
"Hah— hah — hah, Mik-" Kavin mengurungkan niatnya untuk berteriak tatkala mata coklatnya menangkap sosok gadis yang saat ini sedang berdiri di bibir pantai.
Kavin bergerak menurunkan kedua tangannya yang tadi berada di sudut bibirnya. Seutas senyum mulai terlukis di wajah Kavin. Pria dua puluh tujuh tahun yang tadinya hilang kendali itu, sekarang sedang menatap sendu Mika.
"Sialan! Pasti aku sudah membuatnya ketakutan," umpat Kavin yang saat ini sedang melihat punggung Mika bergetar, dan getaran di punggungnya itu menjelaskan. Kalua sekarang gadis itu pasti sedang menangis.
Kavin mengayunkan langkah mendekat ke arah Mika. Tidak ada suara yang tercipta dari derap langkah yang dia lakukan, hingga....
Grib!
Kavin langsung memeluk tubuh Mika dari arah belakang. Wajah sendunya langsung dia sembunyikan di ceruk leher milik gadis itu, "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu takut, ataupun ingin meneriakimu. Jadi, tolong maafkan aku, Mika." Sudah dua kali kata-kata permintaan maaf, Kavin utarakan ke Mika. Padahal pria itu tidak pernah mengatakan kata-kata itu kepada siapapun. Tetapi, pengecualian untuk Mika.
Mika mengentikan tangisnya. Gadis itu bergerak menyeka air yang mengalir di pipinya, dan Seelah itu. Dia menggenggam lembut tangan besar Kavin yang ada di perutnya. Jika saja dia bisa berbicara, maka Mika akan mengatakan, 'aku tahu kok apa yang Kavin rasakan,'
Namun, karena dia terlahir bisu. Miks hanya mampu mengatakan itu di dalam hatinya. Tetapi, biar begitu. Sekarang dia sedang bergerak mengelus punggung tangan Kavin, seolah dia ingin memberikan ketenangan untuk pria itu.
Kavin yang merasakan ada elusan-elusan lembut di punggung tangannya bergerak menegakkan kepalanya, membuat pipi mereka menempel satu dengan yang lainnya.
Tidak ada percakapan di antara mereka, karena sekarang mereka sedang fokus melihat pemandangan laut yang saat ini membiaskan cahaya rembulan. indah— hanya itu kata yang mampu menggambarkan suasana pantai kuta di malam hari ini.
"Hidupku menyedihkan, Mika." Berbarengan dengan Kavin yang mulai berbicara, disaat itu juga angin laut berembus.
Mereka berdua memejamkan mata untuk menikmati embusan angin yang perlahan menggerogoti kulitnya seolah ingin mencoba masuk, untuk memberikan hawa dingin.
Namun usaha angin itu akan percuma, karena sebanyak apapun ia berembus. Kedua insan manusia itu tidak akan merasakan dingin, karena sekarang mereka berdua sedang berbagi kehangatan, di dalam sebuah dekapan yang sering disebut berpelukan.
__ADS_1
Iya, Kavin masih memeluk Mika dari belakang. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya agar pipi putihnya, menempel dengan pipi hitam manis milik Mika. Jika anda mengira degup jantung dua insan itu biasa saja. Maka bisa dipastikan kalau kalian salah besar, karena sekarang mereka berdua sedang sulitnya mengontrol degup jantung mereka yang berdetak sangat cepat.
"Mika, hidupku benar-benar menyediakan bukan?" Kembali. Kavin lagi-lagi mengulangi perkataan yang sama, tapi dalam artian yang berbeda.
Sontak. Mika yang mendengar itu bergerak menjauhkan kepalanya sedikit ke kiri, dan setelahnya. Dia langsung menolehkan kepala ke sebelah kanan, tepat di mana wajah sendu Kavin berada.
Bersamaan dengan gerakan Mika yang menoleh, di saat itu juga Kabin menjatuhkan air matanya. Entah apa yang pria itu pikirkan, hingga sebutir air hangat itu jatuh dari pelupuk matanya.
"Saat itu usiaku baru lima tahun...." Kavin menjeda ucapannya, karena tiba-tiba saja matanya perih, dan itu berhasil membuat dia memejamkan mata.
Bertepatan dengan tertutupnya netra itu, disaat itu juga butiran-butiran air hangat keluar dari sudut mata Kavin, "Saat itu hari sudah menjelang pagi. Aku sudah siap dengan baju sekolah, hiks...."
Kavin menghentikan ucapannya, karena dadanya tiba-tiba merasa nyeri saat bayang-bayang kejadian dua puluh dua tahun yang lalu kembali terngiang di ingatannya.
Namun bedanya. Mika mengeluarkan air mata dengan mata terbuka. Sedangkan Kavin menangis dengan mata terpejam.
Kavin mulai menarik napas, dan itu semakin membuat butiran-butiran hangat semakin deras keluar, "Saat itu aku sangat-sangat merasa senang, karena berhasil masuk sekolah. Aku keluar dari dalam kamar, dan berlari ke kamar kedua orang tuaku dan...." Lagi-lagi Kavin tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena semakin dia mengingat kenangan itu. Hatinya juga semakin merasa terkikis.
Mika semakin menangis, dan dia yang masih dalam posisi di peluk dari belakang, menggerakkan kedua tangannya untuk membingkai wajah sendu Kavin. Jika saja dia bisa berbicara. Dia pasti akan mengeluarkan kata-kata penenag untuk pria yang saat ini sedang terlihat sangat rapuh di matanya.
Mika mulai bergerak menyeka air mata yang saat ini mengalir di pipi Kavin. Sementara Pria yang sedang diusap itu, malah semakin menumpahkan kesedihan yang selama ini dia pendam. Jujur, ini kali pertama Kavin menceritakan kisah pilunya kepada orang lain. Hal itu membuat hatinya terasa teriris, tapi merasa lega diwaktu bersamaan.
'apa ini waktu yang tepat untukku mengutarakannya? Apa setelah aku mengatakannya, dia akan menjawab iya?' batin Kavin, dan pemuda itu bergerak membuka matanya.
Pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah berawan mendung uang saat ini Mika perlihatkanlah, dan itu berhasil mengundang senyum ironi tersungging di wajah Kavin.
__ADS_1
"Apa ceritaku begitu sendu, hingga membuatmu menangis seperti itu?" tanya Kavin, dan Mika yeng mendengar itu menganggukkan kepalanya.
Kavin yang melihat gelagat polos Mika, mengeluarkan kekehan. Dia bergerak memutar tubuh Mika agar menghadap ke arahnya, dan dia juga langsung membingkai wajah Mika.
Jadilah mereka saling membingkai sagu sama lain, saling menghapuskan jejak-jejak air mata satu dengan yang lainnya, 'Iya, aku rasa ini waktu yang pas,' batin Kavin setelah menyadari suasana yang bisa dibilang cukuplah indah malam hari ini.
"Mika...." panggil Kavin sembari bergerak menarik tangan kananya yang berada di pipi Mika, dan setelahnya. Dia langsung memegang tangan kanan Mika yang ada di pipinya.
Itu dia lakukan juga di tangan satunya. alhasil sekarang mereka saling memangsa, dengan kedua tangan yang berpegangan satu sama lain. embusan angin semakin gencar menyalami kulit mereka, dan membuat rambut yang mereka miliki berterbangan.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," tutur Kavin sembari terus menatap Mika dengan tajam.
Deburan ombak semakin terdengar jelas ditelinga mereka. Suaranya yang beradu dengan batu karang, seolah menjadi pengiring Kavin yang saat ini sedang memantapkan hati untuk mengatakan sebuah rasa yang selana beberapa hari ini dia pendam.
Sementara Mika, mulai menaikkan satu alis matanya. Dia seolah sedang menunggu, apa yang ingin Kavin katakan, "Aku ingin mengatakannya sekarang, karena aku rasa ini waktu yang telat, Mika."
Bersamaan dengan penuturan Kavin yang sepertinya sudah memantapkan hati, disaat itu juga angin tiba-tuba berembus sangat kencang. Membuat beberapa pohon kelapa bergoyang menimbulkan suara, bak seperti ingin memberikan semangat untuk Kavin.
"Mika, aku— aku ingin mengatakan kalau...." Kavin menggantung kalimatnya, dan tiba-tiba saja dia menarik Mika kembali ke dalam pelukannya, "Aku akan kembali ke ibu kota besok." Pada akhirnya Kavin kembali mengurungkan niatnya untuk mengatakan apa yang sebenarnya ingin dia katakan.
Tiba-tuba saja suara deburan ombak kembali tenang. Ia seperti kecewa dengan apa yang Kavin katakan tadi. Sementara Mika yang mendengar itu langsung membulatkan mata, dan seketika dia merasakan ada yang aneh.
"Kita akan berpisah, Mika." Desiran aneh itu lagi-lagi muncul di hatinya, tapi Mika tidak mengetahui apa yang membuat rasa aneh itu muncul.
...T.B.C...
__ADS_1