Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
61. Keceplosan.


__ADS_3

...Pagi Sahabat Paris. Suka Paris back nih....


...Yok capai target 9500 dulu, baru hari ini aku update lima part....


...Makanya Sahabat Paris kudu rajin-rajin kasih hadiah dong 😳....


...Aku tak banyak ngoceh, langsung aja yok stay reading....



...(Aku cari foto visual Kavin yang bawa nampan, but tidak nemu. Jadi, aku ambil aja yang ini Sahabat Paris 🤕. Tapi tetep keren kan babang Kavinnya? Hati-hati Sahabat Paris jangan pada ileran 😂😂😂)....


...*...


...(SuKa_PaRiS)...


...***...


"Hai...." Kavin memanggil perawat pria itu, membuat orang yang sekarang tengah mendorong kursi roda itu, tersentak kaget.


"Ada apa tuan?" tanya perawat pria dengan nada kaget yang terdengar jelas oleh Kavin.


"Kenapa setiap aku memanggil, kau selalu saja kaget?" tanya Kavin dengan mendongakkan kepala, lalu mengembalikannya seperti semula, yaitu menghadap ke depan.


"Anu Tuan—"


"Lupakan— aku juga tidak peduli. Jadi, bagaimana?" potong Kavin, dan pria itu kembali mengutarakan pertanyaan yang berhasil membuat si perawat pria itu kebingungan.


Pasalnya pertanyaan Kavin ini, hanya menggunakan satu kata yaitu bagaimana. Jadi, jelas dong si perawat yang sudah menjadi teman dadakan Kavin itu kebingungan sendiri, "Bagaimana apa Tuan? Saya tidak mengerti pertanyaan Tuan. Apa tuan menanyakan, bagaimana aku bisa kaget kah?"

__ADS_1


"Dasar bodoh. Bukankah aku tidak peduli dengan itu. Aku bertanya, bagaimana keadaan gadis desa itu. Itupun kau tak mengerti," sembur Kavin membuat perawat pria itu menggerutu dalam hati.


'tidam Tuan. Tuan tadi tidak bertanya seperti itu,' balas perawat itu di dalam hati. Tetapi, sedetik kemudian. Dia mencoba untuk menyungging senyum, "Saya tidak tahu keadaaan pasien itu Tuan." jawab perawat pria itu, dan setelahnya dia menguap. Tanda, kalau rasa kantuk mulai menyerangnya.


"Kenapa kau tidak tahu? bukankah kau itu perawat di sini?"


'bukankah tuan sendiri yang melarang perawat pria masuk ke ruangan itu?' batin perawat pria itu dengan hati yang sudah meradang. Tetapi, biarpun begitu. Dia masih bisa menyungging senyum paksa, "Saya masih sayang mata Tuan."


"Ohh baguslah. Jadi, cepat. dorong kursi menyebalkan ini dengan cepat!" perintah Kavin, dan perawat pria itu menganggukan kepalanya.


***


Tidak membutuhkan waktu yang lama. dan sebentar lagi. Kavin akan tiba di ruang rawat Mika. Bertepatan dengan dia yang hampir sampai, mata Kavin tidak sengaja melihat seorang perawat wanita, hendak masuk ke dalam ruang rawat Mika.


"Hai hentikan dia! Cepat teriak, dan hentikan dia!" perintah Kavin, membuat perawat pria itu meneriaki nama perawat wanita itu.


Sementara dia— Lilis langsung menghentikan gerakan, dan menoleh ke arah seseorang yang tadi meneriaki namanya.


Perawat pria itu langsung berlari sambil mendorong kursi roda, membuat orang-orang yang berlalu lalang menepi, "Keadaan darurat. Semua minggir!" seru Kavin, dengan gerakan tangan seolah meminta mereka untuk minggir.


"Ada apa Ridwan?" tanya Lilis setelah dia— Ridwan, perawat pria itu berhenti tepat di depan pintu ruang rawat Mika.


"Kau mau apa?" tanya Kavin dengan tatapan mendelik, dan jari telunjuk yang sudab mengacung ke arah Lilis.


"Saya akan memberikan pasien itu sarapan Tuan. Jadi, saya izin mas-"


"Berhenti, dan berikan nampan itu padaku!"


***

__ADS_1


"Selamat pagi gadis desa," sapa Kavin yang sudah berada di dalam ruang rawat, dengan nampan yang saat dia pegang, dan juga kursi roda yang didorong oleh Lilis.


Mika yang saat ini duduk di sebuah ranjang berukuran sedang, menoleh, dan langsung menyungging seutas senyum manis untuk Kavin, "Selamat pagi juga Kavin," balas Mika dengan isyrat tangan, dan dia juga sudah mulai membuat isyrat nama Kavin, karena semalam pria itu memberitahukan namanya, dan dia langsung memaksa Mika untuk memanggilnya seperti itu.


Satu lagi, brankar Mika juga sudah diganti menjadi sebuah ranjang, yang berukuran tidak besar, dan juga tidak kecil.


"Cepat dorong kursi rodaku!' perintah Kavin, dan Lilis langsung menuruti perintah itu.


"Apakah sudah Tuan?" tanya Lilis setelah dia berhasil mendorong kursi roda Kavin, tepat di sisi kanan ranjang.


"Sudah, dan kau buruan keluar sana." Kavin berucap dengan nada terdengar mengusir. Lilis yang melihat itu, hanya menganggukan kepala, dan langsung berlalu pergi dari dalam ruang rawat.


Setelah perawatan itu pergi, barulah Kabin bergerak meletakkan nampan yang berisikan semangkuk bubur dan segelas air itu, tepat di atas ranjang. Kemudian setelahnya, dia bergerak naik ke atas tempat tidur itu, dengan penuh perjuangan.


"Apa kaki Kavin, baik-baik saja?" Mika melakukan isyrat tangan, untuk menanyakan kondisi kaki Kavin, karena tadi. Dia melihat pria itu menahan sakit saat hendak naik ke atas ranjang.


Kavin yang sudah duduk di atas ranjang hanya mengangguk, dan pandangan matanya sekarang tertuju pada rambut Mika yang tergerai, "padahal jika di kuncir. Dia akan terlihat lebih cantik, dan manis. Tetapi, kenapa dia selalu saja membiarkan rambut itu tergerai,' batin Kavin yang sekarang tidak begitu suka dengan rambut Mika.


Mika yang melihat Kavin diam, merasa aneh. Pasalnya, dia tidak pernah melihat Kavin seperti ini. Mika bergerak menepuk pelan pipi Kavin, dan....


"Kau akan terlihat cantik dan manis jika rambut kau dikuncir," ceplos Kavin, dan setelah sadar. Dia langsung membengkak mulutnya, 'sialan, apa yang aku katakan tadi?'


...T.B.C...


...Sahabat Paris, gimana menurut kalian part ini?...


...Yok capai target 9500, dan aku akan update 3 part lagi untuk Sahabat Paris....


...Yok absen, kalian dari mana saja sih? Siaap tahu Sahabat Paris, sepulau denagn aku nantinya kan....

__ADS_1


__ADS_2