
...Hai Sahabat Paris 🔥...
...**Apa kabar kalian semua?...
...60 Tiket Vote, aku double update**...
...Yok capai target, biar bisa double update xixixixixi....
...Selamat reading!...
...***...
"Buka mulutmu!" perintah Kavin, dan Mika yang saat ini sudah duduk menghadap Kavin dengan, model rambut diikat kuncir. Langsung menganga, tidak lebar, dan juta tidak kecil, "nah gini dong, kalau orang buka mulut," imbuh Kavin, dan dia langsung memasukkan satu sendok bubur hambar, khas rumah sakit itu ke dalam mulut Mika.
Mika yang sudah mendapati bubur di dalam mulutnya, bergerak sedikit mengunyahnya, dan gadis ayu berkulit sawo matang itu, langsung menelan makanan yang rasanya hambar di lidah Kavin.
"Enak?" tanya Kavin sudah sekian kalinya, dengan kening yang mengekerut.
Mika yang mendengar itu, bergerak menganggukkan kepala dengan senyum yang sedari tadi tidak pernah memudar. Kavin yang melihat itu, bergerak menyerahkan sendok itu ke tangan Mika, "Sekarang giliranmu. Melihatmu makan begitu lahap, membuatku jadi semakin penasaran," ujar Kavin. Iya, sedari tadi pria dua puluh tujuh tahun itu, penasaran dengan bubur yang Mika makan.
__ADS_1
Padahal ini yah, dia juga sedari tadi sudah memakan bubur yang ada di depannya ini. Tetapi, rasanya sangatlah hambar, dan dia sudah membulatkan tekad untuk tidak memakannya lagi.
Namun, tekad yang sudah dia bulatkan tadi. Malah menguap, karena melihat ekspresi Mika yang begitu menikmati bubur hambar itu.
Mika bergerak menyendok bubur itu, hingga memenuhi permukaan sendok. Kavin yang melihat itu, langsung menutup kembali mulutnya, "Kurangin!" perintah Kavin, dan Mika yang tidak mau mendengar ocehan pria itu langsung melakukan apa yang Kavin inginkan.
"Kurangin dikit lagi!" perintah Kavin, dan itu berhasil, membuat Mika menaikkan pandangannya, "kenapa?" imbuh pria dua puluh tujuh tahun itu.
Mika menggelengkan kepala. Dia bergerak menjatuhkan kembali bubur yang ada di sendok, dan dia bergerak mengambil secuil bubur. Jika di gambarkan, secuil bubur itu, sekarang menempel di ujung sendok.
Kavin yang melihat itu, menganggukkan kepalanya, "Sekarang cepat. aku mau merasakannya," ujar Kavin dengan mulut yang menganga lebar, dan mata yang di pejamkan.
Mika bergerak menarik sendok itu, dari dalam mulut Kavin, lalu dia menaruhnya di piring, yang masih tersisa sedikit bubur, dan setelah itu dia bertepuk tangan, "Air," ujar Kavin dengan masih membulatkan mata, "Aku butuh air, gadis desa," ulang Kavin, dan Mika langsung menyerahkan segelas air telat di hadapannya.
Kavin menggenggam gelas itu, dan dia langsung meneguk air yang ada di dalamnya, hingga menyisakan setengah gelas, "Tidak enak. Benar-benar tidak ada rasanya, gadis desa," ujar Kavin, membuat Mika terkekeh geli tanpa suara.
"Sekarang giliranmu, dan ini satu sendok penghabisan," imbuh Kavin, dan Mika langsung menganggukan kepala.
Namun, sebelum itu. Mika bergerak membuat isyrat tangan, "Aku juga ingin minum, Kavin."
__ADS_1
Kavin yang melihat isyrat itu, langsung mengangguk. Dia mengangkat gelas itu, menjulurkannya tepat ke bibir Mika, "Buka mulut!" perintah Kavin, dan Mika yang terkejut langsung bergerak mengikuti perintah itu.
Kavin yang melihat itu hanya terkekeh, dan di dalam hatinya dia bersorak kegirangan, "Apa cukup?" tanya Kavin setelah membantu Mika meneguk air yang ada di gelas.
Mika mengangguk, dengan jantung yang semakin berdetak sangatlah cepat. Entah kenapa, setiap kali dia bersama Kavin, jantungnya itu berdetak tidak normal, dan ini terjadi setiap berdekatan dengan Kavin.
Sebenarnya, jantung Mika sudah berpacu hebat saat Kavin membantunya mengikat rambut, terus. Frekuensinya bertambah lagi, saat Kavin menyuapinya makan, dan semakin bertambah saat Kavin membantunya minum.
Sungguh ini tidaklah baik bagi jantung Mika. Buktinya sekarang, gadis itu sedang meletakkan dua tangannya di area jantung, "Lihat kau makan belepotan," ujar Kavin, dan pria itu langsung bergerak membersihkan jejak-jejak bubur dan juga air di pinggir bibir Mika. Tentu saja itu, dia lakukan tanpa sadar.
'a—aku lagi apa?' batin Kavin saat menyadari, kalau sekarang dia sedang menempelkan ibu jarinya di sudut bibir Mika, yang saat ini terdiam mematung dengan rona merah di wajahnya, dan jantung yang berdetak semakin cepat.
Keheningan mulai tercipta di antara mereka berdua, yang saat ini sedang saling bersitatap, dan tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka, selain embusan napas.
Kavin masih menempelkan ibu jarinya di sudut bibir bagian kanan Milik Mika, dan dia juga tanpa sadar bergerak mengelusnya. Sama halnya dengan Mika. Saat ini, dia sedang terpaku. Sedari tadi matanya tidak mau lepas, dari pandangan netra coklat milik Kavin.
Hingga sebuah terpaan angin pagi yang masuk dari jendela, membuat mereka berdua tersadar, dan langsung memutus kontak matanya, 'sialan," umpat Kavin dalam hati, sembari membuang pandangan ke arah pintu kamar mandi.
Sementara Mika. Gadis polos itu, langsung menutup wajahnya yang terasa kebas, dengan kedua tangannya. Dia sudah tidak memperdulikan degup jantung yang semakin lama semakin, berdetak sangat cepat.
__ADS_1
...T.B.C...