
...**Baru selesai anu gays....
...Ini bab pertama yah. Semoga nanti enggak ada kesibukan biar bisa yang kedua, dan seterusnya**....
***
"Sayang!" Kavin berteriak dari ruang keluarga yang ada di apartemennya. Sekarang laki-laki dua puluh tujuh tahun yang sudah menyandang status seorang suami itu berdiri dengan berkacak pinggang.
Ditubuhnya sudah melekat pakaian kantor lengkap, yang tandanya dia sudah siap pergi ke kantor untuk bekerja. Tetapi, sebelum itu. Dia akan menemani istrinya pergi ke rumah sakit.
Dan, yang akan diantar malah masih belum keluar dari dalam kamar. Sudah tiga puluh menit Kavin berdiri menunggu Mika, tapi yang ditunggu malah belum keluar-keluar.
"Sayang— buruan dong." Kavin kembali berteriak, dan berbarengan dengan itu. Mika keluar dari dalam kamar dengan pakaian santai. Bukan sebuah dress, melainkan baju kaos, dan jeans wanita, dengan sepatu warna putih, dan rambut yang dia biarkan tergerai.
Mika menyunggingkan senyum, dan kedua tangannya menarik daun telinga seolah Inging mengatakan maaf. Kavin yang melihat itu, hanya menggelengkan kepalanya, pun tangan kanannya terulur untuk mengacak-acak rambut hitam sang istri.
"Sudah?" tanya Kavin, dan Mika menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Kavin yang melihat itu ikut mengangguk, dan dia langsung menggenggam erat jemari istrinya. Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari dalam apartemen.
Sesampainya diluar, Kavin dan Mika melanjutkan perjalanan menuju lift yang di mana di depan sana sudah terdapat banyak sekali orang.
Kavin dan Mika menunggu pintu Lift terbuka bersama orang-orang lainnya. Entah itu laki-laki maupun perempuan. Semua orang menunggu di sana.
"Permisi— kenapa kalian menunggu lift ini? Bukannya masih ada dua yang-"
"Dua liftnya sedang dalam perbaikan, Tuan. Jadi, kita terpaksa harus menunggu," ucap seorang wanita remaja yang memotong perkataan Kavin.
Kavin yang mendapati jawaban seperti itu, hanya menganggukkan kepalanya, "Tunggu yah. Kalau capek bilang, nanti tak gendong." Kavin berbisik ke telinga Mika, tapi wanita remaja yang tadi menyela pertanyaan Kavin mendengar itu, dan dia menoleh untuk melihat ke arah Mika.
Wanita remaja itu menatap binar ke arah Mika, dan mulutnya entah kapan sudah menganga, "Princess Liora!" Wanita remaja itu menjerit, membuat semua orang yang ada di depan lift menoleh ke belakang.
"Kakak Princess Liora, bukan? itu loh model busan papan atas, dan brend ambasador dari-"
__ADS_1
"Maaf, mungkin kau salah sangka. Dia istriku, dan namanya Mika Anaya Kavindra." Seketika pandangan mata semua orang yang tadinya memancarkan binar cerah menjadi meredup.
Wanita remaja yang tadinya menjerit senang itu pun, menundukkan kepala dengan senyum kikuk, "Benar kah? Tapi, kenapa dia mirip sekali dengan model itu." Wanita remaja itu menyeletuk, membuat Kavin memperlihatkan wajah datarnya.
Sedangkan Mika. Wanita itu sekarang tengah kebingungan. Apa lagi sekarang dia sudah berada di dalam dekapan sang suami.
"Tidak mungkin, maaf saya permisi dulu." Kavin mengayunkan langkah ke depan, karena dia melihat pintu lift sudah terbuka.
Setelah sampai di dalam lift. Dia secepat kilat menutup pintunya, agar tidak ada yang masuk, dan dia juga langsung menekan tombol nomer satu.
***
"tadi kenapa semua orang di atas menatapku seperti itu, Mas?" Mika yang sudah duduk di kursi penumpang bagian depan melakukan isyrat tangan. Kavin yang melihat itu hanya menjawab dengan menghedikkan bahu.
"Mas juga enggak tahu. Mereka semua itu emang aneh," jawab Kavin sembari bergerak memasangkan sabuk pengaman ke tubuh istrinya.
"Kenapa adik remaja itu memanggilku dengan sebutan, Princess Liora? siapa itu?" Mika kembali melakukan isyrat tangan, dan Kavin yang memerhatikan itu kembali menghedikkan bahu.
Sedangkan Mika yang mendengar itu menaikkan satu alis matanya bingung, membuat Kavin mulai bergerak memasang sabuk pengaman, "Iya, dua. Princess pertama bernama Mika Anaya Kavindra, dan Princess kedua anak perempuan kita kelak, dan satu pangeran anak laki-laki kita." Kavin berucap dengan kedua tangan sudah menggenggam stir mobil.
"Berangkat." Kavin langsung menginjak pedal gas, dan mobil pun mulai melaju keluar dari parkiran apartemen dengan kecepatan rendah.
Dan, pria itu tidak mengetahui kalau dibelakangnya ada sebuah mobil sedan yang melaju pelan mengikuti mereka.
***
"Istri saya baik-baik saja kan, Dok?" Sudah puluhan kali Kavin melontarkan pertanyaan kepada seorang dokter pria yang saat ini tengah memeriksa telinga Mika.
Padahal dokter itu, baru saja memulai pemeriksaan, dan Kavin sudah menanyakan keadaan istirnya, "Dok— tidak ada masalah yang serius kan? Istri saya bisa bicara lagi kan?" Kavin kembali melayangkan pertanyaan, membuat dokter yang tadinya sudah fokus, menoleh ke arah dirinya.
"Saya baru mulai, Tuan. Jadi, bisakah Tuan tenang, dan biarkan saya fokus memeriksa?" Kavin menyengir, dan pria berpakaian kantor itu langsung menganggukkan kepalanya.
Sedangkan Mika yang saat ini dalam posisi setengah berbaring, hanya cengegesan melihat tingkah sang suami, "Sayang— jika kau merasa sakit. pukul aja dokternya, atau cubit!" Kavin memerintah dengan nada yang terdengar tidak sedang bercanda.
__ADS_1
Dokter yang mendengar itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan kembali fokus memeriksa telinga Mika.
Iya, sekarang Kavin dan Mika sudah berada di rumah sakit bagian poli THT, untuk memeriksa keadaan sang istri. Kavin sekarang hanya bisa duduk diam, dengan keadaan hati yang kalut, dan dia juga sangat berharap kalau kebisuan yang istrinya alami tidak permanen.
***
"Jadi begini-"
"Iya, bagaimana dok? penyakit yang diderita istri saya bisa disembuhkan, kan Dok?" Kavin memotong perkataan dokter, membuat sang dokter menatap datar ke arahnya.
"Bagaimana saya menjelaskannya jika, Tuan dari tadi memotong ucapan saya." Dokter paruh baya itu berbicara dengan nada geram, tapi biar begitu. Kavin tidak memperdulikannya.
Sekarang yang ingin dia ketahui adalah keadaan istrinya, "Kalau begitu. silahkan bicara, Dok," ucap Kavin mempersilahkan, membuat sang dokter paruh baya mengehala napas lelah.
"Jadi gini. Saat tadi saya memeriksa telinga, hidung, dan tenggorokan istri, Tuan. Saya tidak menemukan adanya gangguan, atau bisa dibilang normal." Dokter menjeda ucapannya hanya untuk melihat Kavin yang menganggukkan kepalanya.
"Jadi, saya masih belum menemukan apa penyebab istri anda mengalami kebisuan. Kalau boleh tahu, sejak kapan, Nyonya mengalami gangguan tidak bisa bicara?" Dokter bertanya kepada Mika, membuat wanita yang sudah menyandang status istri itu bergerak melakukan isyrat tangan.
"Ibu panti asuhan mengatakan. kalau saya ditemukan di depan gerbang panti, dalam keadaan menangis tapi tidak mengeluarkan suara."
Dokter yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya, "Jadi, bisa dikatakan kalau, Nyonya mengalami kebisuan dari lahir."
"Apa istri saya bisa sembuh, dok? Jika bisa. Tolong dokter sembukan istri saya, dan jika tidak bisa, dokter harus bisakan. Intinya, bisa enggak bisa. dokter harus sembukan istri saya." Kavin berucap ceplas-ceplos, membuat Mika tersenyum di dalam sedihnya.
"Saya akan berusaha, Tuan. Tetapi, sebelum itu kita harus mengetahui dulu, kenapa istri tuan mengalami kebisuan."
"Bagaimana, caranya?" tanya Kavin dengan antusias.
"Kita akan melakukan pemeriksaan rontgen ke pada istri, Tuan." Kavin menoleh ke arah Mika, dan kedua matanya langsung menangkap sosok Mika yang tersenyum, pun dengan kepala mengangguk.
"Lakukan, jika itu langkah untuk membuat istri saya bisa bicara."
...T.B.C...
__ADS_1