
"Kenapa kau masih diam di sana? Cepat kasih tahu jalan untuk pergi ke tempat yang indah untuk menikmati suasana malam di pantai ini." Mika hanya bisa menurut sambil memanyunkan bibirnya, dan kelakuannya itu membuat desiran aneh muncul di dada Kavin, tapi pria itu tidak menyadarinya.
***
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mungkin sekitar lima belas menit perjalanan, sekarang Mika dan juga Kavin sudah berdiri di atas batu karang, kedua mata mereka fokus melihat ke luasnya samudra yang membentang, membiaskan cahaya terang sang rembulan yang kebetulan saat ini adalah bulan purnama.
Sudah setengah jam mereka berada di sana, tapi Kavin sedari tadi tak bergeming. Pria dua puluh tujuh tahun itu, terlalu fokus untuk melihat bentangan samudra yang malam ini berkilauan sangat indah, tapi sesekali pria itu mencuri lirik pada sosok wanita ayu yang juga sedang berdiri, dan melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan. Yaitu, menatap bentangan samudra diikuti lengkungan senyum yang menghiasi wajahnya.
Manis— itulah kesan pertama yang terlintas dibenak Kavin saat dia melihat wajah Mika dari ekor matanya. Tetapi, itu tidak berlangsung lama, karena Mika menyadari bahwasanya sedari tadi dia dilirik oleh Kavin.
__ADS_1
Wanita ayu dengan rambut yang berterbangan, karena terbawa angin laut yang malam itu berhembus cukup kencang. Mika menolehkan kepala untuk melihat ke arah Kavin, dan setelah itu dia memanggil-manggil pria berwajah datar itu, dengan lambaian tangan.
Kavin yang melihat gelagat aneh wanita di sebelahnya itu menolehkan kepalanya, dan langsung saja satu alisnya naik, karena merasa bingung dengan apa yang sedang di lakukan wanita bisu di sebelahnya itu.
"Kau memanggilku?" tebak Kavin, dan Mika langsung saja mengangguk mengiyakan, "kenapa kau memanggilku?" imbuh Kavin dengan masih menaikkan satu alisnya.
'Kenapa tuan melirikku dari tadi?' tanya Mika menggunakan bahasa isyarat tangan, membuat Kavin melongo, karena jujur saja. Dia tidak pernah belajar bahasa seperti itu.
"Sekarang ulangi, tapi dengan gerakan pelan yah," imbuh Kavin, dan Mika hanya mengangguk patuh.
__ADS_1
Mika kembali menggerakkan tangan, tapi sekarang gerakannya sangat pelan, persisi seperti slow motion yang sering dilakukan oleh anak-anak TikTok.
"Ke—na—pa" eja Kavin setelah Mika memeragakan ucapan kenapa dengan isyarat tangannya
Mika yang mendengar Kavin yang berhasil mengerikan isyarat tangannya, langsung saja menepuk-nepuk telapak tangannya, persis seperti seorang bocah di mata Kavin. Tetapi, entah kenapa hati pria itu juga sedikit merasa senang, "Kenapa kau gembira seperti itu? Kau tahu tidak, sikapmu yang tadi itu seperti bocah saja," protes Kavin, membuat raut gembira Mika menguap.
"Lanjutkan lagi," perintah Kavin, dan Mika kembali melanjutkan gerakan bahasa isyarat tangannya.
"Tu—an," tebak Kavin, dan Mika mengangguk membenarkan tebakan pria yang sedang fokus melirik ponsel dan melihat dirinya. Itu dia lakukan berulang-ulang kali. Mika kembali membuat isyarat tangan, dan itu tak luput dari perhatian Kavin.
__ADS_1
"Me—li—rik—ku." Kavin mulai mengernyitkan dahinya, dan seketika itu juga dia paham apa yang tadi gadis itu katakan dengan bahasa isyratnya. Sedangkan Mika yang sudah mendengar Kavin menjawab dengan benar, hendak melakukan isyrat yang terakhir. Tetapi, dia menghentikannya saat mata elang Kavin menatapnya dengan tajam disertai raut datar.
"Jadi maksudmu yang tadi itu, kau menuduhku melirik kau diam-diam?"