
Australia, Sydney, 08.45am
"Bagaimana, Dok?" tanya Kavin yang sekarang sudah berada di sebuah rumah sakit bagian THT dan saat ini laki-laki itu tengah berbincang dengan dokter— Muller, seorang dokter spesialis THT yang lima hari lalu direkomendasikan oleh Mr. John.
Padahal, Setelah mendapati kartu nama Dokter Muller lima hari lalu, Kavin langsung menghubungi beliau. Tetapi, dia tidak mendapatkan jawaban.
Namun, dua hari kemudian dia mendapati panggilan suara dari dokter Muller dan betapa bahagianya laki-laki itu saat dia mendengar, kalau dokter Muller sudah menjadwalkan pertemuan mereka tiga hari lagi, dan tiga hari itu sudah tiba hari ini.
"Istriku bisa bicara lagi kan, Dok?" tanya Kavin, membuat Dokter Muller meletakkan foto hasil routgen Mika.
"Saya belum bisa memastikannya, Tuan. Mungkin jika Tuan membawa istri Tuan ke sini, saya bisa lebih leluasa memeriksanya." Kavin yang mendengar itu seolah mendapatkan sebuah harapan dan pikirannya mulai membayangkan betapa bahagianya sang istri jika mendengar ini semua.
"Kita akan coba melakukan tes routgen ulang," imbuh Dokter tersebut dan Kavin yang mendengar itu langsung menganggukkan kepalanya.
"Siap Dok. Saya akan bawa serta istri saya ke sini." Kavin berucap dengan nada bergetar dan tatapan mata yang berkaca-kaca.
Dokter yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Terlebih lagi saat dia melihat tingkah Kavin yang terlihat buru-buru bangkit, "Saya harus pulang sekarang juga," ujar Kavin dengan rasa bahagia.
"Silahkan, Tuan. Jika anda sudah kembali ke negeri ini. Hubungi saya di nomer yang sama." Kavin menganggukkan kepalanya, dan langsung menjabat tangan sang dokter.
"Sekali lagi terima kasih, Dok."
***
Kavin sekarang tengah berjalan keluar dari rumah sakit. Tangan kanannya sedari tadi tidak berhenti bermain-main dengan ponselnya, "My wife, my wife, my wife." Kavin tersenyum saat dia berhasil menemukan nomer ponsel istrinya, tapi baru saja dia ingin menekan icon panggilan warna hijau.
Dering nada panggilan masuk tiba-tiba terdengar keluar dari dalam ponselnya, "Agler? Ada apa dia menelepon?"
Kavin menerima panggilan masuk itu dan dia langsung menempelkan ponselnya ke telinga, "Ada apa, Agler?" tanya Kavin to the poin.
__ADS_1
"Surat perjanjian kontraknya sudah saya ambil, Tuan." Agler berucap dengan nada formal dan itu berhasil membuat Kavin semakin bahagia.
Dua kebahagiaan dalam satu hari baginya adalah suatu keajaiban, "Bagus— kalau begitu langsung saja ke bandara dan pesan dua tiket penerbangan ke Indonesia. Segera." Kavin langsung memutus panggilan telepon itu secara sepihak karena saking bahagianya laki-laki itu.
"Sayang, aku akan pulang sekarang." Kavin berucap sembari menatap nomer ponsel Mika yang pada akhirnya tidak jadi dia telepon.
"Aku akan memberitahumu nanti saja. Sekalian, aku akan memberikanmu kejutan," imbuhnya dan langsung memasukkan kembali ponselnya ke saku celana kain yang dia kenakan jam delapan, pagi hari ini.
***
Indonesia, Jakarta pusat, 05.45am
Sudah sedari tadi azan subuh berkumandang menggema di seantero pusat kota Jakarta. Pun sudah sedari tadi juga seluruh warga selesai menunaikan ibadah shalat mereka.
Namun, tidak untuk Mika yang sekarang tengah berdiri disebuah cermin yang terpasang disalah satu pintu lemari yang ada di ruang kamarnya.
Suram— hanya itu yang terlihat dari pancaran wajah yang dipenuhi oleh luka lebam berwarna keunguan.
Mika bergerak membuka salah satu pintu lemari. Dia dengan masih menatap kosong mengambil sebuah buku beserta pulpen.
Mika kembali menutup pintu lemari itu dengan hanya melepasnya dan membiarkannya untuk tertutup sendiri.
Wanita ayu itu bergerak memutar tubuhnya, membuat rasa nyeri menyerang area kewanit*annya.
Perih— itulah yang pertama kali menyerang sekujur tubuhnya dan membuat wanita itu memejamkan mata.
"Kami bukan sekumpulan orang berhati mulia yang menerimamu dengan tangan terbuka," suara seorang laki-laki berjubah hitam yang beberapa jam lalu datang menemuinya, mulai kembali terngiang di ingatannya membuat, Mika menitikkan air mata.
"Orang yang tidak terlahir sempurna sepertimu, seharusnya tidak bermimpi untuk menjadi seorang ratu sepertiku." Setelah suara laki-laki berjubah itu lenyap, di ingatan Mika kembali terngiang suara seorang wanita berjubah yang juga datang menemuinya tadi bersama laki-laki berjubah yang tadi suaranya pertama muncul di ingatannya.
__ADS_1
"Inilah akibatnya karena manusia cacat sepertimu, berani merebut sesuatu yang seharusnya menjadi milik anakku," Suara seorang laki-laki berjubah,l yang berbeda ikut muncul di ingatan Mika, saat wanita itu mengambil langkah tertatih menuju meja riasnya.
Mika memejamkan mata membuat butiran-butiran air hangat semakin keluar dengan derasnya saat suara tawa ketiga orang itu terdengar jelas di gendang telinganya.
Mika masih berjalan dengan tertatih, tapi disaat dia hampir sampai. Tubuh wanita itu lunglai ke depan dan hampir saja terjatuh ke lantai.
Namun, beruntunglah tangannya dengan sigap memegangi kepala kursi. Mika mengayunkan langkah hingga berada tepat di depan meja riasnya.
Wanita ayu itu bergerak untuk duduk, dan tanpa menunggu lama. Dia membalik-balik buku yang tadi dia ambil dari dalam lemari, untuk menemukan bagian tengahnya.
Mika mendongak dan tangan kirinya bergerak membuka tutup pulpen, "Manusia cacat sepertimu tetaplah berada di jalanan dan jangan pernah sekali lagi bermimpi untuk merangkak ke atas lagi. Pahami dimana tempatmu," Mika kembali mendengar suara seorang wanita yang berbeda dari perempuan yang berbicara terlebih dulu.
Mika memejamkan mata sembari menarik napas dalam-dalam dan ingatan tentang empat orang berjubah itu langsung tergantikan oleh bayang-bayang Kavin.
Mika kembali membuka mata dan itu bersamaan dengan seutas senyum yang tersungging begitu indahnya. Setelah sepuluh hari menjalani hidup seperti neraka— wanita itu tersenyum sangat lebar.
Mika menatap buku putih itu dengan terus tersenyum. Dia mulai sedikit menunduk dan tangannya langsung bergerak untuk menulis dipermukaan buku putih itu.
Untuk Suamiku.
...T.B.C...
...Double update, gara-gara baca komen kalian yang bikin gatel buat publish part selanjutnya....
...Baca terus hingga tamat dan kalian bisa menilainya....
...Aku kasih bocoran kalau ini akan ada sekuelnya....
...Apa sekuelnya? Simak aja tinggal tiga atau dua part lagi bakalan tamat kok....
__ADS_1