Mereka berdua lagi-lagi berbarengan, dan entah kenapa kata-kata yang keluar dari mulut Kavin, sama dengan Isyarat tangan yang dilakukan Mika.


Melihat itu. Mereka langsung saja membuka mulut, dan tertawa. Entah apa yang mereka tertawaan, tapi yang jelas saat ini mereka sedang menertawakan tingkah laku masing-masing, "Baiklah. Kau tunggu di sini. Aku akan kembali dengan kelapa muda yang kau pesan itu."


Kavin bangkit dari duduknya, dan pria dua puluh tujuh tahun itu langsung pergi tanpa ada kata-kata protes seperti biasanya. Sesuai permintaan Kavin. Mika tetap duduk diam menikmati keindahan pantai Kuta yang tidak terlalu ramai dengan pengunjung. Paling di sana ada beberapa butir wisatawan asing yang sedang berkeliling menikmati indahnya pantai Kuta Mandalika.


***


Sudah berjam-jam berlalu, dan kelapa muda yang Kavin belikan sudah sedari tadi dihabiskan oleh Mika. Sekarang gadis itu sedang duduk di pesisir pantai, dengan tangan kiri membawa ponsel Kavin, dan tangan kanan membawa baju singlet berwarna merah milik pria itu.


Dia tidak marah, malahan gadis itu langsung memperlihatkan senyum merekah miliknya. Dia mulai mengelus-elus kaca ponsel itu, tapi nihil. justru yang muncul adalah sebuah keyboard.


Sontak Mika langsung menaikkan satu alisnya karena dia tidak mengerti. Bahkan dia tadi sempat kaget karena tiba-tiba foto dirinya menghilang dari layar ponsel.


"Apa yang engkau lakukan dengan ponselku?" tanya Kavin yang entah kapan sudah berdiri di depan Mika dengan tubuh basah kuyup.


Kavin langsung bergerak duduk di depan Mika dengan posisi bersila, "Duduk di sebelahku, dan aku ajarkan kah cara menggunakan ponsel!" perintah Kavin dan Mika langsung menganggukkan kepalanya.


Mika bergerak duduk disebelah Kavin, menyerahkan benda pipih itu kepada pemilik yang sebenarnya, "Tadi aku sudah mengajarkan padamu cara menghidupinya. Sekarang aku akan mengajarkanmu cara mengoperasikannya." Mika menganggukkan kepala.


Mika hanya menganggukkan kepalanya. Sekarang gadis polos itu sedang duduk tepat di depan Kavin. Mungkin jika ada yang melihat, mereka akan mengira kalau Mika duduk di pangkuan Kavin. Tetapi, semua itu tidak benar.


"Caranya seperti ini yah...." Kavin menggerakkan tangan kananya merangkul Mika, karena jika tidak seperti itu. Dia tidak akan bisa memainkan ponsel yang ada di tangan kirinya.

__ADS_1


Sebenarnya Kavin bisa saja memainkan ponsel itu dengan tanpa tangan kanan. Tetapi, dia sekarang sedang memanfaatkan suasana, "Lihat ini baik-baik. Seperti yang aku katakan tadi. Tombol di samping ini untuk menghidupkan layar ponsel. Jika kau menekannya, maka layarnya akan menyala, dan menunjukkan wallpaper."


Mika hanya menganggukkan kepala, dan dia langsung membuat isyrat tangan, "Terus saat menyala, kenapa fotoku ada di layar itu? Apa benda itu akan memperlihatkan wajah orang yang sudah menghidupkannya kah?" tanya polos Mika, dan itu membuat satu tonyoran keras bersarang dikeningnya.


Sontak kepala Mika langsung menempel di dada bidang Kavin yang tidak dilapisi oleh apapun, membuat mereka melakukan kontak fisik, "Kau itu bodoh sekali sih. Yang kau lihat setelah ponsel ini menyala, namanya adalah wallpaper." Mika hanya menganggukkan kepala, tapi dia masih bingung apa itu wallpaper.


'Kelihatannya mengajarimu cara bermain ponsel sangatlah menyusahkan. Jadi, kau tidak usah belajar memainkan benda ini sebelum—" Kavin langsung terdiam, dan dia tidak berniat melanjutkan ucapannya.


Mika yang mendengar perkataan Kavin belum selesai, langsung menaikkan satu alis matanya seolah berkata, "Apa?"


"Anu— Sebelum kau bisa membaca. Iya, maksudku itu, dan kau jangan berpikir yang aneh-aneh," ujar Kavin pada akhirnya, dan konyolnya Mika percaya akan hal itu.


Kepala Mika masih setia menempel di dada bidang Kavin, karena sekarang pemuda itu samar-samar sedang menahan tubuh Mika agar bersandar di dadanya, "Ohh iya. Nanti malam aku ingin pergi membelikan pakaian untukmu."


Mika yang sedari tadi mencoba bangkit dari sandaran ini, bergerak melakukan isyrat tangan dengan posisi sedikit tertidur di dada Kavin.


Sedangkan Kavin yang melihat Mika hendak melakukan isyrat tangan menundukkan kepala, dan itu terlihat seperti dia sedang mencium pucuk kepala Mika.


"Membelikan aku pakaian? Apa Kavin mau mentraktir aku?" Bunyi isyrat tangan Mika, dan lagi-lagi Kavin menoyor kening Mika.


.


"Siapa juga yang mau mentraktimu bodoh. Aku itu kasihan kepadamu yang hanya punya satu pakaian. Karena aku itu orang yang baik. Aku berniat menyumbangkan sedikit pakaian untukmu, dan bukan mentraktirmu, bodoh!"


...T.B.C...


...Jangan lupa yah:...


...Hadiah, tiket Vote, like, dan komen....

__ADS_1


__ADS_2