
...Hai aku mau memperkenalkan satu visual baru nih. cus nanti para sahabat Paris bisa lihat di bawah👇. Tapi aku ingatkan aktor ini hanya jadi visual saat aku menghalu, dan dia tidak ada sangkut pautnya. Jadi, jangan kalian bawa-bawa ke real life nantinya yah....
...Kalau begitu langsung aja, stay tune....
..."Bagiku bang Kavin yang terbaik. Dia pria pertama yang aku jadikan panutan melebihi Papa. Jadi, jangan paksa aku buat menggantikan posisi Abang, Papa."...
...*...
..."Tanpa nama"...
...***...
Masih di kawasan ibu kota Jakarta. Tepatnya, di sebuah kawasan kompleks perumahan elit yang di mana di dalam sana. Terdapat sebuah bangunan-bangunan rumah besar milik. dari pengusaha-pengusaha sukses di ibu kota ini.
Dan di sana juga tempat keluarga besar Kavin tinggal. Letaknya tepat di paling ujung kompleks, dengan gerbang rumah berwarna hitam, dan berukuran sangatlah besar.
Sedangkan di balik gerbang hitam itu, terdapat sebuah halaman luas, yang ditumbuhi oleh rerumputan hijau, dan juga beberapa pohon akasia yang berukuran tinggi. Indah— itulah kata yang mampu menggambarkan suasana damai halaman rumah yang sekarang diterangi oleh lampu-lampu dengan pilar yang berdiri di sisi-sisi jalan paving taman.
__ADS_1
Sementara tepat di antara taman, dan juga rumah besar. Terdapat sebuah air mancur yang diterangi lampu sorot, dan itu semakin bisa menjelaskan kalau. Pemilik dari rumah ini adalah orang yang sangat kaya raya.
Itu masih di kawasan halaman saja, dan belum lagi masuk ke dalam rumah yang dari luar bisa kita katak, kalau betapa megahnya bangunan itu. Terlebih lagi, kita harus menaiki anak tangga demi anak tangga agar bisa sampai ke pintu utama rumah berlantai tiga itu.
Iya, rumah kediaman keluarga besar Kavin adalah sebuah bangunan dengan tiga lantai. Di mana, di lantai satu hanya terdiri dari ruang santai, ruang tamu, dapur yang menyatu dengan ruang makan, dan juga ada sebuah kolam renang dan sebuah taman di belakang rumah.
Sedangkan lantai dua rumah itu, terdapat satu ruang kantor, satu perpustakaan, dan beberapa kamar untuk tamu, dan juga ruang untuk olahraga.
Dan yang terakhir lantai tiga. Di sana, hanya terdapat empat kamar yang ditempati oleh orang-orang yang tinggal di rumah bak istana itu.
"Sialan! Anak itu sudah berani mematikan ponselnya!" Teriak marah Dia— Rama Hermanto Bagaskara. Dengan meremas kuat ponsel yang tadi sempat dia gunakan untuk menelepon Alfarizi Kavindra— anak pertamanya.
"Papa tenang dulu. Relax. Maybe now, Kavin is busy, or there is urgent business that he cancels his flight." Dia— Adena Aurellia Bagaskara, berucap dengan nada lembut untuk menenangkan suaminya yang saat ini sedang dipenuhi emosi.
Adena Aurellia Bagaskara, Istri kedua dari Rama dan sekaligus Mama tiri Kavin. Di usianya yang sudah berkepala empat ini, Adena terbilang masih cukup cantik. paras ayu khas wanita jawa sangat terpancar di wajahnya. Terlebih lagi, kulitnya yang masih terbilang masih cukup mulus tanpa ada sebuah kerutan yang menghiasinya.
Rama yang mendengar penuturan istri yang teramat dia cintai itu, hanya bisa menghela napas lelah, "Papa lelah Ma. Semakin dewasa, Kavin semakin susah diatur." Rama mengadu kepada sang istri, dengan nada yang benar-benar sudah sangat kelelahan.
Buktinya saja, pria paruh baya itu duduk, dan di sebelah sang istri, dan langsung menyandarkan punggungnya begitu saja di sandaran sofa, "Namanya juga orang sudah dewasa Pa." Adena menimpali dengan nada masih terdengar lembut, dan dia mulai bergerak mengelus lengan bagian otot milik suaminya.
__ADS_1
"Tapi tetap saja itu tidak baik. Dia sudah berjanji bakalan pulang malam ini, tapi mana? Kenapa dia harus mempermalukan Papanya seperti ini, di hadapan suami almarhum sahabat Papa. Memang dia kelihatannya biasa-biasa saja waktu pergi. Tetapi, Papa yakin kalau anaknya sekarang tidak baik-baik saja." Rama berbicara dengan menoleh ke arah sang istri yang selalu setia menyungging senyum.
"Emang apa yang bagus di pulau Lombok? Kenapa dia menghabiskan waktu satu Minggu lebih untuk berlibur?" imbuh Rama, dan itu berhasil menarik perhatian seorang pria yang duduk di sebuah singel sofa. dilihat dari raut wajahnya, pria itu nampak masih sangat muda. Mungkin kisaran usianya 22 tahun.
"Mungkin Abang masih butuh suasana baru, Pa. Jadi, apa salahnya membiarkan Abang berlibur lebih lama?"
"Anak kecil sepertimu diam, dan jangan turut campur dengan urusan orang dewasa," sinis Rama, saat mendapatkan pertanyaan dari dia— Agam Putra Bagaskara. Anak kedua dari Rama, tapi dia dapatkan dari istri keduanya. Jadi, bisa dikatakan kalau Agam dan juga Kavin itu bersaudara tapi beda Ibu.
Biar begitu, Agam. Pemuda berusia 22 tahun, berperawakan tinggi, berkulit putih bersih, rambutnya juga hitam khas dengan cowok-cowok indo lainnya. Kenapa warna rambutnya tidak hitam kecoklatan sepeti Kavin? karena Agam terlahir dari rahim seorang wanita berdarah Indonesia, begitu juga dengan Rama. Dia adalah pria berdarah asli Indonesia.
Kavin mendapatkan sedikit wajah western dari almarhum ibunya, yang keturunan bule, "Agam sudah dua puluh dua tahun, Pa. Jadi, berhenti memanggil Agam dengan sebutan anak kecil," sanggah Agam yang tentu saja tidak terima dengan panggilan Rama.
"Jika kau bukan anak kecil lagi. Kenapa, kau tidak bantu Papa dikantor? Kenapa kau menghabiskan waktu menjadi seorang pelayan di cafe?" tanya Rama, dan itu langsung membuat Agam bangkit dari duduknya.
Dia tidak lupa melipat laptop yang sedari tadi dia mainkan, untuk membuat tugas kuliahnya, "Agam tidak mau seperti itu, Pa. Agam mau seperti Abang Kavin yang berusaha dari nol." Setelah mengatakan itu, Agam langsung berlalu pergi dari ruang santai. Jika sudah seperti ini, dia pasti akan mendengar Papanya yang akan mengatakan untuk menggantikan Kavin.
Namun, Agam tentu saja tidak akan mau menggantikan posisi Abamgnya itu, karena yang berhak menduduki posisi itu adalah Kavin, "Kenapa dia begitu terobsesi dengan pencapaian kakaknya. Ada apa dengan kedua anakku?" geram Rama, dan tepat setelah itu. Ponselnya berdering, dan nama Bagas terpampang jelas di layarnya.
...T.B.C...
__ADS_1