
...Up egen yah! tumben up sore. keknya bakalan double update xixiixix....
...follow akun Instagram aku, "suka_paris" biar kita lebih saling mengenal xixixixixi....
...Langsung aja kuy!...
...(Tujuan mereka xixixixixi, tapi Kavin masih belum tahu)...
Jam dua siang mobil pick up akhirnya berhenti disebuah gapura yang bertuliskan "Selamat datang di desa Kuta Barat", membuat Kavin bisa sedikit menghembuskan napas lega. Tidak bisa dipungkiri, kalau ini perjalanan yang menurut Kavin paling menyiksanya seumur hidup.
Bagaimana tidak, lihatlah tubuh putih terawatnya mulai berubah memerah. Terlebih lagi seluruh area wajahnya memerah bak kepiting rebus, tapi beruntunglah tadi Mika memakaikan dia topi, dan itu sedikit membantu wajahnya terhindar dari serangan radiasi cahaya matahari yang siang ini sangatlah terik.
Kavin berdiri dengan kedua tangan lurus ke atas. Pria itu menggeliat untuk menghilangkan penat yang menyerang sendi-sendi yang ada di tubuhnya, "Leganya!" gumam Kavin berteriak membuat semua orang terkekeh, tapi Kavin mengacuhkan kekehan mereka. Malahan pria dua puluh tujuh tahun itu, langsung meloncat turun dari atas mobil pick up.
"Aneh pade turun, (ayok semuanya turun)" perintah Amak Kasim yang bergerak bangkit dari duduknya, dan turun dia ikut turun dari atas mobil pick up.
Sementara Amak Udin yang mendengar itu hanya bisa terkekeh pelan, dan pria paruh baya itu juga langsung bergegas turun. Setelah kakinya menapak diatas aspal, Amak Udin langsung bergerak membuka salah satu penutup mobil pick up itu, agar para wanita juga bisa ikut turun.
Beda lagi dengan Amak Kasim. Pria yang sudah menginjak usia 45 tahun itu malah sekarang asik berbincang dengan Kavin. malahan dari pengamatan Amak Udin, mereka sedang tertawa persisi seperti ayah dan anak.
"Asim! tolongku turun seberak! (Asim! Bantu saya turun sebentar!)" seru Inak Icok memanggil suaminya.
Iya, Kasim dan Icok adalah pasangan suami istri, dan begitu juga dengan Udin dan Hayati. Mereka berempat sepasang suami istri yang bekerja sebagai perampek, atau dalam bahasa Indonesia dinamakan para pemanen padi yang sudah menguning. Tenaga mereka di sewa oleh pemilik sawah untuk memanen padi, dan mereka akan diupah sesuai pendapatan mereka. Kadang juga, mereka akan di berikan beberapa timbang beras sebagai bonus.
Amak Kasim yang tadi namanya diserukan menoleh. Bersamaan dengan itu, Kavin juga menolehkan kepala, "Ayok," ajak Amak Kasim, dan setelahnya pria tua itu langsung mengayunkan langkah.
__ADS_1
Kavin yang tadi sempat menoleh, dan matanya tadi tak sengaja melihat sosok Mika yang tengah kesulitan turun dari atas mobil. Kavin yang sering mengatakan dia berhati besar, dan selalu menolong. Berinisiatif untuk membantu Mika yang sepertinya kesulitan untuk turun, karena gadis itu sekarang menggunakan sebuah kain sebagai penutup tubuh bagian bawahnya.
"Kalau kesulitan, minta tolong dong," tegur Kavin setelah berada tepat di depan Mika, membuat gadis itu mengangkat kepalanya, "Sini aku bantu," imbuh Kavin sembari menjulurkan tangan kanannya ke hadapan Mika.
Mika yang memang benar membutuhkan bantuan itu, tidak ingin jual mahal. dengan secepat kilat, wanita itu menggenggum tangan Kavin, dan langsung meloncat turun dari atas mobil Pick up.
Setelah mendarat dengan sempurna, Mika langsung mendongak melihat wajah Kavin dengan kedua sudut bibir terangkat. Baru setelah itu, Mika mulai menggunakan bahasa isyaratnya yang berarti.
"Terima kasih Tuan." Kavin yang melihat itu langsung saja menarik salah satu sudut bibirnya, untuk membentuk senyum songong khasnya, 'bakalan mulai lagi nih,' batin Mika sinis.
"Aku tidak butuh terima kasih kau itu, karena aku ikhlas membantu kau," songong Kavin dengan masih mempertahankan sifat sombongnya.
"Aku tidak peduli Tuan— tidak peduli," balas Mika menggunakan bahasa isyrat, yang otomatis membuat Kavin memicingkan matanya, dan bersiap untuk membalas Mika.
Namun, belum sempat kata-kata balasan. Amak Udin menyerukan namanya, membuat perhatiannya teralihkan, "Ada apa Amak?" tanya Kavin.
"Iya Mak." Kavin langsung berisap-siap mengambil alih alat ngerampek yang di sodorkan oleh Amak Udin dari atas mobil. Melihat itu, Kavin dengan sigap langsung mengambil alih alat yang terbuat dari papan dan juga bambu itu, dan setelah alat itu berada di tangannya.
Tidak membutuhkan waktu lama. Semua alat dan juga perlengkapan yang diperlukan untuk ngerampek sudah turun dari atas Mobil, "Enteh te lampak (Mari kita jalan)," ajak Amak Kasim sembari berjalan terlebih dulu sambil membawa alat yang sama dengan apa yang ada di tangan Kavin saat ini.
Setelah mendengar ajakan amak Kasim tadi, semua orang langsung mengayunkan kaki mereka, mengikuti langkah amak Kasim, "Gadis desa...." panggil Kavin dengan nada berbisik.
Mika yang berjalan di sebelahnya langsung menolehkan kepala, dan kepalanya dia gerakkan ke atas seolah bertanya ada apa.
"Apa ngerampek itu, kita akan ke bukit sana itu?" tanya Kavin yang masih belum tahu apa itu ngerampek.
Mika mulai menggerakkan tangannya yang saat ini membawa sebuah terpal plastik, untuk membuat isyrat tangan.
__ADS_1
"Nanti Tuan lihat saja sendiri,"
***
Tiga puluh menit telah berlalu, dan keenam orang itu sekarang sudah memasuki kawasan persawahan yang di mana, butiran-butiran padinya sudah terlihat menguning. Amak Kasim, bergerak menurunkan alat ngerampek itu setelah dia menghentikan langkah di sebuah pondok.
"Nah— tolok lek te juluk barang-barang te (Nah— taruh di sini dulu semua barang-barang kita)," interupsi Amak Kasim yang langsung di turuti oleh semua orang termasuk Mika.
Awalnya Kavin berdiam diri, karena tidak mengerti apa yang Amak Kasim katakan. Tetapi, setelah melihat Mika yang menaruh terpal plastik di atas dipan yang ada di pondok itu, Kavin juga bergerak menurunkan alat ngerampek itu ke jalanan setapak yang ada di persawahan itu.
"Te bekelor juluk, atau langsong mulai (Kita Makan dulu, atau langsung mulai saja)?" tanya Amak Kasim membuat kerutan di dahi Kavin semakin tercetak jelas.
dengan perasaan yang dipenuhi oleh rasa penasaran, Kavin mengangkat tangan, seolah ingin mengajukan pertanyaan, "Tunggu dulu Mak," interupsi Kavin membuat pandangan mata mengarah kepadanya, "kalau boleh tahu kita akan ngapain di sini? Bukankah kita mau pergi ngerampek?" imbuh Kavin bertanya, membuat semua orang terkekeh karena merasa lucu dengan pertanyaan yang terlontar kan dari dalam mulut Kavin.
"Iya nak Kavin. inikan kita akan ngerampek," jawab Amak Kasim sekenanya.
"Emang ngerampek itu apa?" tanya Kavin.
"Ngerampek itu, kita semua akan memanen padi ini. Tetapi sebelum itu, kita makan dulu yah." Mendengar itu Kavin langsung terdiam dengan mulut yang menganga, dan setelahnya, Pria itu melirik ke arah hamparan sawah yang dipenuhi warna kekuningan dari padi-padi yang sudah siap dipanen, 'Ti—tidak. Seroang CEO Alfarizi Kavindra akan melakukan ini semua. Ti—tidak mungkin. What the hell?"
...**T.B.C...
...Langsung aja kasih gift, Vote, like, dan juga komen yah....
...Kalau aku nggk lupa, insyaallah nanti malam aku bakalan update lagi...
...see you next part**...
__ADS_1