Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
94. Perasaan Bimbang.


__ADS_3

...Wah😳😳😳😳...


...Aku tak percaya loh, kalau kalian bisa capai target 😙...


...Stay reading😙😙...


...15500 Hadiah, jika mau tripel update. Yok push dulu hadiahnya jika mau update lagi....


...****************...


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Pertemuan yang dilakukan antar tiga keluarga itu, sudah daei satu jam yang lalu usia.


Malahan sekarang suasana rumah keluarga besar Bagaskara sudah kembali hening, "Papa tidak sedang merencanakan sesuatu kan?" tanya Agam pada akhirnya, karena jujur. Pemuda itu sedari tadi mempunyai pikiran yang tidak-tidak.


Terlebih lagi, sikap Papanya itu sangat tidak mudah ditebak, "Papa benar-benar mengizinkan Abang menikah dengan gadis itu kan?"


Rama menoleh ke arah Agam, dengan senyum yang terlihat sangat jelas di wajahnya, "Emang tadi, Papa bicara kurang jelas hingga kau tidak mendengarnya nak?" Bukannya menjawab. Rama malahan melemparkan sebuah pertanyaan untuk Agam.


Agam yang mendengar itu menaikkan dua alisnya, dan itu berhasil membuat kerutan di dahinya tercetak jelas, "Agam denger Pa. Tetapi, aneh aja gitu loh. Sebelumnya, Papa marah-marah, dan bahkan Papa juga hina calon istri Abang. Terus saat mendengar penjelasan Abang, Papa tiba-tiba menyetujuinya," terang Agam, dan dia tidak lupa menggerakkan kedua tangannya. Persis seperti seorang yang sedang melakukan presentasi.


"Kau selalu curiga dengan Papa nak. Memang selama ini, Papa selalu membatasi abangmu. Papa juga selalu mengekang abangmu, dan bahkan selalu mengaturnya. Hingga beberapa bulan ini, dia perlahan mulai belajar membantah Papa." Rama menjeda penjelasannya hanya untuk menarik napas.

__ADS_1


Sementara Agam yang melihat gelagat Papanya yang mulai berbuah, hanya bisa menaikkan satu alisnya, "Papa juga sadar selama ini sudah membuat abangmu tertekan, dan entah apa yang dia pikirkan tentang Papa selama ini. Tetapi, melihat abangmu yang berani membantah Papa di depan orang banyak. Entah kenapa, Papa mulai sadar, kalau kelakuan membantahnya akhir-akhir ini, karena mungkin abangmu sudah muak di kekang."


Rama kembali menjeda ucapannya hanya untuk menenagkan hati yang perlahan mulai bergemuruh, karena tanpa sadar otaknya mulai memutar-mutar kenangan masa lalu.


Sementara Agam. Pria yang tadinya dipenuhi rasa curiga itu, perlahan mulai menyunggingkan senyum, "Tapi, sepertinya. Papa harus membiarkan abangmu, untuk memilih teman hidupnya. Gadis yang dibawa abangmu juga tidak terlalu jelek, untuk menjadi bagian keluarga kita bukan?"


"Terus, bagaimana dengan kak Zaly? Apa yang akan Papa katakan kepada Paman Bagas?" tanya Agam, dan hal itu kembali membuat Rama mengeluarkan ekspresi bingung.


Iya, sedari tadi dia memikirkan tentang Bagas, dan juga anaknya, "Nanti kita akan bicarakan baik-baik dengan keluarga mereka. Jika kita menjelaskan dengan baik-baik, Mama yakin pasti mereka dapat mengerti," celetuk Adena yang baru saja memunculkan diri di ruang santai rumah keluarga Bagaskara.


Terlihat wanita itu berjalan dengan membawa sebuah nampan yang di mana, berisikan beberapa gelas minuman berwarna kuning, "Mama juga menyetujui pernikahan abang dengan gadis desa itu?" tanya Agam dengan menyebut nama Mika menggunakan panggilan gadis desa, karena mereka semua masih belum tahu siapa nama gadis yang dibawa Kavin itu.


"Baiklah— kalau kalian sudah menyetujuinya. Berarti Agam bisa berkenalan dengan kakak ipar," girang Agam, dan dia langsung tunggang langgang berlalu pergi dari ruang santai, meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang menggelengkan kepala, karena merasa lucu dengan tingkah anak keduanya.


"Sekalian minta mereka turun, dan kita akan mengobrol di ruang santai. Papa juga mau tanya-tanya calon mantu Papa!" teriak Rama, dan Agam yang mendengar itu, hanya mengacungkan jari jempolnya.


***


Sementara di lantai empat rumah keluarga Bagaskara, tepatnya di sebuah kamar bernuansa dark blue dengan interior yang memberitahukan kalau kamar ini milik seorang laki-laki.


"Aku merasa senang, by." Kavin mulai berceletuk. Sekarang pria dua puluh tujuh tahun itu sudah mendudukkan pantatnya di atas ranjang, dengan punggung yang dia sandarkan di kepala ranjang, "aku bahagia, karena Papaku memberikan kita restu. Awalnya aku mengira dia akan menolak, dan kita akan terpaksa menikah tanpa restu dari orang tua," imbuhnya dengan semakin mengeratkan pelukan kedua tangannya di perut Mika.

__ADS_1


Iya, Kavin dan Mika sedang berada di kamar lama milik pria itu, saat dulu tinggal di sini. Mereka berdua duduk dengan Kavin yang meminta Mika bersandar di punggungnya yang sudah terbalut baju kaos berwarna abu rokok.


"Apa kau juga merasa senang, seperti yang aku rasakan saat ini, by?" Kavin bertanya sembari bergerak mempererat pelukan tangannya di perut Mika.


Mika yang mendengar itu, bergerak menggelengkan kepalanya, dan itu berhasil membuat Kavin bangkit dari sandarannya.


Sontak Mika yang sudah nyaman dalam posisi duduk tadi, ikut bangkit, dan jadilah mereka sekarang duduk tegap dengan Kavin yang menatap tajam ke arahnya.


"Kenapa kau menggelengkan kepala seperti itu? Apa kamu masih meragukan aku?" Mika yang mendengar penuturan Kavin, kembali menggelengkan kepalanya, dan itu berhasil membuat Kavin menaikkan satu alisnya.


Melihat ekspresi Kavin. Mika langsung bergerak membuat isyrat tangan, "Mereka masih belum mengetahui aku sepenuhnya Kavin. Papamu langsung menyetujuinya, tanpa tahu keadaanku yang sebenarnya."


"Maksudmu?" tanya Kavin yang masih belum mengerti penuturan Mika dari isyrat tangannya itu.


"Bagaimana kalau Papa Kavin tahu aku itu Bisu?"


...T.B.C...


...15500 Hadiah untuk up selanjutnya....


...Yakin— enggak penasaran?...

__ADS_1


__ADS_2