Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
99. Mulai Membicarakan Masa Depan.


__ADS_3

...Udahan dulu yah dag-dig-dug serrnya😄...


...Yang rindu dengan kesongongan babang Kavin. Cus langsung aja disimak yah😙😙...


...Stay reading...


...****************...


"Mika— menangisinya segitu aja, sayang." Sudah berpuluh-puluh kali Kavin berkata seperti itu, tapi bukannya membuat Mika berhenti, malahan calon istrinya itu semakin menjadi-jadi.


"Ehh enggak baik nangis lama-lama. Aku dulu pernah baca berita ada seorang gadis yang nangis tengah malam." Kavin menjeda perkataanya, dan itu berhasil membuat Mika yang mulai menghentikan tangisannya, menaikkan satu alis matanya.


"Iya, ini cerita nyata. Sini duduk aku bakalan ceritakan semuanya padamu." Kavin berucap sambil menepuk pangkuannya, membuat Mika berdiri di atas ranjang, dan langsung duduk kembali di pangkuan Kavin.


Iya, Kavin dan Mika sudah kembali ke kamar satu jam yang lalu. Setelah Membicarakan soal pernikahan dengan Papanya panjang lebar, Kavin langsung kembali ke kamar bersama dengan calon istri.


Namun, kalian jangan salah sangka dulu yah. Kavin tidak akan tidur satu kamar dengan Mika. Dia di sini hanya untuk menemani calon istrinya yang sedari tadi menangis, karena tak menyangka pernikahan mereka direstui.


"Ini di hapus dulu, agar calon istri Alfarizi Kavindra tidak kelihatan jelek." Dengan gerakan seringan kapas, Kavin menghapus jejak-jejak air mata di pipi hitam manis Mika.


"Nah— kalau gini kan, kamu kelihatan cantik, sayang." Puji Kavin, dan dia langsung melingkarkan kedua tangannya di perut rata Mika.

__ADS_1


"Ceritanya gini. Dulu aku enggak sengaja buka artikel di salah satu situs berita yang ada internet." Kavin menjeda ucapannya hanya untuk melihat ekspresi Mika yang mulai terlihat serius. Dia bergerak meraih jemari Mika, menggenggamnya dengan tangan kanan besarnya.


Kavin bergerak menempelkan sisi kiri wajahnya di pipi Mika bagian kiri, "Aku baca, ada artikel seorang gadis yang menangis semalaman, karena dia sudah ditinggal pergi oleh suaminya selama delapan bulan."


Mendengar itu, kedua mata Mika langsung membulat terkejut, dan itu sungguh ingin membuat Kavin tertawa. Tetapi, dia urungkan niatnya, karena sekarang otaknya sedang merangkai cerita.


Namun, percayalah ekspresi wajah yang dia tunjukkan itu seolah seperti orang yang sedang mengingat-ingat, "Terus— dia menangis tanpa berhenti semalaman suntuk, hingga mengganggu orang-orang yang tinggal di sekitar rumahnya."


Mika semakin mengeluarkan ekspresi wajah yang menampilkan dirinya semakin tertarik mendengar kelanjutan ceritanya, "Orang-orang yang tinggal di sekeliling rumahnya itu, mulai terusik, dan lapor ke RT setempat."


Kavin lagi-lagi sengaja menghentikan ceritanya, hanya untuk membuat ekspresi kelewat serius milik calon istrinya berubah menjadi raut wajah yang ditekuk. Persis seperti seorang anak kecil, "Setelah mereka semua melapor ke pak RT, tanpa menunggu waktu lagi. Mereka semua langsung bergerombolan mendatangi si gadis yang sedang menangis itu. Mereka mulai meminta si gadis untuk tidak menangis lagi, dan si gadis itu menurut. Tetapi, semua orang terkejut, tepat saat hari sudah berganti pagi. Seluruh tetangganya tak bisa berkata-kata saat."


Kavin mulai tidak bisa mengontrol ekspresinya. Dia terpaksa menghentikan ceritanya, saat melihat wajah calon istrinya yang semakin serius saja menanggapi cerita yang sebenarnya hanya fiktif belaka ini.


"Ya saat— saat gadis itu tiba-tiba nangis lagi." Seketika Mika langsung menunjukkan ekspresi datarnya, karena tiba-tiba saja Kavin tertawa sangatlah keras. Mika yang mendengar tawa itu langsung sadar, kalau cerita Kavin hanya boongan.


Dia yang masih diselimuti kekesalan, langsung menggerakkan tangan kanannya untuk mencubit perut berotot Kavin yang terbalut baju kaos berwarna abu rokok.


"Sayang, hentikan sakit." Kavin berucap sembari mempererat lingkaran tangan kirinya di perut Mika.


"Awww! Sayang sakit." Mika yang mendengar Kavin meringis, langsung menyudahi aktivitasnya itu. Jika Mika bisa mengeluarkan suara. Mungkin tawa gadis itu sekarang sudah menggema memenuhi ruang kamar bernuansa dark blue itu.

__ADS_1


Sementara Kavin. Pria itu langsung mengubah posisi duduknya menjadi bersandar di kepala ranjang. Dia bergerak merebahkan kepala Mika tepat di dadanya.


Tangan kiri Kavin masih setia melingkar di perut calon istrinya, sedangkan tangan satunya lagi masih setia menggenggum jemari Mika.


"Aku merasa, kalau liburanku ke Lombok tidak sia-sia, sayang." Kavin mulai berucap sembari merebahkan pipi kirinya di pucuk kepala Mika, "karena aku pergi liburan di sana, aku jadi bisa bertemu denganmu. Awalnya aku ingin berlibur ke Bali, tapi entah mengapa aku malah membeli tiket terbang ke NTB," imbuhnya dan Mika hanya bisa mengeluarkan kekehan bisu, karena dia begitu lelah jika harus melakukan isyrat tangan.


"Tiga hari lagi, kita akan menjadi pasangan suami istri. Tiga hari lagi kita akan saling terikat, dan tiga hari lagi kita akan selalu merasakan momen seperti ini." Kavin menjeda ucapannya hanya untuk mengecup puncak kepala Mika.


Sedangkan Mika sebenarnya ingin sekali mengatakan apa yang sekarang ada di hatinya, tapi semua itu urung dia lakukan. Karena dia musti harus melakukan gerakan yang akan membuat suasana nyaman ini terpecahkan.


"Akhirnya. Setelah bekerja keras selama sepuluh tahun hidupku. Aku akhirnya bisa menggunakan uang hasil jerit payahku untuk menikahi gadis sepertimu. Aku bukan orang yang bergantung pada orang tua, sayang. Aku itu lebih suka memakai hasil jerih payahku sendiri." Kavin menghentikan ucapannya. Dia menarik napasnya terlebih dahulu.


"Memang tabungan di rekeningku hanya sedikit, tapi aku jamin tabungan itu bisa untuk menyewa gedung, membeli gaun pernikahan, dan segala hal lainnya. Tetapi untuk beli rumah seperti ini, mungkin masih kurang, By." Kavin melanjutkan ceritanya, dan Mika tentu saja masih setia menjadi seorang pendengar.


"Tapi, aku bisa jamin setelahnya kita akan bisa membeli sebuah rumah, karena calon suamimu ini beberapa hari yang lalu sudah diangkat menjadi pimpinan perusahaan. Satu bulan gajinya, akan mampu membuat kita membeli sebuah rumah. Jadi, kau tenang saja. Aku juga sudah punya apartemen. Kita bisa tinggal di sana dulu, jika tidak mau tinggal di sini." Mika yang sudah bosan diam, mulai bergerak bangkit dari tidurannya.


Gadis itu menggelengkan kepala, dan langsung melakukan sebuah isyrat tangan, "Aku ingin menikah denganmu, bukan karena harta. Tetapi, aku menikah denganmu karena kamu mampu membuat aku nyaman, mampu membuat aku merasa tidak sepi lagi, dan kamu mampu membuatku mengetahui apa itu cinta."


Kavin yang melihat isyrat tangan itu, langsung kembali menarik Mika agar masuk ke dalam dekapannya, "Terima kasih sudah mau menerima pria sepertiku. Aku mencintaimu."


...T.B.C...

__ADS_1


...Maaf jika Feelnya enggak ngena...


__ADS_2