Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
125. Pesan 2


__ADS_3

Kembali ke satu hari sebelum kejadian.


Mika menangis saat dia sudah selesai menulis surat untuk suaminya. Sungguh, sebenarnya dia tidak ingin seperti ini.


Dia tidak pernah ingin pergi kembali tanpa izin dari sang suami, tapi jika dia kekeh dan ingin terus tetap tinggal di sini maka dia harus bersiap-siap menjadi penyebab hancurnya reputasi sang suami.


Kenapa begitu? Karena keempat orang misterius yang menemui dirinya dini hari tadi mengancam akan menyebarkan videonya yang tengah di perkosa oleh dua manusia bejad itu dan keempat orang itu mengatakan kepada Mika jika video itu tersebar luas, pasti yang akan menanggung malu adalah suaminya sendiri.


Karena itulah sekarang Mika duduk di kursi meja riasnya dalam keadaan menangis tersendu. Luka lebam di wajahnya terpantul jelas di sebuah cermin yang berada tepat di depannya.


Mika menutup wajahnya kala tiba-tiba saja pantulan dirinya berubah menjadi dua orang laki-laki yang sepuluh hari ini telah melakukan kekerasan padanya, merusak mentalnya, dan terlebih lagi mereka juga membunuh calon anak di dalam kandungan Mika.


Malu? tentu saja wanita malang itu merasa malu. Bahkan untuk menelepon suaminya saja dia tidak berani. Jangankan menelepon, melihat wajah suaminya yang ada di foto saja Mika takut.


Dia tidak tahu penyebabnya apa, tapi yang jelas dia malu untuk menampakkan dirinya sendiri, "Maaf Mas. Aku sudah menjadi wanita kotor, aku sudah menjadi wanita yang tidak pantas bersanding dengamu, dan aku-" Mika tak sanggup meneruskan perkataan dalam hatinya.


Jika dia mencoba untuk mengingat kasih sayang Kavin yang begitu besar, semua itu langsung menghilang tergantikan oleh bayang-bayang dua manusia hewan itu.


Apa salah wanita itu?


Kenapa hidupnya selalu tidak beruntung?


Padahal dia ingin sekali merasakan secercah bahagia, tapi kenapa tuhan begitu senang memberikan dia penderitaan?


Apa takdir tidak memiliki suara ini masih belum cukup, hingga tuhan pun merusak kebahagiaan yang baru tiga bulan ini terjadi.


Mika mulai menjauhkan wajahnya dari depan wajah, tapi kepalanya langsung dia tundukkan seolah dia tidak ingin melihat tubuhnya yang sudah dipenuhi kotoran.


Dia mulai bergerak melipat kertas yang sudah dia tulis untuk sang suami nanti jika laki-laki itu sudah kembali, "maaf mas, aku pergi dan jangan pernah mencariku lagi. Aku mencintai, Mas," batin Mika dengan air mata yang sudah berderai.

__ADS_1


Mika bergerak membuka laci yang ada di meja riasnya dan tangannya ia masukkan kesan untuk mengambil sebuah album foto.


Masih ingat album yang dulu Kavin berikan waktu akan berpisah di Lombok? Masih kan.


Mika meletakkan album foto itu di atas meja dan tangan kanannya langsung bergerak untuk membalik sampul buku.


...Diary KaMi...


...♥️...


Mika semakin menangis saat membaca kata di awal album itu dan tanpa berlama-lama lagi. Dia langsung meletakkan kertas yang sudah dia tulis di sana dan wanita itu kembali menutupnya.


Mika bergerak memasukkan album itu ke dalam laci dan bertepatan dengan itu. Mika membulatkan mata saat gendang telinganya mendengar langkah kaki di luar.


Mika dengan cepat mendorong masuk laci tersebut dan itu bersamaan dengan dibukanya pintu kamar secara kasar.


Sontak Mika langsung berdiri dan memutar tubuhnya mengarah ke pintu masuk kamarnya, "Kau ...." Suara bas seorang laki-laki terdengar menggema di seluruh ruangan.


"Seharusnya kau dan ibu sialanmu itu mati di sana, tapi kenapa kau datang ke sini dan membuat kehidupanku dan keluargaku terancam?!" Laki-laki itu masih bertanya dengan nada tinggi dan Mika yang mendengar itu semakin dibuat takut.


"Kau tahu, kelakuan bejatmu itu membuat mereka mengancam untuk menghancurkan bisnisku, karier anakku!" Laki-laki bertopeng hitam itu masih berbicara dengan nada berteriak dan itu semakin membuat Mika melangkah ke belakang hingga dia tidak menyadari kalau jaraknya dan ranjang hampir terkekis.


"Tapi, mereka mengatakan tidak akan menyebarkan video itu jika aku membunuhmu." Laki-laki bertopeng itu mulai memelankan suaranya, tapi biar begitu Mika tetap melangkah mundur dengan tubuh yang gemetar hingga lututnya tiba+tiba tertekuk karena menabrak bagian depan ranjang, dan tubuh Mika langsung terjatuh di atas tempat tidur.


"Sebelum aku membunuhmu. Mereka memintaku untuk menghubungi suamimu. Jadi, tunggu sebentar." Laki-laki bertopeng itu berjalan ke meja rias, tempat di mana ponsel Mika berada.


Dia mulai bermain-main dengan benda pipih itu sembari terus mengeluarkan suara tawa seolah merasa konyol dengan apa yang dia katakan di dalam chat. (perbedaan waktu, di pesan kemarin kan dari ponsel Kavin yang masih menggunakan jam Australia dan perbedaan waktu kita dengan Australia itu 3 jam.)


Sedangkan Mika yang saat ini dilanda ketakutan tidak begitu mendengarkan perkataan yang keluar dari dalam mulut laki-laki bertopeng itu. Malahan di otaknya muncul kejadian-kejadian pemerkosaan yang dia alami selama sepuluh hari terakhir ini.

__ADS_1


"Selesai." Laki-laki bertopeng itu kembali mengayunkan langkah mendekat ke ranjang. Tangan kanannya yang sudah memakai sarung tangan, bergerak mengeluarkan sebilah pisau tajam dan mengkilat.


"Aku tidak menyangka anak yang dulunya terlahir cacat sepertimu, bisa menikahi orang kaya. Tetapi, itu justru semakin membuatmu menderita." Laki-laki dewasa itu mula menundukkan sembari berucap dengan nada mencela.


"Padahal waktu itu aku sudah meninggalkanmu di rumah sakit beserta Ibu bodohmu itu, tapi kenapa kau bisa ke sini?" Laki-laki itu masih berucap sangat pelan sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Mika.


"Selamat tinggal, anak cacatku. Kematianmu ini akan membuat Ayah dan saudari kembarmu selamat. Jadi, berbahagialah karena kau menjadi anak yang berbakti." Laki-laki itu berucap sembari menusukkan pisau bermata tajam itu ke dalam perut Mika, membuat mata wanita itu terbelalak dengan mulut yang menganga, tapi tidak mengeluarkan suara.


Laki-laki bertopeng itu semakin menusukkan pisau itu lebih dalam, dan setelahnya dia kembali berdiri tegak.


Bertepatan dengan itu bunyi dering ponsel memenuhi sudut-sudut kamar dan tanpa berlama-lama laki-laki bertopeng itu mengeluarkan benda pipihnya yang bersuara.


"Sudah aku lakukan, apa yang kalian mau. Jadi, aku mohon lepaskan anakku dan jangan lagi mengganggu kehidupan kami," Laki-laki bertopeng itu berucap dengan nada bicara yang tegas.


"Sesuai perjanjian, anakmu akan kami bebaskan. Tetapi, jujur. Kami tidak mengira kalau kau bisa membunuh anakmu sendiri demi menyelamatkan karier anakmu yang lain dan kariermu."


"Berhenti mengoceh. Aku hanya mempunya satu anak dan itu adalah Liora. Aku akan selesaikan ini dulu dan jangan pernah menghubungiku lagi. Satu lagi, aku sudah mengirim pesan untuk suaminya seperti kata-kata yang kau suruh."


Setelah selesai melapor, laki-laki bertopeng itu langsung memutus sambungan teleponnya secara sepihak. Dia langsung bergerak merubah posisi Mika yang sekarang sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang berlinang di atas ranjang.


"Kau memang anak yang mengusahakan, sialan!" umpat laki-laki itu sembari bergerak memposisikan Mika untuk tidur dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang.


Setelah memposisikan Mika seperti itu. Laki-laki bertopeng itu mulai memindahkan tangan Mika ke pegangan pisau agar seolah terlihat seperti bunuh diri.


"Beristirahat dengan tenang. Papa berterima kasih padamu," ucapnya sembari menyelimuti tubuh Mika hingga menutupi dada.


...T.B.C...


...Komen kalian bikin jari ini geregetan buat double update....

__ADS_1


...Jadi, ditunggu komen kalian lagi. Jangan ada yang mewek, karena ini bukan part sedih....


...Sedih-sedihnya kita samaan di next part, okey👍...


__ADS_2