
Bias jingga mulai memenuhi kawasan rumah keluarga besar Bagaskara, membuat semua embun yang bertengger rapi di rerumputan taman menguap menjadi sebuah zat tak kasat mata.
Belum lagi sedari tadi bunyi kicauan burung terdengar sangat nyata ditelinga segerombolan orang-orang yang sedari tadi tunggang langgang keluar masuk dari dalam rumah, membuat suasana tempat tinggal keluarga besar Bagaskara itu, sedikit terlihat hidup.
"Selamat pagi Bang." Suara Agam lah yang pertama kali Kavin dengar, setelah bermenit-menit lamanya dia berkutat dengan peralatan dapur.
Sementara Kavin yang mendengar sapaan itu, hanya sedikit melirik Agam yang sudah duduk di meja makan, dan dia kembali fokus menata nasi goreng yang sedari tadi dia berusaha bentuk menjadi hati.
"Sekali lagi selamat atas pernikahan Abang, dan juga kak Mika. Semoga tidak ada gangguan hingga menuju hari Hnya." Agam masih setia mengoceh walau dia tahu, dia tidak akan pernah mendapatkan jawaban dari dalam mulut Kavin.
Sementara Kavin yang mendengar itu, terus saja diam, dan dia tidak ada niat sama sekali untuk mengeluarkan sepatah kata pun, "Selesai." Kavin berucap dengan nada girang sembari menepuk kedua tangannya seolah ingin membersihkan sisa-sisa nasi yang ada di tangannya.
"Apa itu sarapan untuk kakak ipar?" tanya Agam, dan setelahnya dia bergerak mengigit apel yang tadi sempat dia ambil di keranjang buah, "Hiasannya cantik. Abang emang terbaik dalam segala hal," puji Agam saat melihat sepiring nasi goreng berbentuk hati dengan hiasan tomat yang dipotong hingga menyerupai bunga.
Lagi-lagi Kavin hanya mengacuhkan Agam. Malahan dia memilih mencuci tangannya, "Oh iya Bang. Apa ada yang bisa Agam bantu, seperti mencarikan WO, atau ketring, atau lainnya mungkin." Agam masih belum menyerah. Dia terus saja berbicara, dan itu membuat Kavin mulai jengah.
"Tetap diam sepertinya cukup." Jawab datar Kavin, dan dia langsung bergerak mengangkat nampan yang sudah berisikan sepiring nasi goreng, dan segelas air putih, lalu dia berlalu pergi meninggalkan dapur.
"Baiklah, kalau begitu Agam akan membantu para pekerja WO sesuai yang Abang katakan." Agam langsung berjalan meninggalkan ruang makan untuk bergabung dengan para pekerja dari wedding organizer yang tengah mempersiapkan acara pernikahan kakaknya.
"Dasar anak aneh,' gumam Kavin, dan dia kembali mengayunkan langkah untuk menaiki anak tangga demi anak tangga agar bisa sampai ke lantai empat.
__ADS_1
Sedikit informasi. Agam itu sangat terobsesi dengan Kavin, jadi jangan aneh jika dia berbicara begitu cerewet jika berdekatan dengan Kavin, karena itu dia lakukan hanya untuk mengambil perhatian kakaknya itu.
***
Ceklek!
Kavin bergerak memutar ganggang pintu, hingga menimbulkan bunyi khasnya, "Sayang, aku masuk yah." Kavin berucap sembari bergerak mendorong pintu ke arah dalam, agar pintu kamar itu terbuka.
Setelah pintu itu terbuka, Kavin dengan langkah pelan masuk ke dalam kamar bernuansa dark blue dengan masih membawa nampan di tangan kirinya.
Gelap, itulah yang menyambut pandangan Kavin, saat pria itu kembali menutup pintu, "Sayang— kenapa kamu tidak menyalakan lampunya?" Kavin bertanya sembari terus mengayunkan langkah masuk ke dalam kamar.
Kavin yang masih mengenal jelas tata letak kamar, memberhentikan langkahnya tepat di sebuah meja kecil, dan dia langsung bergerak meletakkan nampan yang berisikan makanan serta minuman itu di atas sana.
Sreng!
Suara gorden yang terbuka, langsung memenuhi sudut-sudut kamar, dan itu berhasil membuat biasan cahaya mentari pagi merambat masuk sialnya cahaya itu tepat mengarah langsung ke ranjang, yang di mana sekarang Mika tengah tertidur di sana.
Kavin kembali melangkah mendekat ke arah gorden yang menutupi sebuab pintu kaca yang difungsikan untuk pergi ke balkon kamar. Dia melakukan hal yang sama, yaitu membuka gorden, dan setelahnya dia langsung berjalan mendekat ke ranjang yang di mana tempat calon istrinya tertidur.
Kavin berdiri di sisi ranjang, dan dia malah tidak ada niatan untuk duduk, "Manis," gumam Kavin, dan itu sudah tidak malu-malu lagi dia ucapkan.
__ADS_1
Sementara gadis yang dipuji manis itu malah masih setia memejamkan mata, walau cahaya mentari sudah menyerang area wajahnya. Melihat tanda-tanda calon istrinya yang tidak akan bangun, Radit menggelengkan kepala, dan langsung bergerak duduk di sisi ranjang.
"Dasar kebo." Kavin berucap dengan nada pelan, dan setelahnya. Dia bergerak mendekatkan bibirnya tepat di telinga Mika, "Bangun...." Kavin berbisik dengan nada terdengar sangat lembut, membuat embusan napasnya menerpa kulit telinga Mika.
Mika yang merasa geli mulai membuka matanya dengan perlahan. Kavin yang melihat itu, langsung bangkit dari duduknya, dan kembali berjalan untuk mengambil nampan yang tadi dia tinggalkan di atas meja kecil itu.
Bertepatan dengan perginya Kavin. Mika mulai bangkit dari tidurnya. Satu tangannya bergerak mengucek matanya yang masih ingin sekali terpejam, "Kenapa baru bangun?" tanya Kavin sembari berjalan mendekat ke ranjang Mika, dan gadis yang mendapatkan pertanyaan itu hanya menjawab dengan satu alis terangkat.
"Dasar kebo," ejek Kavin sembari memposisikan diri untuk duduk di tempatnya tadi, "Selamat pagi my love," imbuhnya, dan dia langsung bergerak mengecup kening Mika.
Mika yang mendapatkan kecupan itu, mulai sadar, dan dia langsung meraih tangan kanan Kavin, lalu setelahnya. Mika mencium punggung tangan calon suaminya itu, seolah dia ingin membalas ucapan selamat pagi Kavin dengan cara seperti itu.
"Kenapa baru bangun? lihat tahi matanya itu loh banyak sekali," goda Kavin, dan itu berhasil membuat Mika membenamkan wajah di otot tangan miliknya, "Eh ini kenapa lagi. Dibilang ada tahi mata malah nempel kayak gini," Kavin semakin gencar menggoda Mika, membuat gadis itu memerah malu, dan....
"akhhhh! sakit, by," protes Kavin saat Mika tanpa hati mencubit perutnya, dan itu hampir saja membuat nampan yang ada di pangkuan Kavin terjatuh.
Mika yang mendengar Kavin meringis, langsung mendongak, dan memamerkan senyum lebarnya, "Maaf," seperti itulah arti senyum Mika yang sudah sangat Kavin hafal.
"Dasar kebo," ejek Kavin sembari mencubit pelan hidung Mika, "Aku udah bawa sarapan. Kamu makan, setelah itu mandi, dan bersiap-siap karena kita harus pergi melihat-lihat baju yang akan kita kenakan di pernikahan nanti!" Perintah Kavin. Dia langsung meletakkan nampan yang sedari tadi dia bawa di atas ranjang, dan setelahnya dia bangkit dari duduknya.
Mika yang mendengar perintah itu hanya menganggukkan kepala, "Aku akan kebawah dulu mengambilkan baju untukmu. Ingat mandi, dan nyalakan shower seperti yang aku ajarkan kemarin, paham?"
__ADS_1
Mika lagi-lagi menganggukkan kepalanya patuh, dan itu berhasil membuat Kavin merasa gemas, "Aku mencintaimu," ujar Kavin sembari mengacak-acak rambut singa istrinya, dan setelahnya. Dia kembali berjalan keluar kamar.
...T.B.C...