
...Ada yang nunggu cerita ini update enggak?...
...Wkwkwkwk maaf yah karena telat, tapi aku tetap update kok. Ini buktinya walau ngaret juga sih xixixixixi....
...Okeh. Stay reading aja yah sahabat Paris!...
..."Cinta bukan sebuah konsiliasi, ia mempunyai persepsi serta pemikiran tersendiri yang bekerja sesuai kondisi hati"...
...*...
...(Alfarizi Kavindra)...
...***...
Deg! Deg! Deg!
Bunyi jantung Kavin masih terdengar sangat kencang. Rasa gugup, malu, dan gengsi membuat dirinya gagal mengutarakan apa yang beberapa hari ini dia rasakan.
Terlebih lagi sekarang pemuda itu sedang mati-matian menahan gemuruh yang saat ini melanda hatinya, karena sedari tadi. Mika tidak mengurai pegangan yang dia lakukan di pinggang Kavin.
Bahkan lebih parahnya. Sekarang Mika sedang menidurkan sisi kanan wajahnya di pundak kanan milik Kavin. membuat kedua mata hitamnya saat ini menatap teduh wajah Kavin.
__ADS_1
Mika mengangkat satu tangannya, dan tanpa di duga gadis bodoh itu bergerak menyeka keringat dingin yang bercucuran di kening Kavin. Sontak, Kavin langsung mengerem mendadak, dan beruntunglah lampu jalan menunjukkan warna merah.
"Mika— kamu apa-apaan sih? protes Kavin dengan raut penuh kegugupan disertai ketegangan yang begitu kentara di wajah Kavin.
Mika yang mendengar itu, langsung mengurai pegangannya, dan kedua tangannya bergerak menjewer telinganya, "Maaf" itu lah arti gerakan menjewer kedua telinga yang dilakukan Mika saat ini.
Kavin yang melihat itu langsung merasa gemas, dan hampir saja dia mencubit pipi Mika. Tetapi, beruntunglah lampu jalan sudah berubah menjadi hijau. Kavin bergegas menarik tuas gas motor beatnya, dan kendaraan beroda dua itu kembali melaju membelah jalanan Kuta yang nampak ramai, karena mungkin ini adalah malam minggu.
Bersamaan dengan jalannya kembali motor Beat itu. Mika kembali mengeratkan pelukannya di pinggang Kavin. Tetapi bedanya dia tidak meletakkan sisi kepalanya di pundak Kavin, melainkan sekarang dia menidurkannya di punggung Kavin.
Lagi dan lagi Kavin tersengat sebuah desiran aneh di dadanya. Malahan sekarang keringat dingin semakin bercucuran memenuhi seluruh area wajahnya, 'kenapa aku tegang seperti ini sih sialan!' umpat Kavin dalam hati.
Pria itu bergerak menurunkan dua kakinya, saat lagi-lagi dia terkena lampu merah. Tidak ada percakapan di antara Kavin dan juga Mika. Tetapi keheningan itu lenyap saat Kavin tidak sengaja melirik gerobak yang bertuliskan Martabak.
Melihat satu alis Mika terangkat. Kavin mengeluarkan decakan, dan pria itu langsung menunjukkan jari telunjuknya ke arah gerobak yang ada di pinggir jalan.
"Yang itu. Kamu ini kolot sekali sih," geram Kavin, dan itu berhasil membuat Mika cengengesan, dan Kavin juga mendapatkan satu bonus cubitan di perutnya, "Itu tangan kebiasaan deh. Gimana? mau makan itu, apa enggak?"
Mika menganggukkan kepala, membuat Kavin. langsung menancapkan gas motornya mendekat ke pedagang Martabak.
***
Deburan suara ombak menjadi suara pertama yang menyalami gendang telinga mereka setelah memasukkan motor ke teras Motel. Kavin bergerak mencabut kunci motor, membuat mesin kendaraan roda dua itu mati.
__ADS_1
"Turun!" perintah Kavin. Mika yang sudah terlihat sangat-sangat kelelahan, dan mengantuk langsung bergerak turun dari atas motor. Kedua tangannya masih setia membawa dua tas keresek.
Satu tas keresek berisi beberapa setel baju, dan satunya lagi berisikan satu kotak martabat manis, dan satu kotak martabat telor, "Tadi yang bawa kunci motel kmu kan? Jadi, kau masuk duluan." Kavin berucap dengan mata melihat ke arah ponsel yang saat ini sedang berdering.
Mika yang mendengar ucapan Kavin hanya menganggukkan kepala, dan dia berjalan terlebih dulu ke pintu masuk motel. Sedangkan Kavin malah berjalan keluar dari pekarangan motel untuk berbicara dengan si penelepon.
Mika tidak mau kepo. Makanya saat ini dia sedang bergerak memutar kunci motel, dan....
cklek!
Pintu masuk motel terbuka, dan Mika akhirnya berhasil menyungging seutas senyum lega. Mika masih berdiri di depan pintu, karena dia tidak mau masuk ke dalam rumah sebelum yang punya masuk terlebih dulu.
Selang beberapa menit Kavin kembali masuk ke pekarangan motel dengan senyum sumringah, "Kenapa masih berdiri di luar?" tanya Kavin yang juga sudah berada di ambang pintu masuk motel.
Mika yang mendengar pertanyaan itu, bergerak menyerahkan tas keresek itu ke tangan Kavin. Setelah dua tas keresek yang isinya berbeda itu berhasil di pegang oleh Kavin, baru setelah itu dia melakukan isyrat tangan.
"Nunggu Kavin?"
"Kenapa harus nunggu aku. Kangen yah? Baru ditinggal bentar aja udah kangen apa lagi di ting-" Ucapan songong Kavin terputus saat nada dering ponselnya kembali terdengar.
"Ada apa lagi sih dia nelepon. Tadi kata-kataku kurang jelas apa coba?" Kavin menggerutu. Tanpa membaca nama sang penelepon, pria dua puluh tujuh tahun itu langsung menerima panggilan, dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Kembali ke ibu kota sekarang juga. Papa rasa kau sudah berlibur terlalu lama."
__ADS_1
Deg!